Kilau Sorot dari Kampung Bangor

Image

Nurbanah tak mau lagi mendengar fitnah atas dirinya. Kecantikan semestinya berkah, tak patut jadi bencana macam ini.

Oleh Silvia Galikano

Pagi di Kampung Bangor, sebuah perkampungan padat di Jakarta. Seorang ibu menyapu halaman rumah, seorang lagi menggebuk kasur, seorang merapikan dagangannya di warung, dan seorang lagi sedang berbelanja di warung. Dari tempat masing-masing mereka bicara dengan suara keras, bersahut-sahutan.

“Lihat, Mak, mau ke pasar saja gayanya seperti mau ke pesta. Untung laki kita ngga lagi di rumah. Kalau laki kita lagi di rumah, bakal habis sama perempuan ini.”

“Ngakunya perawan, ternyata punya laki, duluuu. Tuh perempuan yang kegatelan itu. Kebiasaan menggoda laki-laki. Dasar kelakuannya.”

“Siapa, Mpok?”

“Itu tuh, wedokan Markonah.”

Kemudian datang Mak Henol (Avinda Deviana), yang di setiap obrolan selalu mengungkit-ungkit betapa 20 tahun lalu dia pernah jadi kembang kampung. Mak Henol yang merasa tetap paling bahenol itu tak rela reputasinya selama 20 tahun direbut Markonah. Dia mau bergabung dengan warga memberi pelajaran pada Markonah.

Sementara, orang yang jadi objek gosip sedang duduk manis di teras rumahnya, di perkampungan padat itu juga. Memakai rok mini, baju ketat, sepatu hak tinggi, serta dandanan cantik. Dia bermain biola sambil menyanyikan lagu rindu.

Obrolan ibu-ibu terus berlangsung. Tetap dengan suara keras, sengaja agar terdengar oleh perempuan yang disebut “Markonah” itu. Awalnya dia tak peduli, tapi lama-lama tak kuat lagi dia mendengar. Markonah menghentikan permainan biolanya, lalu mendatangi ibu-ibu yang masih terus bergosip.

Sambil menahan amarah, Markonah (Mia Ismi Halida) jelaskan bahwa satu-satunya alasan dia tetap menjaga kemolekan tubuhnya adalah demi pengabdian pada suaminya, meski keberadaannya entah di mana dan entah kapan pulang.

“Setiap saat dia pulang, sayalah satu-satunya yang menanti. Karena sekali saya menjadi istri, selamanya saya menjadi seorang istri. Dan nama saya bukan Markonah, melainkan Nurbanah. Nur-ba-nah!”

Pementasan Nurbanah oleh Teater Getapri pada Kamis 28 Juni 2012 di Gedung Kesenian Jakarta jadi penutup Jakarta Anniversary Festival X yang digelar sejak 13 Juni 2012. Mengambil setting kampung di Jakarta, Nurbanah yang ditulis Asmara GT, menyuguhkan satu isu di keseharian bersahaja di antara julangan rimba beton Jakarta.

Nurbanah bercerita tentang eksistensi perempuan. Meski hidup sendiri tapi Nurbanah tetap tabah, kuat. Dia menghargai perkawinan,” kata sutradara, Siti Artati.  Lakon ini juga membuktikan betapa perempuan bukan hanya bisa ditindas, tapi juga bisa menindas sesama perempuan dengan cara keji.

Naskah asli Nurbanah sebenarnya hanya berisi gunjingan-gunjingan. Artati yang menambahkan beberapa adegan, seperti taipan Jepang menginjak tangan Nurbanah yang diambil dari kejadian nyata. Begitu pula karakter Mak Henol yang Betawi-Arab itu didapat Artati dari tokoh nyata yang beberapa waktu lalu pernah disorot infotainment. Dengan begitu Nurbanah jadi lebih hidup.

Suatu hari, penantian Nurbanah terbayar. Suaminya pulang. Terbungkam semua omongan jelek tetangga tentang perempuan ini. Sekarang, ibu-ibu kampung malah minta Nurbanah mengajar mereka menyanyi. Tak ada lagi Markonah. Hanya ada Nurbanah. Nur-ba-nah.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 32, 9-15 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s