Djoko Pekik dan Metafora Kesenian Rakyat

 

Djoko Pekik adalah nama legenda dalam seni rupa Indonesia. Pernah digolongkan dalam “Kelompok Kiri” yang membuatnya mendapat deraan luar biasa. Keberpihakannya pada rakyat jelata tak pernah berkurang.

Oleh Silvia Galikano

Ruang pengadilan berisi tiga hakim di kursinya masing-masing dan dua pengacara yang sedang memperhatikan perilaku hakim. Dua hakim memegang tikus di tangan kanan mereka, sedangkan satu hakim lagi memangku perempuan.

Mereka mengadili sekelompok pemain kuda lumping yang sedang kesurupan. Satu pemain memakan ayam hidup-hidup dan satu lagi mengunyah bara panas. Aha! Dan di situ juga ada seorang hakim kesurupan! Dia makan burung hidup-hidup.

Bukankah hakim seharusnya yang mengadili? Mengapa jadi ikut-ikutan kesurupan? Sementara di luar pengadilan, rakyat bekerja hingga terbungkuk-bungkuk sambil mempertahankan tanah leluhurnya dari jarahan belalai industri.

Demikian Djoko Pekik menyuguhkan absurditas peradilan kita dalam lukisan bertajuk Pawang Pun Kesurupan (2012). Lembaga yang seharusnya bisa dijadikan sandaran rakyat untuk beroleh keadilan ternyata ikut berkubang juga dalam ketidakadilan.

Dari lukisan ini lahirlah inspirasi untuk memberi judul Zaman Edan Kesurupan bagi pameran tunggal Djoko Pekik di Galeri Nasional Jakarta, 10 hingga 17 Oktober 2013. Sejumlah 25 lukisan dan satu karya tiga-dimensi Djoko Pekik dipamerkan, terdiri dari karya-karya lama dan baru yang mengilustrasikan perjalanan Pekik yang panjang dan berat.

Indonesia mengenal Djoko Pekik, 78 tahun, sebagai pelukis dari “Kelompok Kiri”. Dia bergabung dalam Sanggar Bumi Tarung (SBT), pada 1961, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di sanggar ini para seniman muda mempraktikkan realisme sosial dan Realisme Sosialis. Salah satu karya Pekik yang dipengaruhi ideologi seni SBT adalah Tuan Tanah Kawin Muda (1964) yang subjeknya mengontraskan kehidupan dua kelas sosial berbeda.

Image
Tuan Tanah Kawin Muda (1964) dan Lintang Kemukus (2003)

Pada masa “pembersihan” PKI, Pekik dibuang ke Pulau Buru dan mengalami berbagai kekerasan fisik serta simbolis luar biasa. Periode ini memengaruhi beberapa aspek dalam praktik berkesenian, seperti caranya mempertahankan prinsip; caranya memilih dan menafsirkan subjek lukis; serta caranya menghadirkan dirinya dalam suatu peristiwa di dalam lukisan.

Pekik memang kerap menghadirkan dirinya sendiri sebagai subjek lukis untuk menunjukkan dia terlibat, merasakan, dan ikut terkena dampak dalam situasi yang digambarkan. Misal dalam karyanya, Lintang Kemukus (2003), yang melukiskan pengalamannya melihat konstelasi perbintangan dengan susunan tertentu pada akhir 1965. Dalam tradisi Jawa, lintang kemukus dipercaya sebagai penanda bakal terjadinya tragedi, masa pageblug, yang mengakibatkan korban secara luar biasa.

Image
Kali Brantas – Bengawan Solo (2008)

Atau dalam Kali Brantas – Bengawan Solo (2008), Pekik memasukkan dirinya sebagai saksi atau korban sebuah peristiwa yang menurutnya penting diketahui masyarakat. Dia berada di antara orang-orang yang ditutup matanya, digiring sekelompok tentara dan tank. Di kejauhan, orang-orang diturunkan dari truk tentara, lalu ditendang masuk ke sungai.

Sedangkan karya yang merepresentasi keterlibatannya dalam aktivitas sosial adalah Menghibur Korban Gempa (2007). Pekik melukiskan dirinya sedang bermain kuda lumping, ditonton masyarakat, sementara di sekelilingnya rumah-rumah sudah jadi puing.

Sepenuturan Djoko Pekik kepada kurator pameran, M. Dwi Marianto, beberapa karyanya adalah visualisasi umpatannya dari yang biasa sampai yang paling kasar. Energinya yang besar bisa muncul spontan manakala melihat praktik penindasan.

Dia juga memegang prinsip “Batu hitam di sungai, banjir atau tidak, ia tetap di situ”. Djoko Pekik, dengan atau tanpa SBT / LEKRA, adalah tetap Djoko Pekik dan tidak menjadi objek yang terombang-ambing keadaan.

Prinsip ini terus dia pertahankan dan ditopang dengan bahasa teknis lukis serta pola pewarnaan yang khas. Pekik terus berkarya dengan warna-warna coklat tanah, coklat tua, merah, biru, hijau gelap, dan hitam.

Warna-warna tersebut merupakan simbol kehidupan rakyat jelata yang dalam keseharian tak lepas dari tanah, debu, dan lumpur, unsur-unsur yang juga sangat diakrabinya. Dari dataran rendah Grobogan dia berasal, dari keluarga petani buta huruf, dan tak sejumput pun dia ingkari.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 99, 21 – 27 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s