Karlina & Keluasan Makna

karlina

Kebudayaan tidaklah hanya seni dan berkesenian. Korupsi gila-gilaan atau kekerasan berkedok penegakan moral adalah hasil salah kaprahnya pemaknaan kebudayaan.

Oleh Silvia Galikano

Indonesia berhadapan dengan persekongkolan memperebutkan apa saja yang bisa dijarah dari negeri ini. Maka lahirlah ironi bahwa kearifan lokal terus disanjung sebagai tradisi yang perlu dirawat dan diwariskan, tapi justru rujukan material-spiritualnya hancur berantakan. Rupanya bukan tradisi yang ingin dibela, melainkan citra tentang tradisi yang lebih mudah untuk dikemas dalam pertunjukan.

Hal itu disampaikan Karlina Supelli dalam Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertajuk Kebudayaan dan Kegagapan Kita di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Senin 11 November 2013. Pidato Kebudayaan DKJ adalah tradisi DKJ sejak 1989 sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Taman Ismail Marzuki.

Setahun sekali, DKJ mengundang salah satu warga negara terbaik Indonesia untuk merefleksikan jalan kebudayaan kita sebagai sebuah bangsa. Tokoh-tokoh yang pernah memberikan pidato kebudayaan antara lain Umar Kayam (1989), Fuad Hassan (1995), Ali Sadikin (1999), Sri Sultan Hamengkubuwono (2002), dan Mahfud MD (2012).

Karlina adalah salah satu perempuan filsuf dan astronom Indonesia. Perempuan kelahiran 15 Januari 1958 ini adalah sarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung (1981) yang memiliki minat besar pada fisika, matematika, metafisika, dan isu-isu kemanusiaan. Pada 1998, dia memimpin demonstrasi Suara Ibu Peduli. Karlina memperoleh gelar Doktor Filsafat dari Universitas Indonesia (1997) dan kini jadi pengajar program pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara.

Pidato Karlina menukik ke permasalahan-permasalahan filosofis bangsa. Kebudayaan sejatinya tugas tanpa akhir menyangkut jejaring makna, tindakan, berikut karut marutnya, ternyata mengalami penciutan makna, sehingga kebudayaan dianggap hanya urusan para empu.

Mari mulai dari hutan. Hutan bagi masyarakat adat di Indonesia bukan sekadar sumber mata pencaharian, melainkan acuan bagi rasa merasa akan kosmos, sejarah muasal, tata hukum, dan tunjuk ajar perilaku. Ambil contoh tikar rotan hasil anyaman perempuan-perempuan Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah yang bermotif batang garing (pohon kehidupan) yang dipercaya sebagai asal muasal mereka. Atau tenun daro dari serat tanaman doyo (Curculigo latifola) yang dibuat perempuan Dayak Benuaq di Kalimantan Timur.

Ketika beberapa belas tahun terakhir hutan menipis, rotan semakin langka. Perempuan-perempuan Dayak Benuaq kesulitan menemukan tanaman doyo yang hanya hidup di lantai-lantai hutan yang gelap dan lembap. Hutan sekitar kampung beralih menjadi perkebunan raksasa monokultur atau habis terbabat untuk industri perkayuan. Di titik lain bumi Borneo hanya tersisa galian tambang yang dibiarkan menganga.

Bagaimana Indonesia 30 tahun yang akan datang? Saat itulah hutan di Kalimantan diramalkan mendekati punah. Puspa satwa, rupa-rupa intuisi, imajinasi, dan sumber-sumber pengetahuan tergulung pelan-pelan ke balik kabut waktu.

Sementara itu nalar ekonomi mencuri salah satu cita-cita kebudayaan, yakni merancang pendidikan untuk menghasilkan warga negara yang mempunyai visi kebaikan tertinggi bagi kehidupan bersama. Nalar ekonomi mengalihkannya jadi agenda “mendidik” hasrat dan kebiasaan kultural konsumen agar menghendaki segala hal gemerlap yang ditawarkan pasar. Tak heran jika penyigian The Nielsen Company pada awal 2013 menyimpulkan orang Indonesia paling doyan belanja dan mudah terpengaruh iklan.

Indonesia juga satu dari sepuluh negara pengguna terbanyak internet, tapi 95 persen penggunaan adalah untuk media sosial. Indonesia pengguna aktif Facebook nomor empat di dunia, dan ciapan (twit) tertinggi di dunia berasal dari Jakarta, 15 twit/detik. Sebuah budaya baru telah lahir bersama teknologi digital, itulah budaya selalu terhubung (always online), budaya komentar (comment culture), dan kecenderungan untuk selalu berbagi (sharing).

Ironisnya, tidak ada korelasi antara penggunaan piranti teknologi kontemporer dengan jatuh bangun hidup warga kebanyakan. Setiap jam, dua ibu di Indonesia meninggal karena melahirkan. Tenaga kerja Indonesia yang paling banyak adalah lulusan SD ke bawah (55,1%) yang menandakan tingginya putus sekolah di usia SD. Dan sekitar 7 juta penduduk masih buta huruf.

Uraian tersebut membuktikan betapa diskusi-diskusi kebudayaan cenderung membatasi diri pada nilai-nilai luhur atau kebudayaan sebatas warisan. Kebudayaan yang disempitkan itu jadi gagap dan hampir-hampir lumpuh menghadapi brutalitas fakta sosial, ekonomi, dan politik yang sehari-hari kita hadapi.

Di sinilah seni dan sastra berperan penting dalam proses pendidikan, bukan sekadar tempelan demi memenuhi kurikulum. Kebudayaan akan bekerja jika kita berhasil mengaitkannya dengan kemampuan mendidik (mengendalikan) hasrat. Kebudayaan adalah siasat untuk menjadikan kebiasaan berbelanja bukan karena ingin, tapi karena perlu. Menonton pergelaran seni, film, acara-acara televisi sebagai bagian dari mendidik selera dan mendidik hasrat.

Selain itu, ada kecenderungan tergesa-gesa mengambil sikap normatif dengan mengajukan solusi moral sebagai jalan keluar. Seolah-olah “kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan peradaban” dapat selesai apabila kita melekatkan aneka kecakapan yang sedang kita pelajari ke kesalehan. Seolah-olah kekerasan remaja hanya perkara moral yang lemah. Korupsi yang ganas di negeri ini adalah salah satu bukti tidak selalu ada kaitan langsung antara moralitas dan kesalehan.

Lagak moralis dan saleh tidak akan menjadikan kita bangsa bermoral. Dengan ngeri kita menyaksikan bagaimana orang menyerang, menindas, dan membunuh atas nama kesalehan yang terkunci dalam bingkai penafsiran sempit. Gejala kekerasan semacam itu nampak sebagai gerakan kultural, padahal sebetulnya gerakan politik untuk mengambil alih ruang-ruang kebudayaan dan bingkai kekuasaan.

Tugas kebudayaan jugalah untuk menciptakan kepemimpinan sebagai etos tanggung jawab dan bukan kekuasaan. Tanggung jawab adalah jalan sepi sang pemimpin. Dia bahkan tidak dapat membuang tanggung jawab ke kekuatan-kekuatan adidunia dan membawa-bawa Tuhan untuk menjelaskan bencana akibat kelalaian manusia. Ilmu punya batasnya dalam berhadapan dengan misteri hidup, tapi sikap mudah bersembunyi dalam pernyataan saleh dan terdengar suci bisa menjadi tanda malas berpikir.

Anak-anak pun tak lepas dari siasat kebudayaan dengan melatih mereka untuk tidak hanya melakukan yang disuka. Kalau anak-anak hanya suka menonton TV, kita latih juga membaca. Tawaran ini untuk membiasakan diri setia kepada komitmen. Ciri kematangan seseorang adalah ketika dia sanggup melaksanakan suatu pekerjaan bukan karena dia suka, melainkan karena dia berkomitmen.

Dengan mengambil model kebudayaan sebagai siasat sehari-hari, kita temui banyak pekerja budaya yang menganggap kebudayaan sebagai tugas yang mereka pilih. Ada yang menyusun arsip pustaka Nusantara sehingga teks-teks kuno yang semula kusam bertumpuk di gudang kini terpampang menjadi kisah hidup sejarah Indonesia. Yang mereka kerjakan sungguh sangat politis, tapi tanpa gaduh politik. Orang-orang hebat ini merawat sejarah agar tidak tergulung ke dalam pelupaan.

Sementara kita berupaya bertahan hidup di tengah karut-marut dunia, kebudayaan menjadi jalan untuk memilah dan memilih realitas sampai kita menemukan siasat bagi kemungkinan-kemungkinan baru. Pada akhirnya, transformasi kebudayaan dalam skala luas berlangsung diam-diam tanpa tepuk sorak panggung, tanpa perayaan.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 103, 18-24 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s