Petualangan Pi di Tangan Ang Lee

life of pi, ang lee

Selama tujuh bulan, remaja ini terombang-ambing di laut. Kawannya hanya satu: macan Benggala yang buas.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Life of Pi

Genre: Petualangan, drama

Sutradara: Ang Lee

Skenario: David Magee

Produksi: 20th Century Fox

Pemain: Suraj Sharma, Irrfan Khan, Aidil Hussain, dan Rafe Spall

Durasi: 127 menit

 

Ang Lee semakin menunjukkan kelasnya. Di Brokeback Mountain, dia mengagetkan kita melalui film sederhana tapi berisi adegan-adegan yang demikian intens. Di Crouching Tiger, Hidden Dragon, Ang menyuguhkan permainan pedang cantik di atas lambaian hutan bambu. Kini, di Life of Pi, dia menggali habis-habisan seluruh sudut teknologi 3D. Ang Lee tidak tanggung-tanggung dan tidak basa-basi ber-3D.

Idenya untuk memfilmkan novel laris karya Yann Martel, Life of Pi (2001), sejak awal sudah mengundang pertanyaan banyak pihak. Mulai dari apanya yang akan difilmkan? Pi bakal adu dialog dengan siapa? Dan pertanyaan paling besar adalah bagaimana menempatkan macan Benggala seberat 225 kilogram dalam satu perahu hampir sepanjang film?

Tapi itu tadi, Ang Lee punya kelas tersendiri. Jadilah Life of Pi, satu-satunya film tentang seorang remaja dan seekor macan. Pi (diperankan pendatang baru Suraj Sharma) adalah remaja India yang tinggal di Pondicherry, koloni Prancis di India bagian selatan. Dia dan keluarganya tinggal di kompleks kebun binatang karena ayahnya mengelola kebun binatang.

Ibunya dibuang keluarga besar karena nekat menikah dengan laki-laki yang berkasta lebih rendah. Perempuan ini seorang vegetarian, sedangkan ayahnya penyuka daging kambing. Pi “dasarnya” seorang Hindu yang vegetarian, tapi dia juga meyakini Kristus dan menikmati shalat –terlebih berjamaah- karena memberi rasa tenteram. Selain agamanya yang nyentrik itu, keseharian Pi sama seperti anak-anak India lainnya yang mengalami masa kecil pada era 1970-an.

Suatu hari ayahnya memutuskan untuk memindahkan keluarga berikut kebun binatang ke Kanada karena kebijakan baru pemerintah yang akan mengubah kebun binatang jadi kebun raya. Mereka, berikut seluruh binatang, menumpang kapal Tsimtsum berbendera Jepang menuju Kanada.

Ketika kapal yang mereka tumpangi sampai di Samudera Pasifik, terjadilah badai dahsyat di tengah malam yang membuat kapal terlempar-lempar. Kabin bocor mendadak sehingga kapal tenggelam hanya dalam hitungan menit.

Pi bisa selamat karena dilemparkan ke sekoci. Seluruh keluarganya tewas. Pi tidak sendiri di sekoci karena ikut pula seekor zebra yang patah kaki, seekor hyena, seekor orangutan, dan seekor macan. Zebra, hyna, dan orangutan tak bertahan lama karena hukum makan-dimakan tetap berlaku walau di tengah laut. Maka tersisalah macan dan Pi di atas sekoci. Siapa yang akan jadi puncak rantai makanan?

Interaksi dua makhluk inilah sebagian besar isi film. Selama tujuh bulan terapung-apung, keduanya jadi saling kenal. Jika sebelumnya Pi berutang nyawa pada Richard Parker karena menyelamatkannya dari serangan hyena, kini Pi jadi penolong dengan memancingkan ikan dan menampungkan air hujan untuk kawannya itu.

Berbulan-bulan terapung di laut, keduanya jadi sama-sama kurus, sama-sama kelaparan. Masalahnya Pi bukan pemancing yang baik. Suatu ketika dia dapat ikan lumayan besar, segera saja Richard Parker melompat ke arah Pi hendak mengambil tangkapan superlezat itu.

Tapi kali ini Pi tak mau berbagi.  “Hah!!! Itu milikku!!!” Pi menghardik sambil mengacungkan pisau. Richard Parker sempat memberi tatapan tidak percaya, tapi kemudian dia balik badan, kembali ke sudutnya di sekoci.

Ang Lee memang tidak berupaya “menjinakkan” Richard Parker, tapi justru di sini gregetnya. Interaksi Pi dan Richard Parker jadi menyentuh dengan cara yang tidak biasa, bukan seperti film yang menampilkan remaja dengan hewan piaraannya.

Yang paling mencengangkan adalah visualnya, yang membuat sejumlah momen jadi demikian dramatis. Sinematografer Claudio Miranda menyuguhkan gambar-gambar luar biasa dengan kombinasi warna menakjubkan seperti paduan warna pastel, terang, dan glossy , mewakili dunia realis Pi.

Salah satu visual tercantik adalah cerlang bintang-bintang yang terpantul di laut hingga nampak jelas ikan berenang hanya sejarak 10-15 centimeter dari permukaan air. Mereka semua bersinar. Puisi visual apik dan berada di tangan yang tepat.

Dan wujud dari penggarapan teknologi yang tidak tanggung-tanggung itu menjelma dalam Richard Parker. Ya, Suraj Sharma tidak beradu akting dengan macan! Sepanjang proses syuting, dia hanya berhadapan dengan udara. Di tangan Ang Lee, macan yang tadinya tidak ada itu mewujud sebagai Richard Parker yang demikian nyata, dengan mata yang hidup, auman yang mengerikan, dan tangkapan kaki depan yang cepat.

Ang Lee tak hanya berhasil mematahkan anggapan bahwa Life of Pi tak mungkin difilmkan, dia bahkan membuat fabel inspiratif yang luar biasa ini sebagai salah satu karya terbaiknya.

***
Dimuat di Majalah Detik 54, 10-16 Desember 2012

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.