Kritik dalam Rumah Kaca “Museum” Seni

Indonesia miskin panduan tertulis tentang sejarah seni rupanya. Tetap belum terlambat  walau baru dimulai pada zaman digital serbainstan sekarang.

Image

Judul Buku: Seni Rupa Indonesia: dalam Kritik dan Esai.

Penyunting: Bambang Bujono dan Wicaksono Adi

Penerbit: Dewan Kesenian Jakarta

Tahun terbit: 2012

Jumlah halaman: 612 halaman

 

Lukisan pertama yang  menyambut kita di ruangan steleng ialah lukisan Presiden Sukarno. Gambarnya terpampang ke muka dan wajahnya yang mengandung pandangan sungguh-sungguh (serious) memberikan kesan bahwa orangnya insaf dan sadar sewaktu dia sedang digambar.

Paragraf tersebut adalah pembuka tulisan Mara Karma berjudul Basoeki Abdullah dan Stelengnya yang dimuat Majalah Mimbar Indonesia, September 1950. Steleng adalah istilah pada masa itu untuk menyebut pameran (dari bahasa Belanda, stelling yang berarti pertunjukan atau pameran).

Dalam tulisan itu Mara Karma mengkritik aliran naturalis Basoeki yang sudah ketinggalan zaman dan teknik melukisnya yang seperti mesin. Begitupun dengan gambar-gambar potretnya. Sasarannya ialah kecantikan fisik yang di-idealisir dengan pikirannya yang romantis. Antara potret seorang lacur Perancis dan seorang nyonya pembesar yang cantik tidak ada terdapat perbedaan perasaan yang dikandung kedua gambar itu.

 Nama Basoeki sudah tergantikan oleh Affandi, Agus dan Otto Djaja, Emiria Soenassa, serta Sudjojono.

Basoeki Abdullah dan Stelengnya  jadi salah satu tulisan yang terpilih masuk dalam buku Seni Rupa Indonesia: dalam Kritik dan Esai yang memuat kritik seni sepanjang 1930-an hingga 2000-an. Tidak kurang 900 judul kritik seni yang berhasil dikumpulkan sepanjang 70 tahun itu, kebanyakan dari majalah kebudayaan atau majalah yang menyediakan ruang kebudayaan.

Majalah umum Siasat (1947-1961) misalnya, punya ruang kebudayaan yang dinamakan Gelanggang, Mingguan Mimbar Indonesia menerbitkan majalah kebudayaan bulanan Zenith. Majalah budaya Pujangga Baru (Poedjangga Baroe) yang lebih mengutamakan sastra, serta Harian Rakjat yang punya ruang kebudayaan. Dari 900 judul, dipilih 70 judul untuk masuk dalam buku ini, ditulis perupa dan kritikus S. Sudjojono, Trisno Sumardjo, Affandi, DA Peransi, Umar Kayam, Goenawan Mohamad, hingga generasi mutakhir.

Seni Rupa Indonesia diharapkan jadi “buku babon” seni rupa Indonesia. Pasalnya negara sebesar ini miskin acuan informasi tentang seni modern Indonesia. Buku yang jelas-jelas menuliskan judul Sejarah Seni Rupa Indonesia hanya satu, yakni yang dibuat Kusnadi dkk, tahun 1977. Dua buku lainnya, Art in Indonesia (1964) karya Claire Holt  dan Indonesian Modern Art and Beyond (1997) oleh Jim Supangkat “tidak berani” mengklaim sebagai buku sejarah seni rupa Indonesia.

Seni Rupa Indonesia memuat pembabakan dalam seni rupa Indonesia yang jadi pijakan historis dalam melihat perkembangannya. Pembabakan tidak bisa dihindari karena seni rupa selalu berkelindan dengan nasionalisme, ideologi politik, internasionalisme, pasar, hingga media baru yang sedang tren kala itu.

Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), misalnya, yang disebut Trisno Sumardjo sebagai penanda lahirnya seni rupa modern dan dimulainya kritik terhadap seni rupa Indonesia. Persagi berdiri pada 1938 diketuai Agus Djaja dengan juru bicara S. Sudjojono. Masa itu adalah masa munculnya nasionalisme, masa tumbuhnya kesadaran kaum terpelajar bumiputra yang mendapat pendidikan Belanda.

Persagi menolak kecenderungan romantik seni rupa Mooie Indie (Hindia Molek) sekaligus menolak kolonialisme terlibat dalam pembentukan nasionalisme Indonesia. Penganut seni rupa Mooie Indie di antaranya Basoeki Abdullah, Sukardji, Omar Basalamah, dan Wahdi. Karya-karya Basoeki Abdullah sangat disukai Presiden Sukarno, malah jadi koleksi istana.

Pada tahun 1939, S. Sudjojono menulis sebuah esai bertajuk Kesenian Melukis di Indonesia di majalah Keboedajaan dan Masjarakat (diterbitkan ulang pada 1946 dengan judul Seni Lukis Indonesia Sekarang dan yang Akan Datang dalam buku Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman). Dalam esai tersebut dia menolak seni rupa Mooi Indie yang “semua serbabagus dan romantis bagai di surga, semua serbaenak, tenang dan damai.”

Baginya lukisan Mooi Indie tak ubahnya ilusi, tak mencerminkan kehidupan bangsa Indonesia yang sebenarnya, hanya menipu dan mengalihkan kesadaran bahwa bangsa ini sedang dijajah.

Selepas era Persagi, semakin tajam pemikiran tentang kebebasan dan otonomi seni serta posisi seniman. Seniman tidak tunduk pada apapun di lapangan sastra, seperti ditunjukkan sastrawan angkatan 45 Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin.  Mereka menolak cara pandang generasi sebelumnya, yaitu sastrawan Pujangga Baru yang mereka anggap telah terbelenggu romantisisme. Angkatan 45 ingin merombak segala hal yang sudah mandek di masa silam itu.

Dalam sajaknya yang berjudul Pelarian, penyair Rivai Apin bahkan “mengutuk” masa silam tersebut dengan  kata-kata: apa di sini/ batu semua. Sementara yang ia inginkan adalah taufan gila/awan putih-abu berkejaran/ombak tinggi memegah perkasa/ kayu kapal berderak-derak, layar berkebar-kebar.

Setelah Indonesia merdeka, semangat seni rupa kerakyatan semakin meluas. Muncul Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dengan doktrin seni harus mengabdi bagi pembangunan kebudayaan rakyat. Dibanding lainnya, jalur seni kerakyatan yang didukung Lekra dan Presiden Sukarno lebih banyak melakukan pameran. Affandi berpameran di Galeri Pik Gan di Surabaya. (Affandi pada masa itu dapat menjual lukisannya seharga Rp8000). Tahun 1957, Hendra Gunawan yang juga duduk sebagai anggota Konstituante menggelar pameran di Hotel Des Indes, Jakarta.

Peristiwa berdarah G30S pada 1965 yang berakhir dengan kehancuran PKI membuat tokoh-tokoh Lekra dan seniman yang dekat dengan Sukarno sebagian besar dijebloskan ke penjara, sebagian menjadi pelarian di luar negeri, dan sebagian hilang tanpa jejak.

Lekra berakhir, pudar pula proyek penemuan Indonesia baru versi realisme heroik dalam seni kerakyatan. Pada awal 1970-an Orde Baru di bawah Suharto mengarahkan proyek penemuan Indonesia baru ke lapangan ekonomi berbasis pembangunan. Belum ada perkembangan berarti hingga kini.

Perjalanan seni rupa Indonesia selama 70 tahun yang dirangkum dalam buku Seni Rupa Indonesia disebut kritikus Aminudin TH Siregar sama fungsinya dengan museum seni rupa mengingat tidak berfungsinya museum dan galeri yang seharusnya memproduksi pengetahuan tentang seni. Akibatnya seni rupa modern sulit dibuktikan selain hanya gagasan-gagasan yang tersebar di media massa sejak tahun 1930-an.

Dari arsip majalah dan koran bisa kita jumpai foto-foto lukisan yang pernah dipamerkan, gambar karya Zaini, coretan Nazar, bahkan lukisan yang tidak pernah diketahui publik luas ternyata pernah dibuat S. Sudjojono ada di majalah Zenith. Kritik seni rupa di media pada akhirnya dapat diformulasikan sebagai pengetahuan.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 12, 20-26 Februari 2012

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s