Cerita Tenun dari Negeri Sabana

tenun 107

Di Indonesia bagian tenggara masih kita temui kain dengan motif yang sama sejak nenek moyang dahulu hingga yang paling kontemporer. Identitas kita ada di situ.

Oleh Silvia Galikano

Empat ekor gajah—berhadapan sepasang-sepasang—jadi motif utama keng, sarung dari Alor bagian barat laut. Selebihnya adalah lajur-lajur tipis di atas dasar hitam. Sarung ini terdiri dari dua panel melintang yang masing-masing dua tepinya dihubungkan dengan jahit tangan. Bahannya dari katun yang dipintal tangan, menggunakan pewarna alami, dan menggunakan teknik tenun ikat lungsi, yakni teknik ikat dan pencelupan hanya pada benang lungsi atau benang vertikal.

Motif gajah di Alor baru lahir pada masa pendudukan Belanda, yakni dari pengaruh tekstil India. Kala itu, pejabat Belanda di Nusantara mengimpor tekstil India untuk diberikan pada tokoh-tokoh lokal tertentu. Seiring waktu, keng digunakan sebagai maskawin masyarakat lokal. Sekarang, kain ini dijual juga di toko-toko cinderamata khas Alor.

Ada banyak lagi cerita yang melatarbelakangi lahirnya motif-motif cantik kain tenun di Nusa Tenggara  dalam pameran Pesona Tenun Indonesia Bagian Tenggara, dari Bali ke Timor.  Acara ini digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 5-14 Desember 2013.

Umumnya di daerah-daerah yang relatif sulit diakses, teknik, motif, dan pewarnaan tetap memelihara cara-cara kuno. Sebaliknya di daerah pesisir yang mudah diakses dikenal dengan inovasinya dan mendapat banyak bahan serta inspirasi dari daerah lain.

Tapo subanale, misalnya. Kain panjang dari Lombok Tengah ini dikenakan perempuan dan laki-laki sebagai kemben, di atas sehelai kain yang lebih panjang. Kata “subanale” berasal dari ekspresi Islam “subhanallah,” pujian kepada Yang Mahakuasa yang diucapkan sebelum mulai menenun dan setelah berhasil menyelesaikan tenunan yang rumit ini.

Bergeser ke timur dari Pulau Lombok, yakni Pulau Sumbawa, terasa adanya pengaruh Islam. Di kain-kain kerajaan, jamak dijumpai motif ayam jantan, rusa bertanduk, kapal layar, hantu manusia, bouraq (kuda bersayap dengan wajah wanita), bunga teratai, dan sulur-suluran, tiga yang disebut terakhir itu mencerminkan pengaruh Islam.

Hubungan yang akrab antarpulau juga menyebabkan penyebaran teknik tenun dan motif ke pulau-pulau lain. Ambil contoh brokat atau songket yang ada di Bali bagian tenggara masuk juga ke Timor. Atau teknik lompat lungsi dari Minahassa di Sulawesi Utara, berlayar ke Pulau Seram lalu ke Timor dan Sumba.

Bali, Lombok, dan Sumbawa yang akarnya sama, mengembangkan tradisi tekstilnya sendiri-sendiri. Kain utama mereka adalah songket dengan pola benang metalik di atas dasar katun dengan motif bunga, wayang, dan payung. Sutra hanya dipakai dalam lingkungan istana di Bali dan Lombok bagian barat.

Bali masih mempertahankan kain geringsing sebagai pakaian ritual. Teknik menenunnya rumit, bahkan terbilang paling jarang di dunia, yakni ikat ganda. Benang pakan dan benang lungsi terikat dalam pola dan pewarna yang saling terpisah tapi harus ditenun dalam sinkronisasi sempurna untuk membuat motif. Teknik ikat ganda yang dulu dikenal luas di Bali, kini hanya tersisa di Tenganan, yakni untuk keperluan upacara dan ritual.

Corak gelap dengan pola elegan ditemui dalam kain tenun Sawu dan Rote, dua pulau yang berada antara Timor dan Sumba. Bedanya motif kain di Rote lebih bebas dibandingkan di Sawu. Di Sumba bagian barat, warna-warna kainnya redup, seperti biru indigo dan putih polos dengan sedikit garis merah dan kuning atau dua corak garis indigo. Motifnya diambil dari benda mati, seperti bentuk omega berwana emas.

Di Sumba bagian timur, motifnya diambil dari objek hidup, seperti kuda, ayam jantan, rusa, monyet, naga, dan figur manusia di pohon tengkorak, yakni pohon tempat menggantung kepala-kepala musuh yang tewas dalam pertempuran.

Serupa dengan motif-motif lain, ragam hias pohon tengkorak adalah sublimasi dan catatan peradaban masyarakat nir-aksara Sumba atas perang antarsuku yang hingga kini masih terjadi. Peristiwa itu tak tertulis, tetapi terwacana dalam ekspresi visual tenun dan jadi simbolik estetik.

Indonesia bagian tenggara, khususnya Nusa Tenggara Timur, hingga kini tetap bagai negeri dongeng. Langit Flores dan Sumba masih biru sebiru-birunya. Pada senja, berubahnya warna langit tetap berlangsung indah luar biasa, menciptakan siluet bocah-bocah yang memacu kuda serta kerbau yang berjalan pelan.

Keadaan itu berulang-ulang setiap hari, melahirkan produk budaya menakjubkan. Tradisi tenun dan pembuatan kain-kain adat dengan teknologi serta pesan simbolik yang mencengangkan itu baru secuil. Masih banyak lagi yang patut dikenal dari negeri sabana, negeri yang juga menyimpan penggalan identitas kita.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 107, 16-22 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s