Magis Roman Sang Dewi

 

Tak hendak membuat inovasi atas tradisi leluhur, wayang beber Pacitan tersaji masih dengan rasa yang sama seperti 800 tahun lalu.

Oleh Silvia Galikano

Sekira tiap satu menit, dalang menggeser layar kertas yang bergambar satu adegan, dengan cara menggulung secara horisontal dari kiri ke kanan. Tangkai layar (sligi) kiri menggulung, sligi kanan membuka layar yang tadinya tergulung. Adegan baru terbentang, sligi ditancapkan di ujung kiri dan kanan ampok kayu. Dalang melanjutkan kisahnya.

Selama delapan abad, seperti inilah wayang beber dimainkan. Tak ada yang berubah. Layar masih terbuat dari kertas dlancang gedog, cara tutur (tumbung) sama, dan cerita yang diangkat juga selalu sama, yakni roman Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji dari Lakon Panji.

Wayang yang terhitung langka itu dimainkan pada Rabu malam, 21 Maret 2012, di Bentara Budaya Jakarta. Dibawa dari Pacitan, satu dari dua daerah yang masih mempertahankan wayang beber tradisi. Dalangnya masih muda, Rudhi Prasetyo. Baru 27 tahun usianya.

Permainan dalang diiringi lima laki-laki yang memainkan perangkat gamelan. Tidak ada waranggono (perempuan penembang). Cenderung “sepi” dibandingkan pementasan wayang kulit.

Ada bokor kemenyan di samping dalang. Asapnya terus mengepul sepanjang pergelaran, menguarkan suasana mistis. Di hadapan layar, tersaji nampan berisi nasi, ayam ingkung, telur, kelapa, dan pisang di tengah tebaran mawar merah. Sesajen ini nantinya jadi rebutan penonton begitu acara berakhir.

Kisah percintaan Dewi Sekartaji dan Joko Kembang Kuning itu ringkasnya begini: Dewi Sekartaji, putri Prabu Brawijaya, hilang karena akan dilamar Raden Kelono yang tidak dia sukai karena perangainya kasar. Maka Prabu Brawijaya mengadakan sayembara untuk menemukan Dewi Sekartaji. Hadiah yang dijanjikan bagi pemenang, kalau laki-laki jadi suami Dewi Sekartaji, kalau perempuan jadi saudaranya.

Joko Kembang Kuning berhasil menemukan sang dewi. Raden Kelono tidak terima dengan kenyataan ini, dia malah mengajak Joko Kembang Kuning berperang. Raden Kelono kalah, dan akhirnya Dewi Sekartaji menikah dengan Joko Kembang Kuning.

Berbeda dengan dalang wayang kulit yang memainkan satu demi satu tokohnya, dalang wayang beber cukup membentangkan (membeberkan) layar berlukiskan adegan. Satu layar berukuran 4 x 1 meter itu bergambar empat adegan.

Hanya satu adegan yang dibuka saat dimainkan, sedangkan tiga lainnya tergulung. Setelah empat adegan selesai diceritakan, dalang mengambil gulungan baru untuk dibeberkan. Demikian seterusnya hingga enam gulungan diceritakan. Wayang beber ini rampung dalam waktu lebih kurang dua jam.

Cenderung statis memang dibandingkan wayang kulit atau wayang golek yang tokoh-tokohnya bisa digerakkan. Wayang beber hanya lembaran kertas berlukis adegan. Maka kemampuan dalang punya peran sangat penting.

Wayang beber dimulai pada masa Kerajaan Jenggala (sekarang Kabupaten Sidoarjo) pada tahun 1223 M, bentuknya masih berupa gambar di daun siwalan (lontar). Ketika Prabu Suryahamiluhur menjadi Raja Jenggala dan memindahkan keraton ke Pajajajaran pada 1244, cerita wayang purwa digoreskan di atas kertas. Inilah awal pemakaian kertas untuk wayang beber.

Wayang beber kemudian jadi harta pusaka keraton yang turun temurun milik raja-raja Jawa. Ketika pecah pemberontakan Geger Pacinan tahun 1743, Keraton Kartasura direbut pasukan perusuh, dan Pakubuwono II terpaksa mengungsi ke Ponorogo. Para abdi dan kerabat raja berusaha menyelamatkan benda-benda pusaka keraton, di antaranya kotak-kotak yang berisi wayang beber.

Kotak wayang beber itu ada yang dibawa ke arah timur hingga Karangtalun dekat Pacitan, dan ada yang diselamatkan jauh ke barat daya hingga ke Giring, Gelaran Wonosari di Gunung Kidul. Dua tempat inilah yang hingga sekarang masih mempertahankan wayang beber tradisi yang dimainkan persis seperti dulu.

Dalang wayang beber juga harus masih satu garis keturunan dalam, yakni dari ayah ke anak laki-laki. Di Pacitan, dalang wayang beber sudah 15 keturunan. Rudhi merupakan satu-satunya pengecualian, karena dia berada di luar garis keturunan. Dia bahkan tidak punya hubungan darah dengan dalang sebelumnya, alm. Mardiguno Utomo.

Mbah Mardi tidak berputra, hanya berputri. Dari putrinya, mbah Mardi mendapat cucu laki-laki bernama Handoko yang masih terlalu kecil untuk diajar mendalang. Menyiasati ini, Rudhi terlebih dahulu diangkat anak oleh mbah Mardi, maka tugasnyalah untuk kelak mengajarkan Handoko ilmu mendalang wayang beber.

Untuk sementara, Rudhi yang mengawal tradisi wayang beber di tengah kesenian kontemporer yang serba instan semarak. Ketika wayang orang dan wayang kulit membuka pintu bagi macam-macam inovasi, wayang beber Pacitan bertahan di pakemnya. Rudhi pun tak hendak melenceng dari garis.

Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta itu memberi alasan, “Saya tidak berani. Saya juga menjaga karena (wayang beber) itu warisan. Kalau diubah-ubah, jangan-jangan saya jual warisan. Warisan harus dijaga.”

Sudah hampir 800 tahun roman Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji dikisahkan secara anggun di tengah suasana magis, asap dupa, dan restu leluhur. Kisah cinta sejati yang tak pernah salah pilih, siapa pula yang bisa bosan mendengarnya?

****

 Dimuat di Majalah Detik edisi 18, 2-8 April 20012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s