Dari Panggung Agung Sang Panglima

Image

Matah Ati sekali lagi memukau penonton Jakarta. Bersiap dibawa ke “kampungnya”, Solo, September nanti.

Oleh Silvia Galikano

Laskar Putri dengan caping lebar, di bawah komando Matah Ati (Rambat Yulianingsih), bergerak mengendap-endap di balik pepohonan. Pasukan Belanda yang ada di hadapan tak menyadari bahaya mengancam. Di bawah satu komando, para perempuan itu melempar caping maut mereka ke arah kepala tentara. Seketika pasukan Belanda itu terkapar.

Kali lain, Laskar Putri yang berisi Prajurit Caping, Prajurit Pistol, dan Prajurit Gendewa, membaur dengan pasukan Raden Mas Said (Fajar Satriadi). Dengan formasi setengah lingkaran, mereka mengepung tentara Belanda.

Prajurit gabungan itu terus merangsek maju. Belanda yang terdesak tak henti juga memberi perlawanan. Walau banyak jatuh korban, namun pada akhirnya Perang Besar itu dimenangkan pasukan Raden Mas Said. “Tiji Tibeh” jadi slogan Raden Mas Said, akronim dari mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, sejahtera satu sejahtera semua).

Pergelaran sendratari kolosal Matah Ati masih menyedot kekaguman penonton seperti halnya pada 2011 ketika dipentaskan di Teater Jakarta TIM, atau ketika pertama dipertontonkan di Esplanade Theatre, Singapura, Oktober 2010.

Untuk tahun ini, Matah Ati dipentaskan di Teater Jakarta pada Jumat 22-25 Juni 2012. Matah Ati juga akan dibawakan di Halaman Istana Mangkunegaran Solo 8-10 September 2012 dan pada Konferensi Federation for Asian Cultural Promotion (FACP) di Solo 6-9 September 2012.

Matah Ati bercerita tentang Rubiyah, perempuan jelata asal dusun Matah di abad ke-18. Adanya cahaya di diri Rubiyah menarik hati Raden Mas Said, seorang kesatria dari Surakarta, yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo. Raden Mas Said lalu membawa Rubiyah ke Surakarta, melatihnya dengan ilmu kanuragan dan olah perang, serta membentuknya jadi sosok prajurit yang tangguh. Sebegitu ilmunya mencukupi, Rubiyah diangkat jadi panglima perang.

Usai Perang Besar, Matah Ati dan Raden Mas Said menikah. Raden Mas Said mendapat gelar KGPA Mangkoenagoro, dan Rubiyah diberi nama BRAy Kusuma Matah Ati karena lahir di desa Matah, atau namanya bisa diartikan melayani hati Sang Pangeran. Merekalah yang kemudian menurunkan para kesatria utama penguasa Pura Mangkunegaran.

Pementasan Matah Ati yang dibagi dalam delapan babak dan 17 adegan ini sepenuhnya dibawakan dalam bahasa Jawa dan dengan konsep dasar mengacu pada Langendriyan (Opera Jawa) yang diciptakan Mangkoenagoro IV.

Di setengah pementasan, Atilah menyelipkan goro-goro, babak yang jamak dalam ketoprak. Goro-goro berisi nasihat tapi disampaikan secara ringan dan tidak terikat pakem.

Yang istimewa, goro-goro di Matah Ati dibawakan perempuan. Empat mbok-mbok berbadan subur, berdandan menyolok, membawa bakul, tampah, sapu, dan kukusan. Setelah keempatnya sahut-menyahut membanyol, tiga di antaranya menyanyi lagu berbahasa Spanyol Quisas Quisas Quisas sambil joget seru.

Saat lagu baru satu bait, satu orang mbok yang tidak ikut menyanyi menyuruh mereka berhenti. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, omongan mbok itu kira-kira artinya, “Kalian ini orang Jawa kan? Kenapa hilang kejawaannya? Nanti kalau dicaplok tetangga baru ngamuk-ngamuk.”

Penonton tertawa lepas melihat Quisas Quisas Quisas bisa dibelokkan mbok-mbok itu ke kasus hebohnya media memberitakan Tortor yang hidup di Malaysia. Sama sekali tidak terduga, dari lagu Spanyol bisa melipir ke Malaysia.

Atilah Soeryadjaya yang bekerja rangkap sebagai penulis naskah, produser, sutradara, dan perancang kostum, membawa tradisi tiga abad lampau itu ke kinian. Dialah otak di balik karya besar ini. Atilah, yang adalah cucu Mangkoenagoro VII, membuat cerita, tari, musik, hingga kostum untuk Matah Ati didasarkan pada riset dan proses selama 2,5 tahun.

Sama dengan pementasan sebelumnya, Jay Subyakto masih mempertahankan panggung miring 15 derajat. Tujuannya agar efek dramatis koreografi tampak jelas dari bangku penonton, seperti gerak Prajurit Caping yang berbaris rapat lalu serempak melemparkan caping mereka. Inspirasi panggung miring ini didapat Jay saat berziarah ke Astana Selogiri, makam Rubiyah, yang lokasinya di perbukitan.

Tulisan Jay dalam buku panduan pergelaran bisa dijadikan catatan menarik untuk penutup tulisan ini: Pertunjukan Matah Ati sukar dijelaskan jenis penamaannya ketika banyak yang bertanya seperti apa atau bentuk kesenian macam apa ini? Padahal ini adalah bagian dari sejarah Indonesia. Kesenian telah lama dikucilkan dan dikesampingkan. Mungkin hanya bangsa ini yang tidak malu ketika tidak mengetahui sejarah dan kebudayaan bangsanya sendiri.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 31, 2-8 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s