Ada Kacang Bumbu di Bali

Image
Kacang bumbu

 

Kegirangan nemu kacang ini lagi, jajanan semasa kecil. Saya menemukannya di koperasi karyawan hotel sewaktu meliput World Culture Forum, November 2013, di Nusadua, Bali. Seingat saya, dulu kami menyebutnya kacang bumbu. Tata yang memperkenalkannya ke saya.

Siang -entah, mungkin sore- dia datang ke rumah sambil makan jajanan ini. Mukanya berkeringat, di tangannya masih ada 3/4 kacang dipipihkan dalam bungkus plastik. Mulut Tata mengunyah sambil mangap-mangap kepedasan.
“Apa itu, Ta?”
“Kacang bumbu. Mau?”
Saya cuil sedikit. Enak. Manis, sedikit masam, dan pedasss.
“Beli di mana?”
“Di Bu Basuni.”

Lewat kacang bumbu-lah saya belajar makan pedas. Saya yang berasal dari keluarga Minang dan terbiasa makan samba lado ini perlu belajar makan pedas untuk makan makanan Jawa Timur yang pedasnya nyelekit karena full cabe rawit.

Cara berlatihnya dengan menghabiskan sebungkus kacang bumbu tanpa jeda. Makan kacang bumbu ini memang harus tanpa jeda, itu tips dari Tata, agar nanti terbiasa makan pedas. Lalu bagaimana cara cepat menghilangkan pedasnya dari mulut? Karena minum air putih saja tidak bisa. Begini caranya, begitu kacang bumbu habis, dengan bibir-jontor-muka-merah-hidung-meler saya berjongkok, lalu menenggelamkan kepala di antara lutut, dan membiarkan air liur mengucur sampai habis.

Upaya ini berhasil sempurna. Melalui trial and error (mencret, maksudnya), hasilnya saya doyan pedas sampai sekarang. Orang lain biasanya bilang, “Dasar Padang.” Padahal salah, karena saya arek Suroboyo.

***

ID WCF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s