Dari Masterpiece Usmar Ismail

Image

 

Karena kepedulian lembaga luar negeri, satu harta seni Indonesia terselamatkan. Apa kabar pengarsipan di Indonesia?

Oleh Silvia Galikano

Judul: Lewat Djam Malam
Sutradara Usmar Ismail
Produser: Djamaludin Malik
Penulis Asrul Sani
Pemeran A.N. Alcaff, Netty Herawati, Dhalia, Bambang Hermanto
Durasi 101 menit

 

Tengah malam yang sepi di Bandung. Indonesia belum lama reda dari revolusi fisik. Jam malam diberlakukan. Selepas pukul 10 malam, tidak ada yang boleh keliaran di jalan.

Iskandar (A.N. Alcaff), pemuda yang baru keluar dari medan perang, tak tahu perkara jam malam ini. Menyandang ransel  kecil, dia menyusuri jalan Bandung sekeluar dari stasiun kereta api. Rumah tunangannya yang dituju bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Di kejauhan, sorot lampu jeep polisi yang sedang patroli mengarah kepadanya. Makin lama makin dekat, makin dekat. Awalnya Iskandar berjalan biasa, tapi kemudian lari semakin cepat ketika sadar dialah yang disasar. Sampai di kelokan, polisi kehilangan buruan. Iskandar bersembunyi di balik pagar rumah yang dituju.

Walau bukan lagi masa revolusi dan sudah memutuskan keluar dari ketentaraan, Iskandar tak kunjung hilang gelisahnya. Tunangannya, Norma (Netty Herawati), tak berhasil menenangkan Iskandar. Dia terus diburu rasa bersalah telah membunuh satu keluarga pada saat revolusi, walau itu atas perintah komandannya, Gunawan.

Terlebih ketika dia tahu Gunawan kini hidup berkecukupan sebagai pengusaha. Dari mana modalnya? Benarkah dari perhiasan milik keluarga yang dia bunuh dulu itu? Sekarang Gunawan berniat menggunakan lagi jasa Iskandar untuk melenyapkan saingan bisnisnya.

lewat-djam-malam_adegan_lf-l014-54-609457_dhalia_img_photo
Dhalia yang berperan sebagai PSK. (Foto: istimewa)

Film berdurasi hampir 2 jam itu bercerita tentang kejadian selama 24 jam, dari jam malam ketika Iskandar baru tiba di Bandung hingga jam malam berikutnya ketika sekali lagi dia melanggar jam malam. Alur berjalan lambat namun padat mengiringi kekalutan pikir Iskandar.

Aktor-aktor hebat berkumpul di sini. Selain Alcaff dan Netty Herawati, ada Bambang Hermanto yang berperan sebagi Puja, anak buah Iskandar dalam revolusi. Usai perang, Puja menjadi germo dan doyan judi. Karakter kuat ada di Dhalia yang berperan sebagai PSK dengan obsesi jadi nyonya kaya akibat kecewa pada suaminya.

Tidak heran jika Lewat Djam Malam mendapat empat piala dalam Festival Film Indonesia (FFI) pertama tahun 1955. Masing-masing untuk Pemeran Pria Terbaik (A.N. Alcaff), Pemeran Wanita Terbaik (Dhalia), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Bambang Hermanto), dan dinobatkan sebagai Film Terbaik bersama Tarmina (1954) karya Lilik Sudjio.

Lewat Djam Malam sudah mengundang penasaran penonton dalam negeri sejak film ini terpilih untuk direstorasi, lalu diputar di Festival Film Cannes pada Mei 2012 dalam sesi Cannes Classic.

Adalah National Museum of Singapore (NMS) pada 2010 berkeinginan merestorasi lalu memutar salah satu film klasik Indonesia. Konfiden, Kineforum, dan Sinematek Indonesia mengusulkan Lewat Djam Malam, karya besar Usmar Ismail produksi 1954 yang disebut-sebut sebagai film Indonesia terbaik sepanjang masa.

Kemudian dukungan datang dari Martin Scorsese melalui lembaga yang didirikannya, World Cinema Foundation (WCF). Lembaga ini menanggung separuh dana yang dibutuhkan untuk merestorasi Lewat Djam Malam, yakni 50 ribu euro atau setara Rp700 juta. Sebelumnya, dana sepenuhnya ditanggung NMS sebesar 200 ribu dolar Singapura (Rp1,4 miliar).

Restorasi dilakukan di laboratorium khusus restorasi film, L’Immagine Ritrovata, di Bologna, Italia. Masalah utama Lewat Djam Malam adalah jamur tumbuh di seluruh bagian seluloid. Jamur ini hidup dan makin meluas. Jika dibiarkan, gambar di seluloid akan hilang.

Sebagian besar jamur memang bisa dibersihkan saat restorasi. Yang tidak dapat diangkat adalah di frame-frame yang ada adegan pergerakan di dalamnya, seperti adegan Iskandar lari dikejar patroli. Meski demikian kemungkinan jamur ini hidup dan terus melebar sudah dihentikan.

Masalah lain adalah suara yang hilang sepanjang 106 detik di tengah adegan. Solusi untuk masalah ini adalah dengan menambal suara itu menggunakan copy film milik Sinematek Indonesia.

Di Lewat Djam Malam tergambar bagaimana perebutan klaim antara sipil dan militer tentang siapa yang paling berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Selain itu, mereka yang lahir di “zaman pembangunan” dapat melihat bagaimana Bandung enam dekade lalu, sewaktu masih hijau, asri, dan “masih pantas” menyandang julukan Kota Kembang.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 31, 2-8 Juli 2012

lewat1lewat3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s