Slank Tak Pernah Biasa

I Slank U, konser slank jakarta

Kecintaan penggemar tak memudar meski sudah hampir tiga dekade usia Slank. Mereka bahkan jadi inspirasi bagi musisi lain.

Oleh Silvia Galikano

 

Di atas panggung hidrolik, 2 meter lebih tinggi dari permukaan panggung, Bimbim menyobek celana merah ketatnya. Brettt! Brettt! Celana panjang itu tersisa hanya sedikit di bawah pangkal paha.

 

Aksi sobek celana itu dia lakukan usai membawakan Bidadari Penyelamat tanpa iringan musik. Hanya kor 3000-an penonton yang jadi pengiringnya. Satu lagu dibawakan lengkap hingga selesai, tanpa mengulang.

 

Bidadari Penyelamat hanyalah satu dari 20-an lagu yang dibawakan Slank pada konser I Slank U: The Journey of the Blue Island di Ballroom Ritz Carlton, Jumat 11 Mei 2012. Konser ini menandai 28 tahun Slank berkarya. Dalam 28 tahun itu Bimbim, Kaka, Ivan, Abdee, dan Ridho sudah menelurkan 19 album, ratusan lagu, dan tak terhitung manggung off-air.

 

Acara itu dibuka enam penyanyi yang bergantian membawakan lagu-lagu Slank, yakni Sashi, Kartika Jahja, Alexa, Naif, Pure Saturday, dan Dira Sugandi dengan kekhasan mereka masing-masing. I Miss You but I Hate You oleh Naif; #1 dibawakan Sashi; Kirim Aku Bunga oleh Kartika Jahja; Jakarta Pagi IniTerlalu Manis, dan Mawar Merah yang cenderung laid back dibanding versi aslinya, dibawakan Alexa. Sedangkan Kupu-Kupu Liarku di tangan Pure Saturday jadi bertempo cepat tetapi ringan.

 

Foto dalam Dompetmu disuguhkan Dira Sugandi dalam nada-nada rendah irama jazz bossanova. Suguhan yang sangat tidak biasa yang membuat lagu ini terdengar sensual, sensasi indera yang tidak didapat dari penyanyi aslinya karena jika mengikuti versi Slank, lagu ini adalah rock ballad.

 

Baru seusai acara, terbukalah rahasia bahwa ternyata lagu itu sedianya dinyanyikan Andien. Karena waktu yang mepet tidak memungkinkan mengubah aransemen agar sesuai dengan suara Dira, maka Dira lah yang harus menyesuaikan dengan aransemen yang sudah jadi.

 

I Slank U memang bisa dibilang proyek “Bandung-Bondowoso”. Perencanaannya sudah lama, tapi mendadak lima hari sebelum konser, lokasi dipindah, dari Mata Elang International Stadium Ancol ke Ballroom Ritz Carlton Pacific Place. Tujuannya untuk menyesuaikan konsep orkestra dan target penonton.

 

Selain lokasi, tanggal pun berubah, maju sehari, dari 12 Mei ke 11 Mei 2012 sehingga banyak rencana harus berubah, termasuk musisi pendukung. Pindahnya lokasi konser ke kawasan premium Jakarta ini “berakibat” pada berubahnya golongan penonton yang disasar. Bukan lagi Slankers berusia tanggung yang membawa atribut macam-macam, yang disebut Slankers Bendera, melainkan Slankers dewasa yang umumnya secara ekonomi sudah mapan. Slankers wangi, julukan mereka. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan.

 

Mbak-mbak dan mas-mas kantoran itu datang ke konser sepulang kantor, masih berbaju rapi, wangi, sempat nyalon dulu untuk nge-blow rambut, dan banyak perempuan mengenakan high heels. Rasanya ballroom beralas karpet tebal dan berpendingin udara ini lebih pas untuk mereka ketimbang lapangan terbuka yang kalau kepanasan, penontonnya berteriak minta disiram, “aiiir…aiiir.”

 

Setelah jeda sekira tiga menit usai tampilnya enam musisi pendukung, terdengar lamat-lamat choir dari Nusantara Symphony Orchestra menyanyikan sebait chorus Pulau Biru dan chorus Bang-bang Tut.

 

Sampailah choir itu di bagian bang-bang tut, bang-bang tut, bang-bang tut, bang-bang tut… yang makin tinggi, makin tinggi, makin tinggi, lalu bum! Gebukan cepat Bimbim menyambar. Suara Kaka masuk. Bang-bang tut akar kulang kaling// siapa yang kentut ditembak raja maling. Penonton sontak berjingkrakan. Lantai bergetar, dalam arti sebenarnya. Duh, konser ini di lantai 4 mal! Bukan stadion! Semoga tidak runtuh.

 

“Assalamualaikum…” Kaka menyapa penonton usai dia bawakan Tong Kosong. Dia kemudian membuka jaket, dan hanya mengenakan baju ungu tipis terawang yang memperlihatkan pusar dan petak-petak torso di baliknya. “Disuruh dipirit-pirit sama panitia,” ujarnya. Ini juga mungkin bedanya manggung di ballroom, dia masih segan untuk bertelanjang dada seperti biasa jika tampil di lapangan terbuka.

 

Suasana yang panas itu lalu ditenangkan dengan Virus. Awalnya hanya suara Kaka dan gitar Abdee mengiringi bait pertama. Lalu masuk teknik slide khas Abdee di interlude. Dia gesekkan jari kelingkingnya yang diselubungi tabung logam ke leher gitar, menciptakan lengkingan-lengkingan pahit dan putus asa ke lagu blues ini. Lengkingan itu terus terdengar meski interlude telah usai, dari rendah melonjak tinggi, turun sedikit, hingga fade-out.

 

Lebih dari 20 lagu dibawakan Slank dan penonton. Kalimat “dan penonton” tidak boleh ditinggalkan karena penonton ikut menyanyi di semua lagu selama 3,5 jam itu. Orang-orang kantoran ini ikut menyanyi keras-keras, mengacungkan jari telunjuk dan tengah, menyerukan “Piss”, salam khas Slank.

***
Dimuat di Majalah Detik 25, 21-27 Mei 2012

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.