Merayakan Evolusi Musik Lintas Genre

 

Musik pop hingga soul ditampilkan dalam gelaran tahunan satu ini. Penghargaan pada musisi lokal lebih dikedepankan.

Oleh Silvia Galikano

Memang tak ada yang lebih pas menutup L.A. Lights Java Soulnation Festival, Minggu 6 Oktober 2013, selain Macy Gray. Tidak banyak lagunya yang akrab di telinga pendengar musik di Indonesia, atau dengan kalimat lain, penggemar musik Gray sangat spesifik.

Namun Macy menunjukkan seperti inilah musik soul. Nikmati saja, tak perlu hafal lirik. Dia seorang penyampai yang sangat bagus, hingga lagu-lagu yang dibawakannya bisa dirasakan jauh menembus ujung-ujung sensorik penonton. Dari lagu pertama Why Didn’t You Call Me, Do Something, SexomaticGlad You Here, Psychopa, hingga Creep-nya Radiohead dan ‘Nothing Else Matters milik Metallica semua dihisap penonton bagai candu dengan kadar terkeras.

Belum lagi sapaannya ke penonton, “Hey, Sexy Diva! Kalian tahu mengapa saya mau jauh-jauh datang dari Los Angeles ke Jakarta? Karena menurut Google, Jakarta tempatnya orang-orang cantik dan seksi.”

Maka ketika lagu Bob Marley, Ev’rything’s Gonna Be Alright diselipkan dalam hitnya di tahun 1999, I Try, penonton yang baru kenal Macy pun sudah jatuh cinta taraf akut pada penyanyi yang punya percaya diri selangit itu.

Inilah salah satu cara Macy menyuntikkan kepercayaan diri pada siapa pun yang menganggap punya wajah tidak cantik atau tubuh tidak seksi hanya karena tidak seperti model dalam iklan-iklan produk kecantikan. Salah duanya dengan meminta penonton bersama-sama meneriakkan nama masing-masing dengan penuh kebanggaan, sekeras-kerasnya, ke langit.

***

Ada yang tidak biasa di L.A. Lights Java Soulnation Festival kali ini. Perhelatan musik tahunan yang digelar pada 4, 5, 6 Oktober 2013 di Istora Gelora Bung Karno Jakarta tidak menetapkan tiket tambahan untuk special show seperti tahun-tahun sebelumnya. Cara ini merupakan bentuk dukungan bagi musisi Indonesia bahwa musisi lokal bisa tampil di panggung yang sama dengan musisi internasional.

Inilah festival musik tanpa batasan genre. Tahun ini sudah gelaran ke-6. Kita bisa nikmati All-4-One yang RnB-pop, Project Pop yang ngepop, hingga suguhan Barry Likumahua yang membuat tribute untuk mendiang J-Dilla, musisi hiphop dari Detroit, Michigan, Amerika Serikat.

Pada hari pertama, Karmin menyulut semangat penonton melalui lagu-lagu pop-techno mereka. Duo Amy Heidemann (vokal) dan Nick Noonan (keyboard/trombone/vokal) itu tampil atraktif dalam balutan baju casual warna oranye menyala.

Acapella, Hello, Boom, Too Many Fish, Walking on The Moon, Crash Your Party, Try Me On disambut penonton dengan antusias. Juga ketika Amy nge-rap di Told You So dan Super Bass-nya Nicky Minaj. Sedangkan Nick kebagian menyanyikan Coming Up Strong sambil memainkan keyboard.

Lagu-lagu berirama cepat mereka bawakan dengan kemampuan prima, juga nada-nada tinggi dijangkau tanpa kesulitan, dan Amy dan Nick tetap atraktif di panggung. Keduanya seakan punya banyak energi cadangan yang disimpan dalam kantong-kantong tersembunyi.

Duo yang baru pertama hadir di Jakarta itu benar-benar tidak menyangka antusiasme penonton pada mereka. Berkali-kali Amy kehabisan kata-kata usai membawakan satu lagu, dia hanya tertawa sambil menggelengkan kepala. “I can’t believe it. Kalian luar biasa. Lihat, saya merinding terus,” kata Amy sambil menunjukkan tangannya.

Suasana romantis di gelaran Java Soulnation Festival dihadirkan All-4-One melalui lagu-lagu mereka yang merajai chart pada pertengahan 1990-an. Empat laki-laki asal Los Angeles itu adalah Tony Borowiak, Jamie Jones, Delious Kennedy, dan Alfred Nevarez. Mereka hadir dalam setelan kemeja putih, celana merah, dan jas hitam.

I Can Love You Like That adalah lagu pertama yang mereka bawakan, pengingat bahwa inilah All-4-One dengan kekhasan harmonisasi vokalnya. Disusul September, Turn To You, dan So Much In Love yang seakan jadi mesin waktu, membawa penonton kembali ke masa dua dekade lalu. Koor ribuan penonton pun tak terelakkan.

Empat pria yang bukan lagi pemuda itu juga ternyata masih punya kharisma yang sama dalam mempesona perempuan. Ini buktinya. Mereka mengundang seorang perempuan muda, namanya Cyntia, ke atas panggung. In These Arms mengalun. Tony, Jamie, Delious, dan Alfred berdiri mengelilingi perempuan beruntung itu yang duduk di kursi. Ditutup dengan keempatnya berlutut menghadap Cyntia yang tersipu-sipu. Penonton histeris.Sangat 90-an kan?

Usai menyanyikan Blowin Me Up, Skills, dan Someday, All-4-One menutup penampilannya lewat I Swear, single yang pada 1995 bertahan selama 11 pekan berturut-turut di chart Billboard. I swear, by the moon and the stars and the sky// And I swear like a shadow that’s by your side….

Tengah malam menjelang, jadwal festival yang ketat tak dapat dilanggar, encore pun tak sempat lagi diberikan. Cukup lambaian tangan sambil berjalan ke balik panggung sebagai salam hangat perpisahan.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 98, 14-20 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s