Pesta Sarongge di Kaki Gunung

Di Sarongge, hutan tetap hijau. Para tamu yang datang senang. Penduduk sekitar pun riang. Ada pesta digelar.

Oleh Silvia Galikano

Foto-foto: Silvia Galikano

IMG_8597

Ini pagi yang tidak biasa bagi Zeni dan Azis. Juga bagi penduduk Sarongge. Kampung di Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat itu akan menggelar pesta.

Demi pesta itu Zeni dan Azis harus berdandan dari pagi.  Zeni mengenakan jas takwa, bendo (belangkon), dan di atas bibirnya digambari kumis baplang. Azis yang laki-laki itu berkebaya, berkerudung, berbedak cemong, dan pipinya digambari tompel. Zeni dan Azis akan berperan jadi tetua adat Sunda yang akan menyambut tamu. Zeni jadi Paman Lengser dan Azis jadi Nenek Lengser. Bersama kawan-kawannya dari SD Nyalindung III Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, mereka siap menyambut tamu penting, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Sang Menteri akan meresmikan pesta mereka yang dinamai Festival Sarongge.

Sekira pukul 10 sang tamu datang. Dan dimulailah pesta itu. Tari Rampak Gendang oleh enam penari Sanggar Kutalaras Cianjur sontak menghangatkan pagi.

IMG_8655
Zeni dan Azis

Dari 29 Juni hingga 1 Juli 2013, Kampung Sarongge yang ada di Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat meriah oleh tari jaipong; permainan tradisional egrang, congklak, gobaksodor; serta pentas wayang golek. Produk-produk khas Sarongge juga dipamerkan selama tiga hari itu, semisal puding ubi ungu, teh hijau, moci “berbedak” susu bubuk, serta olahan unik mangga pedas dan cabai manis. Ada pula sayur organik dan sabun sereh yang bahan utamanya dari kampung ini.

Festival Sarongge yang baru pertama diadakan ini adalah medium untuk menggelar potensi lain Sarongge selain hanya sebagai desa yang punya kebun sayur dan kebun teh. Masyarakatnya kini tak lagi menjadikan perkebunan sebagai satu-satunya sandaran hidup.

Letak Desa Sarongge tepat di perbatasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Pada 2003, kawasan TNGGP diperluas dari 15 ribu hektare menjadi 22 ribu hektare. Selisih luasan itu tadinya kawasan hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani. Sebagian besar lahannya telah terdegradasi dan di beberapa areal dijadikan kebun sayur. Setidaknya ada 155 kepala keluarga yang bercocok tanam di sini, umumnya masyarakat Sarongge.

Konsekuensi perubahan status dari areal milik Perum Perhutani menjadi kawasan taman nasional adalah petani penggarap di sana harus angkat kaki karena fungsi lahan akan dikembalikan jadi hutan primer. Karena itu TNGGP membuat program pemberdayaan bagi petani penggarap tersebut dan menjadikan petani mandiri.

Program awal TNGGP adalah adopsi pohon di areal seluas 5.000 hektare (tadinya kebun sayur), pada pertengahan 2008. Perorangan atau kelompok bisa mengadopsi pohon dengan jangka waktu adopsi 3 tahun.

IMG_8672
Sabun sereh

Yang diadopsi adalah pohon endemik dan langka, seperti ki hujan (Engelhardia spicata), rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis argentea), paku siur (Cyathea latebrosa), dan bubukuan (Strobilanthes cernua Blume). Biaya adopsi Rp108.000 per pohon, digunakan untuk penanaman (Rp37.800), manajemen (Rp16.200), dan pemberdayaan masyarakat (Rp54.000).

Melalui adopsi pohon, masyarakat yang awalnya jadi pembalak liar, kini beralih jadi penjaga dan pelestari hutan karena biaya untuk pemberdayaan masyarakat yang Rp54.000 itu diserahkan tunai ke masyarakat. Sedangkan adopter akan mendapat sertifikat adopsi pohon, pencantuman nama di lokasi adopsi,  penghargaan dalam media, serta laporan perkembangan tiap semester. Sampai Maret 2013 sudah 24 ribu pohon ditanam di areal 60 hektare.

Pemberdayaan masyarakat dilakukan juga di bidang peternakan, lebah madu, pengrajin kain sutra, sereh wangi, dan pertanian organik. Di bidang peternakan, petani sayur-sayuran ini mendapat pembagian 40 ekor kambing untuk dikembangbiakkan pada 2009. Satu petani mendapat tiga ekor kambing. Selain kambing, dibagikan juga domba, kelinci, dan lebah madu.

IMG_8847
Batik Cianjur

Hasilnya, hingga Januari 2013 tercatat 83 ekor kambing dewasa dan 69 ekor kambing anak dengan total penjualan 55 ekor dewasa dan 73 ekor anak.

Udan, salah satu penerima bantuan kambing, sekarang punya enam ekor kambing dan merawat 15 ekor milik orang lain. Sebentar lagi dia akan melepas dua kambingnya karena sudah di-booked pembeli untuk Lebaran nanti: satu berumur 7 bulan seharga Rp1,2 juta dan satu lagi berumur 3 tahun seharga Rp3 juta.

Di kawasan seluas 2 hektare, pada 2010 dibangun Camping Ground yang dilengkapi fasilitas tenda, rumah pohon, dapur, dan toilet umum. Tersedia menu selusur sungai dan air terjun Ciheulang. Bisa juga sekadar jalan-jalan di kebun teh, jalan-jalan di kebun organik, sepeda gunung, bird watching, dan ikut mengadopsi pohon sambil mengenal jenis-jenis tanaman endemik.

Ingin memperpanjang masa tinggal, rumah penduduk siap diinapi (homestay) dengan biaya Rp75.000 per malam sudah termasuk sarapan. Seluruh kegiatan ini dikelola petani yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada kebun sayur. Leuweung hejo, resep anu nenjo, petani ngejo, pedoman dalam bahasa Sunda halus itu kini mulai terasa di Sarongge. Jika diterjemahkan kira-kira berarti hutan hijau, yang melihat senang, dapur petani tetap ngebul.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 84, 8 – 14 Juli 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s