Mencari Arah Matahari

Image

Papua, pulau besar di timur itu, menyimpan masalah yang berkali-kali lipat lebih berat dibanding yang dihadapi Jawa. Perbandingannya seperti langit dan sumur.

Oleh Silvia Galikano

“Beras dua karung Rp1,6 juta?” Vina (Laura Basuki) yang baru datang dari Jakarta itu terheran-heran di warung kelontong di Tiom. “Minyak goreng seliter Rp150 ribu? Pantesan, gimana ngga minta merdeka?!”

Oh, sebentar dulu, siapa orang Jakarta yang pernah dengar Tiom? Tiom nama distrik di perbukitan Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua, tak ada listrik, butuh 3 jam jalan darat dari Wamena, dan sekolah dasar jarang didatangi guru.

Seperti SD tempat Mazmur (Simson Sikoway), Thomas (Abetnego Yigibalom), Yokim (Razz Manoby), Agnes (Maria Resubun), dan Suryani (Friska Waromi) bersekolah. Sudah enam bulan tak ada guru yang datang ke sekolahnya.

Awalnya anak-anak bisa mengisi hari dengan menyanyi bersama di kelas, tapi kemudian mereka berkeliaran di bukit-bukit, bermain. Pendeta Samuel (Lukman Sardi) atau Dokter Fatimah (Ririn Ekawati) kadang menghimpun mereka untuk menyanyi di perbukitan beratap langit.

Anak-anak yang tak mendapat hak dasar mereka untuk bersekolah ini harus pula kena getah pertikaian orang tua. Ayah Mazmur, Blasius, terbunuh oleh Joseph, ayah Agnes, hingga terjadi perang antarsuku. Seru-seruan perang, saling panah, korban berjatuhan, tetap masalah tak selesai.

Kabar kematian Blasius sampai pula ke Michael (Michael Jakarimilena), adiknya di Jakarta. Michael pulang ke Tiom, bersama istrinya, Vina, untuk menghentikan pertikaian yang tak berkesudahan. Namun adik bungsunya, Alex (Paul Korwa), menolak ide Michael. Menurutnya, nyawa hanya pantas dibalas nyawa. Perang jadi jalan satu-satunya.

Setidaknya ada tiga masalah yang dikedepankan Di Timur Matahari, yakni Tiom yang kekurangan guru, Tiom yang sulit diakses hingga harga kebutuhan pokok mahal, serta perang antarsuku. Anak-anak ini dibawa berputar-putar dalam tiga masalah itu. Mereka menyelesaikan dengan cara mereka sendiri, menyanyi. Tapi tunggu dulu, masalah mana yang diselesaikan?

Oke, perang suku selesai dengan turunnya Mazmur dan kawan-kawan di tengah-tengah perang, menyanyikan lagu perdamaian. Namun apa kabar dengan masalah utama anak-anak itu, yakni tidak adanya guru? Padahal dari sanalah masalah ini berasal, setidaknya jika dilihat dari sisi Mazmur cs, bahwa mereka berkeliaran di luar sekolah, sampai bisa ada di tengah perang suku, karena tidak ada guru.

Skenario yang dibuat Jeremias Nyangoen jadi kehilangan fokus karena ingin mendesakkan macam-macam masalah di Papua ke film ini. Bahkan ketionghoaan Vina-pun jadi sumber masalah. Sesak sekali.

Meski demikian, penonton dijamu dengan keindahan alam perawan Papua yang berbukit-bukit, kebun ubi yang dipanen beramai-ramai, serta air sungai yang jernih dan lebar. Bocah-bocah terjun riang dari tebing ke dalam sungai dan mandi di sana.

Simson Sikoway dan empat rekannya yang sama-sama baru pertama bermain film ini bisa berakting natural. Dialog mereka kerap mengundang tawa saking polosnya. Dan suara bocah-bocah ini bening saat menyanyi. Menyihir kita untuk diam sejenak, mendengarkan lantun dari timur, dari negeri yang terlebih dahulu mendapat sinar matahari.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 30, 25 Juni-1 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s