Ireng Maulana: Jazz Sangat Memengaruhi Musik Kita

Image

Meskipun kacau-kacau, kita sudah bisa memfokuskan pada inilah acara jazz. Kita juga ingin mengembalikan ke konsep festival yang sebenarnya. Dan (artis) lokalnya luar biasa sekarang.

Oleh Silvia Galikano

Menyebut musik jazz Indonesia belum sah kalau belum menyebut nama Ireng Maulana. Selain musisi sebagai jazz senior yang malang melintang di panggung-panggung jazz bersama bandnya, Ireng Maulana All Stars, dialah penggagas Jakarta Jazz Festival (JakJazz Festival) pada 1988. Inilah pelopor festival musik jazz internasional di Indonesia.

Tahun ini, di gelaran ke-13, nama lengkap acaranya adalah Djarum Super Mild JakJazz 2012 . Selama tiga hari, yakni 19,20, 21 Oktober 2012, penggemar jazz dihibur musisi hebat macam Tompi, Glenn Fredly, Andien, Indra Lesmana, Kiboud Maulana, dan Gilang Ramadhan. Sedangkan jajaran musisi internasional diisi, antara lain Incognito, Mezzoforte, Jeff Lorber Fusion, dan Curtis King.

Dalam perjalanannya, festival ini sudah melibatkan ribuan musisi lokal dan mancanegara, yakni lebih dari 30 negara Amerika, Eropa, dan Asia, serta tak terhitung lagi jumlah penontonnya. Ireng Maulana terus mengawal “anak spiritual”nya itu hingga kini sudah menginjak remaja.

Silvia Galikano dari majalah detik sempat berbincang-bincang dengan Ketua Panitia Djarum Super Mild JakJazz 2012 Ireng Maulana usai jumpa wartawan pada Kamis 18 Oktober 2012 di Istora Senayan, Jakarta.

 

Sudah 12 JakJazz Anda tangani, dan nanti yang ke-13.  Masih punya energi?

Selalu. Selalu punya energi untuk JakJazz Festival. Dia lain dari semua festival. Tapi basic-nya luar biasa, (aliran) dixieland.  Band saya kan band dixieland. Kalau bisa tahun depan ada tiga dixieland.

Bagaimana awalnya Anda membuat JakJazz ini?

Awalnya saya diminta Taman Ismail Marzuki untuk membuat satu event jazz nasional. Saya ke Makassar, Surabaya, Medan, sama juga. Di sini, di Jakarta, lebih bagus. Saya lari ke Kedutaan Amerika. Dari sana saya bertemu orang Filipina yang mengajak bikin coffee break di Ancol, ada 21 kedutaan ikut. Mereka semua setuju. Saya dapat 18 negara pertama. Itu JakJazz pertama, tahun 1988 di Taman Impian Jaya Ancol.

JakJazz sempat vakum setelah gelaran ke-12 pada 2010. Bisa dijelaskan?

Saya kurang mampu lagi diburu-buru begitu. Capek mengejar sponsor. Belum lagi dikejar produksi. Jadi berantakan. Jadi saya cari partner. Partner yang sekarang (Shark Communication) bagus.

Hampir semua musisi yang diajak JakJazz 2012 ini bisa. Syaharani bisa, Tompi bisa, Debbie Likamahua, Kiboud Maulana ikut, Indra lesmana, Andien, Afgan. Hampir semua bisa. Afgan seharusnya main hanya Jumat dan Sabtu karena Minggu dia harus balik lagi ke Malaysia karena kuliah di sana. Dia bilang, “Gua ngga pulang, gua ngga pulang. Gua mau main di sini, di JakJazz.” Bagus. Luar biasa bagus.

Tahun inilah sebenar-benarnya JakJazz itu karena meskipun kacau-kacau, kita sudah bisa memfokuskan pada inilah acara jazz. Kita juga ingin mengembalikan ke konsep festival yang sebenarnya. Dan (artis) lokalnya luar biasa sekarang. Mereka sekarang latihan semua. Bukan kayak main biasa lho.

Bagaimana Anda menganggap festival-festival jazz lainnya? Sebagai pesaing atau bagaimana?

Tidak pernah merasa bersaing dengan siapapun. JakJazz punya cita-cita yang khas, yaitu Jakarta, karena itu namanya Jakarta International Jazz Festival. Jakarta-lah titik beratnya. Kemarin saya ngomong sama Pak Jokowi, “Pak acaraku selalu dibuka gubernur.” Tapi beliau besok (Jumat 19 Oktober, hari pembukaan JakJazz Festival) ada di Solo. Saya tidak tahu besok beliau bisa kemari atau tidak. Kalau bisa pasti telepon.

Bagaimana gambaran ideal JakJazz menurut Anda?

Saya ingin JakJazz melibatkan kedutaan-kedutaan, delapan atau 10 negara ikut, kemudian kita berkolaborasi, karena hubungan kita yang baik dengan kedutaan-kedutaan. Kedutaan kan menampilkan jazzer yang ulung-ulung tapi tidak terlalu komersil. Acara ini kemudian ditangani oleh siapa yang bisa. Dari awalnya kita punya rencana begitu, tapi sekarang baru ada satu kedutaan, Kedutaan Besar Belanda. Dan prinsip kita berkarya itu yang luar biasa. Jangan lupa lho, orang kayak saya di luar negeri kurang diunggulkan. Kalah sama banyak sekali musisi muda.

Tadi sempat tampil beberapa musisi muda, di bawah 15 tahun. Anda sengaja mengadakan regenerasi musisi jazz?

Ya. Luar biasa. Makanya tadi saya tampilkan anak umur 5 tahun, 10 tahun. Yang tadi itu pertama kali main sama orang lain, bingung. Saya diemin aja, biar jelek, biar bagus. Tapi ternyata mereka tampil sempurna. Mereka tampil Sabtu tanpa latihan lho. Memang sengaja (tanpa latihan). Kalau tanpa latihan mereka bisa terkaget-kaget ternyata musiknya bagus. Tadi juga bagus tanpa latihan. Jazz itu kan dari soul. Dengan sendirinya nada itu keluar dari jiwa.

Anak-anak yang tampil tadi anak didik Anda?

Saya tidak didik. Kalau ada acara-acara seperti ini, saya selalu bilang, “Datanglah dengan anak-anakmu.” Kita akan dapat talenta-talenta bagus.

Saya diminta main oleh Pondok Indah Mall. Saya bingung mau main apa? Sampai lima hari saya bingung. Lalu saya ingat, kalau saya tidak main, teman-teman yang muda ini tidak main, padahal mereka perlu pekerjaan. Akhirnya dapat kerjaan, Sabtu dan Minggu. Sekarang sudah enam tahun. Mereka main bergantian, penyanyinya ganti terus. Vokalis dua, pemain saksofon, pemain gitar, pemain piano.

Besok (Jumat) ada enam anak muda yang main. Regenerasi itu terus menerus. Ada saja yang bawa anak mereka, dari Bandung, dari Medan.

Ada syarat untuk boleh bergabung?

Tidak ada syarat. Itu yang bikin mereka tertarik. Datang saja. Jelek juga kita ketawain saja, “Masih jelek saja masih mau nyanyi.”

Saya juga cari pemain jazz lokal di daerah-daerah. Hasilnya itu-itu saja. Pusatnya di Jakarta. Sekarang sudah luar biasa, bagus sekali. Di daerah juga bagus.

Menurut Anda, jazz sekarang sudah diterima luas, tidak lagi musik eksklusif?

Musik jazz sekarang sudah berkembang. Ke mana saja kita jalan, misalnya ke Papua, itu penonton penuh sekali. Syaharani manggung, luar biasa penuh. Indra Lesmana, penuh. Glenn Fredly juga. Ireng Maulana, Idang Rasjidi, Margie Siegers, penuh. Mereka punya gaya-gaya tersendiri yang sangat khas Indonesia. Bisa dibilang jazz sudah sangat mempengaruhi selera musik orang Indonesia.

***
Dimuat di Majalah Detik 22-28 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s