Dan Jazz Tak Hilang Pesona

Image

Djarum Super Mild JakJazz 2012 sukses digelar setelah jeda dua tahun. Tetap mengedepankan kualitas dan artis internasional sebagai jualan utama.

Oleh Silvia Galikano

Keragu-raguan langsung patah begitu Incognito muncul. Waktu sudah hampir tengah malam, jam menunjuk pukul 23.35 WIB, saat pengusung acid jazz asal Inggris ini akhirnya tampil di panggung.

Selarut itu, dan bahkan mundur sampai 20 menit dari jadwal, penonton masih menyemuti Istora Senayan, tempat JakJazz Festival digelar. Mereka semua menunggu Incognito yang jadi penutup hari pertama JakJazz 2012.

Jean-Paul “Bluey” Maunick sang frontman dan delapan musisi lainnya langsung mengentak dengan lagu-lagu dari album terbaru mereka, Surreal, antara lain This Must Be Love, Ain’t It Time, dan Above the Name.

Lagu-lagu itu memang masih asing di telinga, tapi tidak bagi track jagoannya, Goodbye to Yesterday yang terasa akrab. Pasalnya videoklip Goodbye to Yesterday jadi video promosi JakJazz 2012 dan sudah diputar berulang-ulang setiap pergantian penampil di semua stage (total ada delapan stage). Jadi gampang saja bagi penonton mengikuti chorus-nya.

If this goodbye hurts I’m sorry// But it’s got to be this way// ‘Cos it’s time to say goodbye to yesterday.

Inilah kelebihan Incognito, terutama Bluey, yang pandai berkomunikasi dengan penonton. Berkomunikasi tentu bentuknya bukan cuma mengajak menyanyi bareng. Mereka tahu, penonton datang bukan hanya untuk menikmati musik –karena bisa lewat CD saja, tapi berharap tercipta kedekatan emosional satu sama lain. Karena itulah tiap selesai satu atau dua lagu, Bluey bercerita kepada penonton, kadang tentang latar belakang lagu, kadang tentang personilnya.

Contoh ketika dia memperkenalkan salah satu vokalis, Mo Brandis. Tidak cukup memperkenalkan namanya saja, Bluey juga ceritakan bahwa pemuda 26 tahun kelahiran Jerman ini ternyata pernah menjalani masa sekolah di Jakarta. Jakarta bukan kota yang asing bagi Mo Brandis. Penonton langsung menyambutnya dengan tepuk tangan.

Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Mo Brandis menyapa dalam bahasa Indonesia, “Apa kabar?” yang disahut riuh penonton, “Baiiik.”

Separuh pertama dari total 1,5 jam penampilan Incognito malam itu memang diisi dengan lagu-lagu dari album Surreal, dan mereka menyimpan karya-karya klasik di separuh terakhir.

Kerinduan penonton terobati ketika Bluey dan kawan-kawan akhirnya membawakan Colibri (dirilis pada Januari 1992) yang sangat dikenal di Indonesia. Saking terkenalnya, Bluey bercerita, pernah suatu kali dia ke Indonesia menemukan nomor instrumentalia ini dimainkan sampai 15 kali di berbagai kesempatan.

Lantas mengalun Still A Friend of Mine, Don’t You Worry ‘Bout A Thing, serta Niles of the Egypt. Dan kejutan bagi penonton adalah munculnya Dira Sugandi yang sedang hamil 5 bulan sebagai bintang tamu, membawakan Talkin’ Loud. Sekadar informasi, sebelumnya Dira pernah ikut tur Incognito ke Singapura, Jepang, Bandung, dan Bali.

Selain Incognito di stage 1 (indoor), yang juga berhasil menyedot penonton adalah Trisum di stage 2 (outdoor). Bangku yang disediakan untuk sekira 100 penonton penuh terisi, dan bahkan lebih banyak lagi penonton yang berdiri. Trio gitaris Tohpati, Dewa Budjana, dan Balawan membawa suasana segar, ditambah hadirnya Muhammad Iqbal (drum) dan Adhitya Pratama (bas).

Selain Rahwana, Guitar in the Midnight, dan Bubi’s, Trisum menuai tepuk tangan saat membawakan Keroncong Kemayoran, lagu keroncong karya Ismail Marzuki yang mereka improvisasi habis-habisan, menghasilkan etno-jazz yang menarik.

Mezzoforte tampil terakhir pada hari ke-2 dan ke-3 JakJazz Festival. Grup funk-fusion asal Islandia itu membawakan Early Autumn yang lembut dan Rockall yang mezzo forte, dan tentu saja Garden Party yang bikin penonton langsung berdiri dari duduknya, tak cukup kalau hanya menggerakkan pundak.

Garden Party ini yang pada 1983 membuat nama Mezzoforte melesat. Kala itu memang fusion sedang tren. Di Indonesia, kita mengenal grup band Karimata, Katara Singers, Krakatau, dan Modulus yang juga mengusung genre serupa pada era yang sama.

Tentu saja selain penampil dari mancanegara, para penampil dalam negeri seperti Glenn Fredly, Gilang Ramadhan, Maliq & D’Essentials, serta Idang Rasjidi juga mendapat sambutan meriah. Begitu pula dengan Syaharani & The Queenfireworks yang jadi pembuka di stage 1.

Range suara Syaharani yang lebar membuat You Only Live Twice yang aslinya dinyanyikan Nancy Sinatra dan I Say A Little Prayer oleh Aretha Franklin jadi punya nuansa baru. Pas sebagai pemanasan sebelum keliling dari stage ke stage sampai lewat tengah malam. Masih harus menunggu setahun lagi Jakarta menghelat festival jazz sebagus ini. Kalau begitu, sampai bertemu di JakJazz 2013.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 48, 29 Oktober-4 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s