Epik dari Rival Abadi

Image

Di dalam arena balap, mereka susul menyusul meraih gelar. Di luar trek, dua laki-laki ini terlibat persaingan yang tak kalah keras.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Rush

Genre: Action | Biografi | Drama

Sutradara: Ron Howard

Skenario: Peter Morgan

Produksi: Universal Pictures

Pemain: Daniel Brühl, Chris Hemsworth, Olivia Wilde

Durasi: 2 jam 3 menit

Tahun 1970-an. Sirkuit Formula 1 panas oleh sengitnya persaingan Niki Lauda dan James Hunt.

Niki Lauda (Daniel Brühl ) adalah pria pragmatis dari keluarga pengusaha sukses di Austria. Nama Lauda, di Austria, hanya identik dengan dua hal: pengusaha dan bankir. Tak ada yang jadi pembalap, kecuali Niki, walau baru masuk di kelas Formula 3. Tentu saja keluarga besarnya menentang pilihan Niki, namun dia berkeras di jalur ini karena itulah satu-satunya yang dia bisa.

Di balap Formula 3 ini Niki bertemu James Hunt (Chris Hemsworth), playboy Inggris yang hidupnya bermewah-mewah. Hunt tergabung dalam tim balap Lord Alexander Hesketh (Christian McKay), tim yang mirip pesta berjalan karena tak pernah kehabisan stok alkohol, heroin, ganja, dan perempuan.

Setiap Hunt pulang mendapat gelar, mereka berpesta sampai pagi di klub. Sebaliknya dengan Lauda yang serius dan disiplin, dia langsung pulang, tidur cepat, esok bangun pagi lagi. Perempuan yang dipacari Hunt pun selalu ganti-ganti, tak terhitung yang one-night-stand. Sedangkan Lauda cenderung berhati-hati untuk sebuah hubungan.

Lauda tak berlama-lama di Formula 3. Dia melompat ke Formula 1 tanpa repot-repot mengumpulkan gelar terlebih dahulu karena cara demikian cuma buang waktu. Dia membayar dalam jumlah besar agar mendapat kontrak. Duitnya dipinjam dari bank dengan mengagunkan semua miliknya. Lauda juga mendesain ulang setiap bagian mobilnya hingga bisa laju beberapa detik lebih cepat dibanding mobil standar.

Di F-1, Lauda bertemu lagi dengan Hunt yang kali ini sudah menikah dengan model Suzy Miller (Olivia Wilde). Persaingan mereka pun berlanjut dan makin panas di setiap musimnya.

Lauda mengenal Marlene Knaus (Alexandra Maria Lara) di Italia setelah pengumuman dirinya bergabung dalam tim Ferrari. Keduanya sama-sama hadir di sebuah acara di pegunungan. Lauda menumpang mobil Marlene hingga stasiun terdekat. Di tengah jalan, mobil Marlene mogok.

Sebuah sedan yang dikendarai dua pemuda Italia berhenti. Bukan karena perempuan cantik-tinggi-langsing menyetop mobil mereka, justru karena di dekat perempuan itu ada pembalap hebat yang baru saja menerima pinangan Ferrari. “Ironisnya”, Marlene tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki yang dari tadi mengkritik mobilnya yang salah urus itu. Dia bahkan tetap tidak tahu ketika nama “Niki Lauda” disebutkan.

Niki Lauda dan Marlene Knaus menikah secara sederhana. Lauda yang kerap bicara ketus itu ternyata bisa romantis ketika melamar Marlene. Begini kira-kira kalimatnya, “Mungkin aku tidak akan sering menggenggam tanganmu. Aku juga mungkin akan lupa ulang tahunmu. But if I’m going to do this with someone, it might as well be you.”

Puncak persaingan dua rival tangguh ini terjadi dalam ajang balapan seri German Grand Prix tahun 1976 di sirkut Nürburgring, Jerman. Cuaca buruk. Hujan lebat tak kunjung henti. Lauda meminta panitia membatalkan kompetisi, tapi dia kalah suara dengan pembalap lain –termasuk Hunt- yang ingin balapan dilanjutkan.

Kekhawatiran Lauda terbukti. Ferrari yang ditumpanginya tergelincir, lalu terbakar, dia terkunci di balik sabuk pengaman. Beberapa saat kemudian Lauda berhasil dikeluarkan dalam kondisi luka bakar parah.

Garapan terbaru Ron Howard kali ini menangkap drama klasik dua seteru dalam dunia balap yang serbacepat, penuh semangat, serta melibatkan ego dan keangkuhan. Dengan cara masing-masing yang berseberangan, Lauda dan Hunt adalah sama-sama sang juara.

Persaingan mereka di luar arena balap adalah persaingan menemukan kebahagiaan sejati. Hunt mengira menikah bisa meredam sifat liarnya, tapi ternyata tidak. Istri cantiknya juga tak pernah ada saat dia sedang butuh ditemani. Sedangkan Lauda yang superserius itu khawatir pernikahan bisa mengalihkan perhatiannya dari balap.

Ron Howard bukan spesialis satu genre film. Dia sudah membuat, antara lain, Far and Away (1992) yang drama, A Beautiful Mind (2001) yang biografi, dan The Da Vinci Code (2006) yang misteri. Kali ini, dalam bungkus balap Formula 1, Howard menjaga agar Rush tetap mengedepankan karakter dan secara dramatis menggali sisi terbaik dua rival abadi ini. Kita bisa lupakan tulisan yang menunjukkan lokasi dan tahun balapan yang tertera di layar.

Aktor asal Jerman Daniel Brühl yang bertransformasi melalui dental prosthetic bermain bagus sebagai Lauda. Bruhl mampu menunjukkan bagaimana seorang atlet terus menerus bertarung antara hati dan otaknya.

Hemsworth kali ini mendapat kesempatan luas untuk membuktikan kemampuan aktingnya setelah hanya jualan otot dan tampang lewat karakter jagoan dalam Thor (2011), The Avengers (2012), dan Star Trek Into Darknes (2013).  Pesonanya bersinar walau keangkuhan Thor tetap nampak.

Howard, sinematografer Anthony Dod Mantle, dan editor Daniel P. Hanley membawa kita, bukan hanya ke dalam arena balap, tapi juga ke dalam detail kerja mesin mobil, detail bodi, dan sorot tegang pembalap melalui shot-shot yang ekstrem. Drama balapan dan drama percintaan dibuat sama gregetnya. Howard membawa adrenalin pada titik didih hingga klimaksnya dalam persaingan maut di tengah hujan…rush!

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 97, 7-13 Oktober 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s