Hipnotis Dua Flamboyan

iglesias

Berselang 17 tahun sejak kehadirannya yang pertama di Jakarta, Julio Iglesias tetap menyedot banyak penggemar. Pesonanya masih bikin klepek-klepek.

Oleh Silvia Galikano

Kharisma yang kuat tetap melekat di  Julio Iglesias. Di usianya yang 70 tahun, pria flamboyan ini tidak pernah merasa “terlalu tua” untuk memuji seorang perempuan muda. Simak kalimatnya saat mengundang Bunga Citra Lestari (BCL) naik panggung.

“Suaranya bagus, sikapnya luar biasa, dia baik. Mungkin saya jatuh cinta padanya dan akan mengajaknya makan malam. Maunya sih mengajak menikah, tapi kan tidak mungkin karena dia sudah menikah.”

BCL yang muncul dalam gaun hitam berbahu terbuka itu pun dia sambut dengan pelukan yang lumayan lama. Sampai di sini sudah selesai Iglesias tebar pesona? Tentu saja belum.

Keduanya membawakan All of You, lagu yang aslinya dibawakan duet dengan Diana Ross pada 1984. BCL berdiri di depan Iglesias. Bahunya menempel di dada Iglesias dan laki-laki Spanyol itu menyanyi dengan posisi bibir nyaris menempel di pelipis BCL.

Satu kali tangan kirinya dari belakang memegang pundak kiri BCL yang terbuka.  Kala lain telunjuk kanannya menggores bahu kanan hingga turun ke lengan atas BCL. Iglesias tertawa nakal, lalu cepat-cepat membuat tanda salib.

Malam itu, Selasa 3 Desember 2013, Julio Iglesias sukses menebar pesona megawatt-nya dalam konser bertajuk Julio Iglesias with Special Guest Star James Ingram Live in Jakarta di Assembly Hall Jakarta Convention Center. Penyanyi dan pencipta lagu kelahiran Madrid, Spanyol itu membuat penonton terhipnotis lagu-lagu romantisnya. Konser kali ini adalah penampilannya yang ke-2 di Jakarta setelah konser pada 1996 yang juga sukses.

Iglesias muncul pada pukul 9 malam di tengah panggung yang temaram ungu dalam setelan kemeja putih berbungkus jas hitam dan pantalon hitam. Amor Amor Amor melantak atmosfer Assembly Hall, menyegerakan penonton untuk bersiap menerima sentuhan Latin hingga sisa malam.

Amor, amor, amor// Nacio de ti, nacio de mi//De la esperanza//Amor, amor, amor//Nacio de Dios, para los dos//Nacio del alma.

Setelah dilanjutkan dengan La Gota Fria yang juga riang, Iglesias menyapa penonton, “Good evening, Jakarta. Sudah bertahun-tahun saya tidak ke sini. Let’s have fun tonight!”

Mengalun Natalie yang beberapa bagian nadanya mirip Panon Hideung dari Sunda serta lagu sedih Echame A Mi La Culpa. Suasana kemudian dibawa naik lagi lewat A Media Luz dan Mammy Blue yang menghadirkan sepasang penari tango. Penonton pun diajak menyanyi di bagian Oh mammy// Oh mammy mammy blue//Oh mammy blue….

Iglesias sempat nyeletuk, “Anda tahu, terlalu banyak menari Latin bisa bikin hamil?” yang langsung disambut tawa penonton. Begini penjelasannya. Musik Latin yang paling sensual dan paling seksi adalah tango. “Dan saya lahir karena ibu dan ayah saya ber-tango dalam posisi vertikal,” ujarnya yang membuat tawa penonton makin menggema.

Dalam logat Spanyol yang kental, Iglesias membuat komunikasi secara baik dengan penonton, meski semua duduk manis, tak ada kelas festival yang biasanya bereaksi paling heboh.

Selain anekdot lucu tentang tango yang bisa bikin hamil, dia juga tuturkan pernah jadi tim sepakbola terbaik dunia, Real Madrid, pada usia 24 tahun dan mengambil master di bidang hukum. “Now I’m not a lawyer but a liar.”

Ada pula cerita haru tentang pertemanannya dengan penyanyi tenor dari Italia, Luciano Pavarotti. Pavarotti pernah mengiriminya seikat bunga dengan pesan, “See you in heaven.”

Beberapa hari kemudian, saat mendengar kabar Pavarotti meninggal, Iglesias tersadar bahwa bunga yang dia terima itu adalah tanda perpisahan. Cerita ini jadi pengantar lagu berikutnya, Caruso, sebuah tribute untuk Pavarotti yang wafat pada 6 September 2007.

Lagu-lagu Iglesias yang berbahasa Spanyol kurang akrab di telinga penonton Jakarta ketimbang yang berbahasa Inggris. Tak heran ketika dia meminta penonton ikut menyanyikan Manuela, lagunya dari tahun 1974, tak banyak penonton yang bereaksi.

Lain halnya ketika dia membawakan Crazy, Careless Whisper, Always on My Mind, Let It Be Me, For Ever and Ever, hingga Can’t Help Falling in Love suara penonton memenuhi Plenary Hall, membuat aura romantis semakin pekat. Bahkan ketika A Mi Manera dilantunkan, penonton keukeuh “menyanyi sendiri” versi Inggris-nya, My Way.

Konser ini diawali penyanyi RnB asal Amerika Serikat James Ingram membawakan lagu-lagu hitsnya pada 1980-an. Terbilang One Hundred Ways, There’s No Easy Way To Break Somebody’s Heart, Baby Come to Me, I Don’t Have the Heart, Just Once, dan How Do You Keep the Music Playing yang sudah dikenal pencinta musik Tanah Air.

Kepalanya yang sekarang botak sempat dia jadikan bahan olok-olokan, “She hurt me, that’s how I lost my hair.”

 

Ingram juga membawakan lagu Stevie Wonder My Cherie Amour dan I Believe I Can Fly yang dipopulerkan R. Kelly. Peraih Grammy Award itu kemudian mengajak Sherina berduet dalam Somewhere Out There. Dengan cara masing-masing dua legenda musik dunia itu mengisi malam Jakarta. Daya sihir mereka berbeda, tapi sudah pasti, sama kuatnya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 106, 9-15 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s