A Woman Can Never Have Too Many Shoes

Image

Butuh 23 tahun untuk beli sepasang boots DocMart ini sejak pertama jatuh cinta.

Saya menjalani masa SMA bersamaan dengan ngetrennya sepatu bermerek Doctor Martens (DocMart) di kalangan anak SMA. Sekolah saya, SMAN 1 Bekasi, tentu tak ketinggalan. Penganutnya adalah anak-anak orang kaya masa itu. Saya cukup memandangi dari tepi lapangan, “Wah si Anu sekarang pake DocMart. Wow si B pake yang 7 hole (umumnya yang dipakai 3-5 hole). Ah seandainya dibolehkan pakai sepatu warna lain selain hitam pasti keren betul.”

Sejak masuk SMP saya sudah diberi uang saku bulanan. Jumlahnya pas untuk ongkos dan jajan. Jajan lho, bukan makan siang. Untuk keperluan sekolah, misalnya beli buku, saya minta lagi. Tapi untuk urusan hore-hore, seperti beli novel, saya pakai uang saku.

Beli sepatu sekolah tentu termasuk kebutuhan sekolah, tapi ya yang harganya masuk akal untuk sepatu sekolah anak SMA. Biasanya sepatu kets hitam. Bukan DocMart. Dan saya sangat tahu diri untuk tidak minta duit pada orangtua saya buat beli sepatu mahal itu.

Mama biasanya langsung kasih saran beli sesuatu yang sesuai kebutuhan saja, jangan mubazir karena mubazir temannya setan. Tren? Apa itu tren? Sedangkan Papa tidak pernah menolak, melainkan akan termenung lumayan lama kalau saya minta sesuatu yang “luar biasa”. Oh dan saya akan langsung merasa sangat bersalah sudah mengajukan permintaan bodoh itu.

Masa kuliah, uang saku saya bertambah karena perjalanan dari rumah ke kampus makin panjang: Jatiasih – Rawamangun pp setiap hari. Tapi tetap saja DocMart tak terbeli. Pernah dulu toserba Matahari menjual sepatu mirip DocMart 5 hole warna merah marun dengan harga diskon. Warnanya gue banget! Saya beli, walau kekecilan hingga jari-jari kaki saya serasa diremas, demi sedikit meredakan keinginan punya DocMart. Pseudo-DocMart.

ImageSesudah bekerja, keinginan punya DocMart sempat hilang karena saya kira trennya sudah padam. Saya anggap merek itu tinggal jadi bagian era 90-an sedangkan sekarang kan era millenium. Saya tidak tahu DocMart adalah merek klasik, sudah ada sejak 1960.

Bahkan ketika saya meliput konser NKOTBSB di Mata Elang, tahun 2012, saya lihat penonton seusia saya mengenakan (lagi) DocMart, saya tetap ngga ngiler. Mereka hanya sedang mengenang masa SMA, masa poster NKOTB memenuhi dinding kamar dan DocMart hitam jadi pasangan seragam putih abu-abu mereka.

Hingga dalam sebuah penugasan ke luar kota bersama rombongan wartawan lain, saya lihat salah satu wartawati yang sedang hamil besar mengenakan DocMart hitam 10 hole. Anjrit! Pemandangan ngga sopan itu menyadarkan saya bahwa DocMart sekarang tidak berurusan dengan kelatahan tren atau dengan anak-anak berortu tajir. DocMart mencari orang-orang yang mengenakannya dengan sepenuh hati, bukan untuk cengengas-cengenges.

Tekad saya bulat untuk membeli DocMart. Setelah cari-cari di beberapa mall Jakarta, saya menemui masalah lama. DocMart tetaplah sepatu mahal bagi kantong saya. Sekali lagi, untuk peredanya, pada Februari lalu saya beli ankle boots merek lain yang tampilannya girly, ngga segahar DocMart, cocok untuk liputan cantik.

Dan Kamis 29 Agustus 2013 jam 9 malam seusai press screening, di luar rencana, saya  berjodoh dengan toko Linea di Plaza Senayan yang sedang sale. Ada DocMart juga di sana. Lumayan selisihnya dari harga normal, bahkan jatuhnya jadi lebih murah dibanding si ankle boots abu-abu.

ImageKalau mau jujur dengan diri sendiri, saya masih belum mampu beli sepatu itu karena duit sedang terkonsentrasi untuk keperluan lain. Tapi karena ada duit plastik yang memungkinkan kita nyicil  selama sekian bulan, atau malah sekian tahun, dengan bunga masyaallah, saya bawa pulang DocMart cherry red 8 hole hasil sale itu. Dan tampaknya satu boots saya yang kulitnya sudah mrotol ini harus merelakan tempatnya untuk Si Cherry Red.

Doain semoga cepet lunas ya 😉

3 Comments

  1. Jadi gimana rasa sepatu barunya ,mbakku ?
    Aku Kemarin abis maen dari negeri di awan mbak,danau beratan bedugul,hehehe

    Evan, The Lost Little Bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s