Janji Bali untuk Dunia

wcf

Kebudayaan adalah ranah yang luas dan rumit. Ada ilmu pengetahuan dan toleransi di dalamnya, dua hal penting yang dituntut dalam globalisasi.

Oleh Silvia Galikano

Forum Kebudayaan Dunia (World Culture Forum-WCF) rampung dengan membuahkan Janji Bali (Bali Promise). Sejumlah 800 delegasi dari 65 negara yang berkumpul di Nusadua, Bali, pada 24 – 27 November 2013 bersepakat budaya adalah penggerak dan memperkaya pembangunan, karenanya harus secara eksplisit dimasukkan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan Pasca-2015.

WCF adalah forum internasional dua tahunan yang  baru kali ini dihelat. Indonesia penggagasnya. Tahun ini bertema Kekuatan Budaya dalam Pembangunan Berkelanjutan.

Garis besar isi Janji Bali adalah melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam pembangunan budaya di semua tingkat, dengan etos kerja terukur.  Disepakati pula untuk mendukung kepemimpinan kaum muda di bidang kebudayaan serta diterapkannya konsep yang jernih dan adil dalam pengarusutamaan isu-isu gender. Sama pentingnya adalah menerapkan ilmu tempatan dalam konservasi lingkungan dan perlindungan warisan budaya.

Pengaruh budaya tempatan ikut menentukan keberhasilan suatu negara sudah terbukti di Cina. Dalam pidato tanpa teks, intelektual dan komentator sosial CNN DR Fareed Zakaria menjelaskan pada 1970-an Ketua Partai Komunis Cina yang seorang reformis, Deng Xiaoping, mengubah banyak hal di bidang ekonomi. Satu hal yang tidak diubah adalah budayanya yang sudah ribuan tahun.

“Etos kerja adalah bagian dari budaya meski sulit mencari hubungan yang jelas antara budaya dengan kinerja ekonominya yang stabil dan bertahan berabad-abad,” ujar Zakaria.

Budaya, yang luas dan rumit, sering dianggap bertanggung jawab atas semua hal. Budaya bukan satu-satunya pendorong ekonomi, bukan juga penghambat ekonomi, tapi budaya memperkaya ekonomi. Lantas faktor apa dalam budaya yang mendorong kemajuan pembangunan? Tak lain kecintaan dan penghargaan pada ilmu pengetahuan.

Zakaria melanjutkan, “Sewaktu saya ke Cina, Bill Gates layaknya Britney Spears di Cina. Di Amerika, Britney Spears ya Britney Spears. Cina memiliki penghargaan luar biasa pada ilmu pengetahuan.”

Cina juga punya keinginan besar untuk belajar pada siapapun yang berada di puncak semua bidang di dunia. Ini jadi tolok ukur di perusahaan-perusahaan di Cina. Gagasan untuk membuka diri pada yang terbaik dan belajar pada yang terbaik adalah bahan terpenting pembentukan budaya.

Lain lagi masalahnya dengan dunia Islam. Islam terstigma tidak mendorong pertumbuhan ekonomi. Zakaria tidak mengelak bahwa kenyataannya pertumbuhan ekonomi lebih rumit di negara-negara berpopulasi muslim. Terlebih sejak peristiwa 11 September 2001, muncul budaya militansi dan kelompok Islam yang mengedepankan kekerasan.

Islam ada sejak 14 abad lalu, tapi mengapa kekerasan baru ada belakangan? Maka tidak masuk akal jika Islam jadi permasalahannya. Budaya kekerasan ini berasal dari wilayah tertentu.

Indonesia merupakan populasi muslim terbesar di dunia. Lalu berturut-turut Pakistan, India, Bangladesh, baru negeri Timur Tengah, Mesir . “Tapi konsepsi orang tentang Islam justru terbentuk dari kobaran api di Timur Tengah. Api yang disulut alasan spesifik, ekonomi.”

Maka gugur argumentasi bahwa Islam terbelakang dan tidak memungkinkan majunya ekonomi. Zakaria memberi contoh Turki dan Uni Emirat Arab, dua negara berpopulasi muslim, yang perkembangan ekonominya terbesar.

Lantas bagaimana dengan peran Indonesia? Profesor ekonomi dan filsafat di Universitas Harvard, Amartya Sen menjangkau jauh ke belakang, ke masa Sriwijaya berkarib dengan universitas tertua dunia, Nalanda di India. Artinya, pada abad ke-6 dan ke-7, Indonesia sudah mengenal globalisasi dan sudah memainkan peran konstruktif.

Nalanda membuat kerjasama pan-Asia yang melibatkan bukan hanya India, Indonesia, dan Cina,  tapi juga Korea, Jepang, Thailand, dan negara-negara Asia lainnya. Universitas ini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa dari dalam dan luar negeri. Mahasiswa, misalnya dari Cina, yang bercita-cita tinggi berkesempatan belajar bahasa Sansekerta, sastra, dan agama Buddha, di Sriwijaya, Sumatera.

Dan di zaman kontemporer, ketika globalisasi ditumbuhi bibit perpecahan dan permusuhan antargolongan, penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi itu menawarkan langkah-langkah solusi yang sebenarnya sudah dilakukan 15 abad lampau. Yakni hidup berdampingan secara damai, menggantikan konfrontasi dengan dialog, serta memahami bahwa perdamaian dan keamanan adalah kunci dari kemajuan sosial. “Sejarah Indonesia dan India merupakan contoh kuat bagaimana bertoleransi.”

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 105, 2-8 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s