Teater Kami Menafsir Senja

Image

Sakralnya lembaga perkawinan semakin tergerus. Cacat komunikasi kerap jadi kambing hitam.

Oleh Silvia Galikano

Laki-laki tua yang sakit-sakitan (Jean Marais), menyesali tubuh rentanya yang kian hari kian lemah. Dia hidup sendiri berteman kursi rotan reot. Istri sudah lama pergi, begitu si suami sakit-sakitan. Belakangan burung gagak kerap singgah, bertengger di jendela.

“Aku masih belum ingin senja. Aku masih belum ingin senja. Aku masih belum ingin senja.”

Baginya, senja terasa melelahkan, apalagi dilewatkan seorang diri. Laki-laki itu ingin mempercepat laju senja hingga langsung malam. Dia menuang racun serangga ke dalam gelas dan menenggaknya sekali habis. Gaek itu tersungkur di lantai, tak jauh dari kursi rotan reotnya.

Babak berikutnya adalah pasangan muda yang kerap bertengkar gara-gara si istri (Irawita) yang bekerja di dunia broadcasting selalu pulang larut malam. Si suami (Zank Smooth), yang karyawan dengan jam kerja pasti, tak paham dengan dunia kerja istrinya. Sarapan mereka tiap pagi adalah bertengkar, sahut menyahut saling meninggikan suara. “Oke kita selesaikan saja hubungan ini sekarang,” si istri mengambil keputusan.

Lain lagi masalah yang dihadapi seorang perempuan lajang (Piala Dewi Lolita). Kerjanya sepanjang hari berantem dengan pacarnya lewat telepon karena si pacar pencemburu. “Kalau tahu begini, gue lebih baik tidak kenal dia. Gue pacarin aja cowok yang dia cemburui itu.”

Dua pengamen naik panggung. Satu menepuk gendang, satu lagi –tunanetra- menyanyi. Dunia tak seperti yang diharapkan/ Karena itu jangan kau padanya/ Jiwamu bisa mati/ Jiwamu bisa mati….

Urusan perpisahan dan perceraian yang awalnya cuma sebatas tembok kamar, sekarang jadi membiasa di media televisi dan bukan lagi jadi aib. Teater Kami mengangkat masalah ini melalui Gegeroan yang menyorot hubungan antarindividu, di dalam dan di luar lembaga pernikahan, akibat cacatnya komunikasi. Pentas digelar di Bentara Budaya Jakarta, Kamis 30 Agustus 2012.

Gegeroan adalah bagian ketiga naskah drama setelah Gegerungan dan Gegirangan yang sudah pernah dipentaskan. Gegerungan dipanggungkan pada 2009 di Teater Kecil TIM dan Gegirangan pada 2011 di Bentara Budaya Jakarta. Ketiganya juga sudah diterbitkan dalam satu buku berjudul Bah Trilogi, Pergaulan dalam Tiga Pemeristiwaan Teater.

Panggung Bentara Budaya Jakarta kali ini dipisah jadi dua, di tepi kanan dan tepi kiri ruang, saling berhadapan. Penonton duduk di lantai beralas karpet di antara dua panggung. Pementasan awalnya berlangsung di panggung kiri, lalu ke panggung kanan, lalu ditutup di panggung kiri lagi. Penonton yang awalnya duduk menghadap panggung kiri, memutar arah duduknya 180 derajat ketika adegan pindah ke panggung kanan.

Pemisahan panggung, menurut sutradara Teater Kami, Harris Priadie Bah, untuk membedakan secara tegas dua bagian kehidupan yang “nasibnya” berbeda. Panggung kiri mewakili orang-orang yang sudah dan sedang mengalami masalah. Panggung kanan penyaksi dan mengetahui masalah yang ada di panggung kiri, dan menjadikan masalah itu sebagai bahan introspeksi.

Mari tengok panggung kanan. Tak ada yang berteriak-teriak di sana. Hanya ada sepasang suami istri (Harris Priadie Bah dan Ribka Maulina Salibia) sedang berfilsafat ringan tentang rumah tangga. Dari teras rumah, keduanya dapat menyaksikan perpecahan demi perpecahan perkawinan berlangsung di depan mata.

“Kamu adalah rusukku yang hilang.”

“Memang selama ini ke mana perginya?”

“Ada yang mencuri.”

“Asal jangan tertukar saja dengan rusuk perempuan lain.”

“Ukurannya belum tentu cocok, Dik.”

Obrolan keduanya sampai pada pertanyaan haruskah hubungan yang retak berujung pada kehancuran? Tidak adakah jalan lain yang bisa ditempuh agar petaka tidak tambah membesar? Benarkah terlalu banyak alasan untuk memilih perpisahan daripada mempertahankan hubungan?

Kemudian terdengar holy matrimony (pemberkatan pernikahan umat Anglican) Pangeran Charles dan Putri Diana 30 tahun lalu, berlanjut suara sakramen pernikahan, pemberkatan, dan ijab kabul dalam bahasa  Inggris dan bahasa Indonesia saling tumpang tindih. Pertanyaan mengemuka kembali, masihkah pernikahan dianggap sebagai lembaga suci? Ataukah tak lebih materi pengisi infotainment?

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 41, 10-16 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s