Pertanyaan untuk Radio Gaga

 

Tren baru Simpangan “menyeret-tarik” kembali seni patung ke ranah yang dapat ditera. Bukan lagi apa saja boleh.

Oleh Silvia Galikano

Radio “Gaga” yang bukan patung itu ada dalam jajaran pameran patung. Bisa dibilang paling menarik perhatian dibanding yang lain karena paling atraktif. Radio jadul berbentuk kotak itu ditempeli pernik-pernik berkilat, kenop volume dan gelombangnya ditempeli bulu mata palsu warna ungu, rambutnya pirang, dan bertengger kacamata hitam di “wajah”-nya.

Radio “Gaga” juga bisa menggeleng dan mengeluarkan suara mendesah-desah. Genit sekali. Sampai-sampai panitia pameran harus selalu siaga memegang remote control di samping si Gaga ini. Kalau ada anak kecil yang mendekat, volume suara Gaga dipelankan sampai nyaris tak terdengar.

Mungkin pengunjung pameran bertanya-tanya bagaimana bisa benda begini masuk dalam kategori patung. Tapi Hardiman Radjab, si seniman pencipta Radio “Gaga”, tak ambil pusing karyanya itu masuk dalam kategori patung atau tidak, termasuk apakah dia seniman patung atau tidak.

“Yang saya ciptakan adalah karya trimatra (3D) saja. Apa jenis karya saya saja saya masih suka kagok menyebutnya. Satu kala disebut mixed media, kala lain disebut found object dan ready made. Yang penting saya menikmati proses kreasi,” pernyataan Hardiman saat pembukaan Pameran Seni Patung Baru: Simpangan di Galeri Salihara, Sabtu 28 Juli 2012.

Pameran yang berlangsung pada 28 Juli – 11 Agustus 2012 itu menampilkan karya-karya pematung dari Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, antara lain Anusapati, Didi Kasi, Erwin Utoyo, Komroden Haro, dan Ichwan Noor.

Demikian deras mengalirnya proses berkesenian di jalur ini. Sekarang, mematung bukan hanya memahat, tapi juga merangkai. Lebih spesifik lagi, Kurator Seni Rupa Salihara Nirwan Dewanto menjelaskan patung jadi semakin dekat dengan instalasi, desain, dan kriya, bukan lagi hanya bentuk yang padat, diam, dan membeku.

Jika sebelumnya hanya dikenal dua jalan, yakni jalan ketat sesuai konvensi dan jalan ekspansi yang membolehkan apa saja (anything goes), maka karya-karya dalam pameran kali ini menempuh jalan simpangan. Artinya, pematung bisa bebas menjelajah untuk memperluas watak dan konvensi seni patung dengan menolak prinsip anything goes.

Pasalnya, menurut Nirwan, anything goes membuat kabur mediokritas (membumikan seni rupa) akibat  tiadanya standar mutu dan penilaian. Yang begini tentu menyeret khalayak pada kebingungan.

Mari simak Platform(s) karya Aditya Novali yang berisi 12 objek rangka baja berbentuk persegi. Tujuh objek besar di lantai dan lima objek kecil menempel di dinding itu adalah “rancangan” landasan yang biasa digunakan untuk memajang sebuah karya patung.

Platform(s) mempertanyakan esensi sebuah karya patung dan apa yang paling berkesan bagi pengamatnya. Dengan “mereduksi” visualnya, yang terpenting bukan lagi  bentuk akhir karya tersebut, tetapi ingatan kita terhadap karya itu.

Atau yang lebih akrab dengan keseharian kita, patung Kelas Amatir yang dibuat Abdi Setiawan. Patung seukuran tubuh itu menampilkan petinju tanpa sarung tinju dengan bebatan di lengan hingga telapak tangannya. Dia mengenakan celana boxer loreng, kaus kutung bergambar wajah macan, dan pelindung kepala bertuliskan everlast. Wajahnya menyeringai, entah menahan sakit atau nyengir jahil karena berhasil mengalahkan lawan.

Kritikus pernah menyebut kehadiran patung-patung Abdi Setiawan sebagai momen kembalinya patung-patung realis berbentuk manusia ke dalam seni patung Indonesia.

Dia biasa mengangkat tema kehidupan sehari-hari masyarakat kelas bawah dengan citra yang dekat dengan keseharian. Tidak ada badan kekar, wajah cantik, atau lekuk tubuh yang sempurna. Petinju amatir itu contohnya, justru karena ceking dan culun, sosoknya jauh lebih menggugah perasaan ketimbang dicitrakan gempal, kekar, dan ganteng.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 36, 6-12 Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s