Dan Iran Semakin Dekat

iran semakin dekat

Peradaban tua Persia (sekarang Iran) pada masanya pernah kuat menerabas sekat-sekat kebudayaan dan ras. Jejaknya sampai juga di Nusantara.

Oleh Silvia Galikano

Ruang pamer Museum Nasional, Jakarta meriah dengan suara musik Persia. Perhelatan besar Pekan Budaya Iran baru saja dibuka, siang itu, Rabu 7 Maret 2012, dan berakhir pada 13 Maret 2012.

Foto-foto Iran mutakhir mengisi dinding koridor. Ada foto perempuan berjilbab sedang  membidikkan senapan, foto reaktor nuklir Iran, serta foto tempat-tempat cantik yang sangat mengundang untuk didatangi.

Di ruang dalam, kerajinan khas Iran dipamerkan. Sejumlah perajin didatangkan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Kamyar Hakami salah satunya. Usianya mungkin sekira 40-an tahun.

Dia mengetukkan pelan palu kayu ke pahat. Palu di tangan kanan, pahat di tangan kiri. Mata pahatnya berjalan menyusuri pola di atas kayu berukuran 30 cm x30 cm, bertulis petikan ayat Quran. Tinggal sedikit lagi yang belum diukir.

Dia hentikan kegiatannya ketika disapa. Dengan bahasa Inggris yang patah-patah, Hakami jelaskan bahwa dia butuh 300 jam untuk menyelesaikan satu karya. “Kadang saya bekerja lima jam dalam sehari, kadang bisa sampai delapan jam.”

Kaligrafi itu diukirkan di kayu gerdo (sejenis jati) dan khaj (sejenis cemara), dua pohon yang banyak tumbuh di Iran. Dia tunjukkan mana karyanya yang berbahan gerdo dan mana yang dari khaj. Ukiran kaligrafi dari gerdo berwarna lebih tua dibanding khaj.

Ada juga kaligrafi yang kayunya terdiri dari dua warna, hitam dan cokelat.  “Semua ini adalah warna asli kayunya, tidak diberi pewarna apa pun,” ujar Hakami.

Meja M.Hossein Fanosichi banyak juga mendapat perhatian. Dia perajin kaca hias. Kaca polos yang mirip semprong dia panaskan hingga lentur, baru kemudian dibentuk dengan cara ditarik, ditekuk, dijepit, macam-macam caranya. Dan voila! Jadilah pajangan berbentuk angsa, daun, vas bunga, juga pohon mungil.

Dalam Pekan Budaya Iran ini, digelar juga diskusi tentang pengaruh Parsi bagi budaya di Nusantara dan kontribusinya bagi kebudayaan Islam.

Ambil contoh, jika selama ini kita mengira kata “syahbandar”, “daftar”, dan “ tamasya” berasal dari bahasa Arab, keliru ternyata. Kata-kata itu dari bahasa Parsi. Begitu juga “bazaar”, “acar”, “banda”, “kurma”, “nahkoda”, dan ”saudagar”.

Menurut akademisi yang juga sastrawan Abdul Hadi WM, ada 429 kata dalam bahasa Parsi yang diserap ke dalam bahasa Melayu, terjadi pada masa penyebaran Islam ke Nusantara pada abad ke-7 M. Pengaruh Parsi juga masuk dalam upacara keagamaan (seperti Assyura dan salawat badar), ragam hias, dan sastra.

Kubah yang sudah identik dengan Islam dan Arab itu ternyata asalnya bukan dari Arab, melainkan dari Persia zaman pra-Islam, merupakan kontribusi terbesar dinasti Sassanid (224 – 651 M) bagi dunia arsitektur.

Amir H. Zekrgoo, profesor Seni Islam dan Oriental, International Islamic University Malaysia memberi contoh Istana Serbistan yang sekarang masuk wilayah Serbia. Bangunan ini punya tiga kubah, dan kubah tengah berukuran paling besar.

Tercatat pula Taq-i-Kisra atau Iwan-e kesra, dibangun pada 400 M masa Kekaisaran Parthia. Lokasinya sekarang masuk wilayah Irak. Ketika diserbu bangsa Arab pada 637 M, bangunan ini disita dan dijadikan masjid. Lengkung (arch) besar di bagian depan ditiru dalam pembuatan masjid-masjid berikutnya.

Dari masa Sassanid pula lambang bulan sabit dan bintang yang kini menjadi lambang utama negara-negara Islam, seperti Malaysia, Pakistan, dan Turki. Masyarakat Parsi dulu menggunakan lambang itu dalam karya seni, astronomi, astrologi, dan mata uang mereka. Baru pada masa Ottoman (abad ke-13), simbol itu digunakan sebagai lambang mereka, dan kemudian menyebar ke negara-negara Islam lainnya.

Dipeluknya agama Islam oleh masyarakat Parsi memuluskan proses transfer seni ke agama baru mereka, dan mengantarkan seni  tersebut ke puncak estetika. Makin luasnya wilayah penyebaran Islam, menerabas batas ras dan budaya, makin banyak pula ditemukan domain seni Islam yang notabene berasal dari Persia.

***
Dimuat di Majalah Detik 16, 19-25 Maret 2012

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.