Ironi Kita dalam Lakon Tiga Babak

hah

Baru kali ini Teater Mandiri mementaskan lakon HAH setelah 26 tahun ditulis. Ternyata kisah pedih masyarakat marjinal Indonesia tak berubah.

Oleh: Silvia Galikano

“Hei, Cantik, kasih saja kalau dia mau bayar!” sambil menggendong bayi, Siti (Vien Herman) berseru ke anak tirinya yang remaja. Cantik (Intan) yang sedang ranum-ranumnya itu dipandang penuh nafsu oleh seorang pemuda. Artinya, bagi Siti, besok dapurnya bakal ngebul.

Kehidupan Siti makin lama makin berat. Suaminya, Pian, sudah setahun hilang tanpa kabar. Utang di tetangga makin menumpuk dan semua sudah melewati tenggat waktu. Si Pincang (Bambang Ismantoro), bandar narkoba di kampung itu, masih saja tiap hari datang teriak-teriak mencari Pian menagih utang, “Pian bopeng! Kampret! Di mana lu?” Dia yakin Siti menyembunyikan suaminya di rumah.

Kupingnya sudah kebal dengan sangkaan buruk ibu-ibu tetangga bahwa dia sengaja tidak akan membayar utang pada mereka.  Siti sampai pernah menyerahkan golok ke tetangganya yang datang menagih utang, agar dipenggal saja lehernya. Pernah juga menyerahkan korek api agar dibakar saja rumahnya. Gertakan ini lumayan meredam kegarangan mereka walau tidak mengurangi nyinyirnya.

Anak tirinya satu lagi, Boy (Alung) si pengunjung tetap lokalisasi, kali ini pulang dalam keadaan sakit kelamin. Langsung terkapar di rumah. Boy sempat melaporkan melihat bapak bersama gendak barunya yang janda, di suatu tempat. Siti tak peduli.

Keluarga itu makan hanya dari penghasilan anak tiri Siti yang waria jalanan, Isabella (Ucok Hutagaol). Tiap pagi Isabella pulang sempoyongan dengan lembar-lembar duit receh terselip di balik kutang.

Isabella sejatinya laki-laki, tapi dipaksa keadaan untuk berdandan perempuan dan bergenit-genit agar jasanya laku. Kali ini dia sudah muak dengan peran demikian berat yang harus dia pikul.

Keinginan Isabella didukung nenek angkatnya (Laila) yang juga tinggal di rumah itu. “Anak bagus diajar jadi banci, bencong, bences, tapi dihina terus!” kata nenek bersungut-sungut. Dari dulu dia menyarankan Pian kawin dengan anak pak Lurah, bukan dengan Siti yang sama-sama susah.

Tak tahan lagi dengan kerasnya himpitan hidup, Siti memutuskan hendak gantung diri. Dia sudah berdiri di atas kursi kayu. Tambang sudah dilingkarkan di leher. Tinggal menendang kursinya, maka selesai penderitaan. “Anak rusak, aku yang disalahkan. Perempuan selalu dijadikan bulan-bulanan. Besok tukang kredit datang, entah dengan apa dibayarnya.”

Di titik ini lakon HAH oleh Teater Mandiri mencapai klimaks. Sejak awal penonton digebah dengan kata-kata yang keras, kasar, dan brutal, menguatkan kesan kerasnya kehidupan masyarakat yang dipinggirkan sistem. Set panggung juga dibuat sederhana, hanya tiga bagian, yakni rumah Siti, warung tetangga, dan gerobak dangdut.

Lakon tiga babak itu dipentaskan pada 14 dan15 Desember 2013 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ini merupakan pementasan pertama HAH oleh Teater Mandiri sejak naskahnya ditulis Putu Wijaya di DeKalb, kota kecil dekat Chicago, AS pada 1987 dan sempat mengalami revisi pada 2008 di Jakarta.

Dari DeKalb yang serbarapi dan serbaada, Putu Wijaya melihat penderitaan masyarakat Indonesia demikian tak terperi. Beda kehidupan masyarakat kelas atas dan kelas bawah jomplang. Menjual diri dan menjual anak jadi cara yang wajar untuk bisa makan.

“Menyuruh anak berbuat cabul dan semacamnya itu kan dosa, tapi buat masyarakat yang betul-betul membutuhkan uang itu sudah terbiasa, jadi kehidupan mereka sehari-hari,” kata penulis skenario dan sutradara Putu Wijaya saat gladi resik pada 13 Desember 2013.

Di tengah hari-hari pedih dan sengsara, Siti dan anak-anak tirinya mendapat kabar baik: Pian menang lotre satu miliar. Para tetangga yang sebelumnya hanya memandang sebelah mata pada keluarga ini, mendadak ramah bukan main. Siti bahkan dirayu untuk jadi lurah, bahkan walikota.

Namun anak-anaknya tak rela ibunya jadi lurah, apalagi jadi walikota, walau dijanjikan penghasilan 60 miliar sebulan. Siti terketuk, ternyata anak-anaknya punya cinta yang besar padanya, ibu tiri mereka. Anak-anaknya bisa tetap berpikir jernih di tengah lingkungan kotor. Dia merasa optimistis, meninggalkan tempat ini untuk memulai kehidupan baru di tempat lain.

Persoalan hidup Siti dan caranya menyikapi sebagian demi sebagian jadi bahan renungan bersama. Di tengah hidup yang keras dia menemukan cinta dari anak-anak tirinya, dia pun mencintai mereka secara tulus. Ternyata ada yang tetap bersih dalam lingkungan yang demikian bobrok. Dan dipertautkan cinta, anak tiri atau kandung tak jadi beda. Kalimat Siti berikut pas rasanya untuk menutup ulasan ini:

“Hidup adalah susunan kenyataan, tapi  bukanlah realitas yang kekal. Karena hidup dan kehidupan harus dilakoni dan dihadapi. Kehadirannya seperti tanpa arti, tapi kepergiannya begitu melukai.”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 108, 23-29 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s