From Jogja with Hiphop

newyorkarto, jogja hiphop foundationBenar kiranya, lagu adalah bahasa universal. Hip hop yang dibungkus dalam bahasa Jawa itu membuat orang Jakarta terpingkal-pingkal.

Oleh Silvia Galikano

Layar sebagai latar panggung menampilkan  seorang bocah berkaus kutang, bercelana pendek, berjongkok di sebuah gang, menyanyi pelan, “Jogja! Jogja! Tetap istimewa// Istimewa negrinya, istimewa orangnya.”

Layar meredup, lampu kini disorotkan ke tengah panggung. Kill the DJ dan Soimah Pancawati menyanyikan Asmaradhana 388 yang bernada riang. Lagu tentang keesaan Tuhan ini tak lain adalah penggalan serat Centhini, karya sastra pada masa Sunan Pakubuwono V (awal abad ke-19).

Lirik Allah iku siji// kang amengkoni// ora ana lawan seolah “doa pembuka” bagi konser Newyorkarto: Orang Jawa Ngerap di New York oleh Jogja Hip Hop Foundation sepanjang dua jam. Konser ini menggegap-gempitakan Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB TIM) selama dua hari, 27-28 April 2012 dengan lagu-lagu hip hop berbahasa Jawa.

Lagu berikutnya, Sembah Raga, jadi lagu pertama bagi enam personil JHF tampil utuh di panggung.  Inilah gemasnya menonton hiphop sambil duduk manis. GBB tidak punya kelas festival yang berdiri itu, agar leluasa bergoyang. Kursi di GBB dan jarak antarkursi ke deret depan sempit pula. Tidak ada ruang untuk bergerak.

Nama Jogja Hip Hop Foundation (JHF) bukan nama yang sangat dikenal di Jakarta, kalah jauh terkenal dengan Ayu Tingting. Lain halnya di Yogyakarta, kota asal grup ini. Mereka sangat dikenal hingga di kalangan anak-anak. Lagu Jogja Istimewa yang sudah seperti mars resmi masyarakat Yogyakarta.

JHF didirikan Marzuki Mohammad pada 2003 untuk membantu para rapper berbahasa Jawa di Yogyakarta untuk berkembang dan dikenal. Beranggotakan Marzuki Mohammad (Kill the DJ); Balance Perdana Putra dan Heri Wiyoso (Jahanam); Janu Prihaminanto dan Lukman Hakim (Rotra); serta DJ Vanda, JHF meramu musik hip hop dengan budaya Jawa. Berawal dari manggung di kampung-kampung di Yogyakarta, hingga pada 2011, keenamnya berhasil tampil di New York, “kampung”-nya hip hop.

Ditengok dari repertoar malam itu, Sembah Raga pas sebagai lagu pembuka (jika Asmaradhana dianggap doa pembuka). Dia menggebrak, mengajak kita mengenal diri sendiri, selalu rendah hati, dan tak buta mengikuti hawa nafsu.

Pesan yang berat untuk sebuah lagu hip hop? Bisa jadi. Pasalnya lagu-lagu JHF umumnya diangkat dari puisi-puisi Romo Sindhunata. Puisi-puisinya cenderung panjang, berisi pesan tentang manusia dan kemanusiaan, dan berbahasa Jawa.

Pesan yang berat itu jadi sedap di tangan JHF. Dan jadi tak demikian berat sewaktu diselingi celetukan kakak beradik Djaduk Ferianto sang music director dan Butet Kertaredjasa yang jadi bintang tamu bersama Soimah, Iwa K., dan Saykoji. Ambil contoh usai JHF membawakan Rep Kedhep yang baitnya begini: Pring pring petung, anjang-anjang peli bunting// Ojo menggok ojo noleh, ono turuk gomblah gambleh

“Ini akibat yang nulis syair seorang pastur. Ngga bisa membedakan. Miskin imajinasi. Nirfantasi. Dia ngga tau kalau pelem (mangga, red.) itu penyebab bunting. Ini malah…” Butet tidak melanjutkan kalimatnya, penonton sudah riuh tertawa.

“Itu romo lho, jangan dimain-mainkan. Nanti marah,” sahut Djaduk.

“Marah gimana? Minoritas kok marah.” Tawa penonton meledak lagi.

JHF muncul lagi. Cintamu Sepahit Topi Miring, Gangsta Gap, Jula-juli Zaman Edan, dan Ngelmu Pring mereka bawakan dengan memukau. Saat JHF menyanyikan Cintamu Sepahit Topi Miring, layar menampilkan dokumenter sekelompok remaja berseragam mengoplos minuman keras. Realitas di Yogyakarta itu diangkat juga ke panggung. Sementara rekan-rekannya nge-rap dengan penuh semangat, Marzuki ceritanya teler di bibir panggung. Ada botol bir di sampingnya.

Dalang Ki Catur “Benyek” Kuncoro diberi porsi memainkan wayang JHF (personil JHF dibuat karakter wayangnya) dan Punakawan. Ada Petruk nge-rap yang isinya bikin terpingkal-pingkal. Tul jaenak jae jatul jaeji, kuntul jare banyak ndoge bajul kari siji// Tul jaenak jae jatul jaetu, wingi sore-sore Gareng iseng nggowo babu // Babu, babu lemu nggowo rante nuntun asu// Babune nesu-nesu rante diculke asu ngoyak aku.

Penutup konser ini, sudah tentu, tak ada yang lebih pas dibanding Jogja Istimewa. JHF muncul dari deret kiri-tengah penonton, berjalan horisontal ke tepi kanan, baru berbelok ke panggung. Kali ini penonton tak mau lagi duduk manis. Semua berdiri, mengayun-ayunkan tangan, bertepuk, hingga lagu habis.

Jogja! Jogja! Tetap istimewa// Istimewa negrinya, istimewa orangnya// Jogja! Jogja! Tetap istimewa// Jogja istimewa untuk Indonesia. Mari nyanyikan!

***
Dimuat di Majalah Detik 23, 7-13 Mei 2012

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.