Intrik dari Selinting Kretek

Image

Di akhir masa hidupnya, juragan kretek itu membuka tabir masa lalu keluarganya. Ada persaingan dagang dan kasih tak sampai yang berujung pada satu nama perempuan.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Gadis Kretek

Genre: Novel

Penulis: Ratih Kumala

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 274 halaman

Jeng Yah disebut-sebut romo Raja (baca: Royo) yang sedang sekarat akibat stroke. Dalam igauan, nama itu yang keluar dari bibir romo. Ibu, yang 37 tahun mendampingi Romo, tak urung cemburu karenanya. Mulut ibu pletat-pletot menggerutu, mangkel.

Tapi siapa Jeng Yah? Selama ini tidak pernah terdengar namanya kok ujug-ujug keluar dari bibir romo? Dan bertanya siapa Jeng Yah pada ibu artinya sama saja dengan menyakiti ibu dua kali lipat. Karenanya harus dicari cara lain untuk memecahkan teka-teki ini.

Tiga putra romo, Tegar, Karim, dan Lebas tergelitik untuk mencari tahu siapa Jeng Yah. Perempuan ini pasti sangat berarti bagi ayah mereka. Ketiganya menduga Jeng Yah hadir dalam kehidupan romo jauh sebelum anak-anak romo lahir, bahkan sebelum romo dan ibu menikah. Tapi menduga-duga saja tak menghasilkan apa-apa, harus ada yang berani menanyakannya pada romo atau pada siapa pun yang tahu.

Ternyata tak sesulit yang ditakutkan. Keesokannya, dalam suatu percakapan bisik-bisik antara Lebas dan romo, romo sampaikan ingin bertemu Jeng Yah. “… jangan bilang-bilang ibumu, ya. Ibumu pasti marah.”

Berbekal restu romo dan tanpa sepengetahuan ibu; Tegar, Karim, dan Lebas bertolak dari Jakarta ke Kudus,  karena di kota inilah dulu sekali romo terakhir kali bertemu Jeng Yah. Dan tak ayal, mencari siapa Jeng Yah membuat mereka menelusuri masa lalu keluarga. Ketika kretek Djagad Raja, yang berpabrik di Kudus dan sekarang dipimpin romo, belum lagi lahir. Pencarian bahkan hingga ke Kota M, kota asal kakek mereka, Mbah Djagad.

Lewat Gadis Kretek, Ratih Kumala, yang notabene bukan perokok, mengajak pembaca mengenal rokok yang entah bagaimana caranya, jadi demikian eksotik. Sangat Indonesia. Aroma tembakau, wangi cengkih, buruh linting yang tiap akhir hari telapak tangannya tebal berlapis sari kretek, gudang tembakau milik orang Tionghoa, dan persaingan usaha antarpabrik rokok gurem, semuanya sangat Indonesia.

Dari klobot sederhana yang awalnya digembar-gemborkan dapat mengobati asma, hingga  rokok kretek yang disemprot saus rahasia dan dilinting papier. Dari istilah bahwa rokok itu “diminum” hingga kemudian berganti jadi “diisap”.  Masa ketika rokok tidak diidentikkan dengan apa pun, misalnya citra jantan, dan belum dibenturkan dengan isu kesehatan.

Ngeses, istilah masyarakat Kudus untuk merokok. Mbako untuk menyebut tembakau. Woor untuk cengkih. Dan tingwe (linting dhewe), untuk rokok buatan sendiri, bukan rokok hasil pabrikan. Dan entah apa lagi bumbu rahasia yang diselipkan Ratih Kumala sehingga membaca Gadis Kretek terasa seperti membaca ruh negeri ini dan dalam waktu bersamaan menimbulkan sedikit sesal, mengapa saya tidak merokok? Maaf, sesalan yang konyol.

Baiklah, kembali ke Jeng Yah. Nama sebenarnya adalah Dasiyah. Perempuan cerdas putri pemilik pabrik rokok kretek Merdeka!, Idroes Moeria. Pesaing utama Merdeka! adalah rokok kretek Proklamasi milik Soedjagad yang tak lain teman masa kecil Idroes Moeria.

Persaingan Idroes Moeria dan Soedjagad sebetulnya sudah lama, sejak mereka sama-sama bujangan dan sama-sama memulai usaha klobot. Apapun terobosan yang dilakukan Idroes Moeria selalu diikuti Soedjagad. Dari rasa klobot, kemasan, merek, hingga pemasaran. Sebetulnya lagi, dua laki-laki itu  juga jatuh cinta pada satu perempuan yang sama: Roemaisa, namun Idroes Moeria yang beruntung bisa menyunting putri Juru Tulis ini. Keduanya beroleh dua anak perempuan, Dasiyah dan Rukayah.

Dasiyah pandai sekali membuat tingwe. Tingwe bikinannya jadi favorit Idroes Moeria dan teman wajib minum teh poci di sore hari. “Manisnya pas. Lebih enak, malah,” Idroes Moeria memuji tingwe bikinan Dasiyah. “Oo…mungkin air ludahmu yang bikin enak. Lebih manis.”

Tingwe itu jadi inspirasi Idroes Moeria untuk membuat satu merek rokok kretek lagi yang lebih enak. Dari sekian percobaan meramu saus, akhirnya saus buatan Dasiyah yang akan digunakan karena rasanya paling enak. Merek dagang sudah dipilih, yakni Kretek Gadis, dengan tagline “Sekali isep, gadis yang Tuan impikan muncul di hadepan Tuan.”

Soedjagad tak pernah jauh ternyata. Dia juga mengeluarkan mereka rokok baru: Kretek Garwo Koelo: “Kreteknya lelaki yang cinta istrinya.” Kretek Soedjagad ini jeblok di pasaran. Betapa tidak, jika mengisap Kretek Gadis, orang-orang diajak berfantasi tentang perempuan muda nan cantik, Kretek Garwo Koelo (istri saya) mengingatkan pada istri di rumah yang mungkin jarang dandan, pakaiannya nglombrot, dan cerewet.

Jebloknya Kretek Garwo Koelo bukan berarti selesainya Soedjagad menyaingi Idroes Moeria. Satu pintu tertutup berarti ada lima jendela terbuka, mungkin itu yang dia anut. Persaingan dagang jalan terus, bahkan dilanjutkan oleh generasi berikutnya, generasi Jeng Yah.

Terasa sekali Ratih Kumala membuat riset yang tidak main-main untuk karyanya yang ke-5 ini. Data dia sulamkan rapi di banyak tempat, namun tidak membuat pembaca sesak dengan jejalan informasi.

Yang mengganjal adalah cara penceritaan, yakni menjadikan Lebas sebagai “aku”. Mungkin karena Ratih perempuan, dan Lebas laki-laki, jadi ada yang tidak pas di situ. Kalimat-kalimat yang dilontarkan tiga bersaudara yang semuanya laki-laki itu terasa terlalu cerewet. Sebagai pembaca, saya lebih menikmati bab-bab tentang Idroes Moeria dan pergulatannya mengembangkan usaha ketimbang bagian yang mengisahkan pencarian Tegar, Karim, dan Lebas.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 21, 23-29 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s