Drama Eksentrik dari Disney

Image

Tim Burton bertutur haru tentang pertemanan seorang bocah dengan anjingnya. Tampilannya seram, tapi bukan film horor.

Oleh Silvia Galikano

 

Judul: Frankenweenie

Durasi: 87 menit

Genre: Komedi, animasi.

Sutradara: Tim Burton

Skenario: Leonard Ripps, Tim Burton

Pengisi suara: Charlie Tahan, Winona Ryder, Catherine O’Hara, Martin Short

Mr. Ryzkruski (diisisuarakan Martin Landau), seorang guru nyentrik di bidang sains, membawa seekor katak yang sudah mati ke depan kelas. Hari ini dia ingin membuktikan bahwa otot makhluk yang sudah mati pun bisa bereaksi terhadap listrik.

Mr. Ryzkruski menyambungkan kabel ke dua kaki katak. Begitu listrik dialirkan, kaki katak yang tadinya terkulai lurus saja di meja, seketika terangkat sedikit. Ketika aliran listrik diperkuat, makin tinggi kaki katak terangkat. Semakin kuat lagi aliran listrik, kaki katak terangkat hingga membentuk sudut 45 derajat.

Teori Mr. Ryzkruski yang terbukti benar ini menginspirasi Victor (Charlie Tahan), salah satu muridnya, untuk menghidupkan kembali anjing kesayangannya, Starky (Frank Welker), yang baru saja mati terlindas mobil.

Victor, bocah penyendiri yang tidak punya teman itu berhari-hari mengurung diri di loteng rumahnya yang dia sulap jadi laboratorium. Dia membuat penghitungan cermat listrik sebesar apa yang bisa membuat, bukan hanya otot Starky bisa bergerak lagi, tapi juga nyawanya bisa kembali ke jasad. Listrik yang dialirkan langsung oleh kilat, jawabannya.

Pada suatu malam, Kota New Holland tempat Victor tinggal, diguyur hujan lebat. Kilat sambar menyambar. Victor pergi ke pekuburan tempat Starky dibenamkan. Mayat (maaf, kali ini kurang tepat menyebut “bangkai”) Starky digali lagi, dibawa pulang langsung ke loteng rumahnya.

Tubuh Starky yang tadinya berantakan setelah dilindas mobil itu kemudian dia jahit. Sama sekali tidak rapi jahitannya. Compang-camping dan mengerikan. Bahkan punggung Starky ditambal pula dengan kain perca. Terakhir, dua baut dipasangkan di leher kiri dan kanannya.

Tiba saat yang menentukan. Mayat Starky direbahkan di atas sebilah papan lantas dikerek ke atas genting. Layang-layang diterbangkan, ujung benangnya tersambung ke tubuh Starky. Hujan masih masih deras, kilat masih sambar-menyambar, dan tak lama kemudian…dar!  Satu kilat besar menyambar layang-layang, mengalirkan listrik ribuan watt ke benang, mengalir terus ke tubuh Starky. Victor menatap nanar dari laboratoriumnya.

Harap jangan terkecoh dengan format hitam putih plus judulnya yang mirip-mirip Frankenstein yang horor itu. Frankenweenie sama sekali bukan film horor, melainkan tentang kemanusiaan yang sangat menyentuh, berseling humor.

Keseruan film ini sejak dini ditemui pada cewek tetangga Victor bernama Elsa van Helsing (Winona Ryder) yang tinggal bersama pamannya, Mr. Burgemeister (Martin Short) yang menjabat Walikota New Holland. Burgemester sebal luar biasa pada Starky karena sering kedapatan mengencingin patung di tamannya.

Sebaliknya, pudel cantik piaraan Elsa jatuh cinta pada Starky.  Elsa yang ketakutan terus menerus di bawah intimidasi pamannya, ingin sekali akrab dengan Victor, tapi nampaknya Victor lebih nyaman menyendiri.

Desain Kota New Holland mengingatkan kita pada kota tempat tinggal Edward Scissorhands (1990, juga garapan Tim Burton), kota ideal dengan rumah-rumah tertata rapi, berhalaman cantik. Namun karena dipadukan dengan penduduk berwajah aneh, tampilan keseluruhan film ini jadi eksentrik.

Frankenweenie sebenarnya adalah film lama Burton. Pada 1984, Disney menolak karya Burton,  animator yang saat itu berusia 26 tahun, dengan alasan durasinya pendek (aslinya 30 menit) serta gambarnya terlalu gelap dan seram bagi anak-anak. Ngga Disney banget, karena biasanya mengangkat dongeng Sleeping Beauty dan sebangsanya.

Hingga akhirnya pada 2012 Disney jadi memfilmkan Frankenweenie, tetap dengan gambar aslinya yang hitam-putih dan menyeramkan bagi anak-anak, tapi skenario baru yang lucu. Satu setengah jam yang berisi insiden, drama, detail ciamik, serta emosinya mampu diresonansikan secara sempurna ke penonton.

 ***

Dimuat di Majalah Detik edisi 48, 29 Oktober-9 November 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s