Lenggok Diva Menafsir Gubahan Klasik

Image

Tarian ini sudah didangkalkan nilainya hingga hanya jadi suguhan untuk turis atau malah jadi atraksi seronok di klub-klub. Saatnya kita mengenal belly dance yang indah, anggun, dan berkelas.

Oleh Silvia Galikano

Melaya si selendang hitam meluncur di pundak terbuka Sherlyn Koh, dari kanan ke kiri. Sambil terus menggerakkan pinggulnya, dia membawa melaya ke depan, menutupi wajah. Ah tapi matanya mengintip genit.

Dipadukan dengan kostum bermotif macan tutul dan rok pendek merah jambu, melaya yang dimainkan lincah itu  seakan meraih-raih, mengajak penonton ikut bergembira. Mengajak bertepuk tangan bersama seiring ketukan lagu riang Banat Alexandria, lagu rakyat Mesir dari kota pelabuhan Alexandria.

Rabu pekan lalu, 25 September 2013 di Gedung Kesenian Jakarta, The Divas oleh Bellydance Jakarta menyuguhkan perjalanan kembali ke masa Alexandria tua. Masa ketika gadis-gadis menggoda dengan memainkan melaya dan mengibaskan rambut indah mereka sepanjang punggung. Gadis-gadis ini menarikan tarian yang menonjolkan gerak pinggul dan menampakkan perut, dikenal dengan nama belly dance (tari perut).

The Divas mempertemukan sederet diva belly dance dan lagu-lagu para diva klasik Arab. Ada Christine Yaven pimpinan Bellydance Jakarta; Anusch Alawerdian belly dancer asal Belanda; serta Sherlyn Koh dan Brancy Nekvapil, dua belly dancer dari Malaysia. Melalui tarian, mereka menafsirkan kembali lagu-lagu yang pernah disampaikan para diva tanah Arab kepada dunia.

Penyanyi legendaris seperti Oum Kalsoum (1898-1975), Warda (1939-2012), Thekra (1966-2003), hingga Nancy Ajram (kelahiran 1983), telah membuat jutaan penggemarnya terpukau akan lagu-lagu mereka. Bahkan hingga kini, puluhan tahun berselang, lagu-lagu mereka masih membuat orang tersentuh.

Nassam Alayna el Hawa yang mengiringi tari pembuka, misalnya. Lagu ini dipopulerkan Fayrouz, penyanyi asal Libanon kelahiran 1935. Nassam Alayna el Hawa (Angin yang Bertiup ke Arah Kita) adalah satu dari banyak lagu Libanon yang menyuarakan kerinduan akan masa silam, masa sebelum Libanon didera perang saudara.

Dalam gerak yang dikoreografikan Christine Yaven, interpretasi atas Nassam Alayna el Hawa menyentak panggung. Kali ini musiknya versi remixed techno. Sepuluh penari dalam balutan kostum warna perak dan sayap lebar mengawali malam lewat gerak lincah mereka.

Jangan berpikir The Divas menyajikan tarian seronok yang heboh mengguncangkan seluruh tubuh, menggelepar-gelepar di lantai, atau bergelut dengan ular. “Saya ingin menunjukkan bahwa belly dance bukan sesuatu yang murahan. Kami mempertunjukkan belly dance yang indah, anggun, dan menjadi standar internasional,” Christine menjelaskan selepas acara.

Karena itu, musik pun dipilih secara cermat dari khazanah musik klasik Timur Tengah. Jelas sejarah musiknya, jelas siapa penyanyinya, dan tahu apa makna liriknya.

Malam itu, belly dance klasik disajikan berseling dengan belly dance modern. Belly dance klasik adalah yang berasal dari Mesir. Sedangkan belly dance modern yang sudah masuk unsur-unsur lain untuk memperindah tarian, seperti sayap lebar, kipas (fan-veils), dan kostum celana panjang pengiring tango fusion.

Saat ini, praktis, hanya Mesir yang masih mempraktikkan belly dance dalam perayaan siklus hidup mereka, seperti sunatan, ulang tahun, dan pernikahan. Kondisi ini tidak ditemukan di negara-negara lain di Timur Tengah, antara lain Turki dan Libanon. Di sana, belly dance hanya jadi suguhan untuk turis.

Inilah tarian indah dari budaya tua yang mengapresiasi kecantikan perempuan. Tarian yang bisa ditarikan semua perempuan, segala usia dan berapa pun ukuran tubuhnya. Belly dance tetap indah ketika ditarikan Anousch yang jangkung atau Christine yang bertubuh subur. Jadi jika ada yang mengklaim belly dance bisa untuk menguruskan badan, atau minimal mengecilkan perut, “Ah itu iklan cari duit,” Christine menukas cepat.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 97, 7-13 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s