Kelana Samurai Tak Bertuan

ronin

Peristiwa akbar pemberontakan 47 ronin jadi identitas nasional Jepang. Sutradara Rinsch mengemasnya dalam fantasi dunia sihir.

Oleh Silvia Galikano

Judul: 47 Ronin
Genre: Action | Adventure | Fantasy
Sutradara: Carl Rinsch
Skenario: Chris Morgan, Hossein Amini
Produksi: Universal Pictures
Pemain: Keanu Reeves, Hiroyuki Sanada, Kô Shibasaki
Durasi: 2 jam 7 menit

Kai, bocah laki-laki berdarah campuran Inggris-Jepang dikucilkan masyarakat Ako. Selain karena berdarah campuran, dia dianggap anak siluman hutan, tempatnya dulu saat bayi ditemukan. Ada codet panjang di kepalanya yang diyakini masyarakat sebagai ciri anak siluman. Keluarga penguasa Ako, Lord Asano (Min Tanaka), bersedia merawatnya sekaligus jadi teman bagi putrinya, Mika.

Setelah dewasa, Kai (Keanu Reeves) bergabung dengan 46 samurai lainnya, bertuankan Lord Asano.

Sementara itu, penguasa daerah lain, Lord Kira (Asano Tadanobu) punya ambisi menguasai Ako. Dalam sebuah acara nasional di Ako, Lord Kira jadi tamu di kediaman Lord Asano. Ikut dalam rombongan adalah Mizuki (Kikuchi Rinko), penyihir yang juga selir Lord Kira.

Kesempatan ini digunakan Lord Kira untuk melumpuhkan Lord Asano menggunakan kekuatan sihir. Dalam tidur, Lord Asano mendengar Mika (Shibasaki Ko) menjerit memanggil ayahnya karena akan diperkosa Lord Kira.

Dengan pedang terhunus, Lord Asano yang masih dalam pengaruh sihir, menuju kamar Mika. Di sana dia melihat Mika menggapai-gapai ayahnya, meminta tolong. Lord Kira sudah di atasnya.

Pedang siap diayunkan ke arah Lord Kira, tapi kegaduhan di kamar itu menghentikan tindakanya. Perlahan pengaruh sihir hilang dari Lord Asano. Saat itulah dia sadar tengah berada di kamar tamu yang ditempati Lord Kira, dan tak ada Mika di situ.

Nama Lord Asano cemar karena berupaya membunuh tamunya. Dia mendapat hukuman berat dari Shogun, harus melakukan seppuku (bunuh diri). Selain itu, Ako diserahkan pada Lord Kira, Mika diberi waktu setahun untuk berkabung lalu sebelum nanti harus menikah dengan Lord Kira.

Empat puluh tujuh samurai Lord Asano dibubarkan, pedang mereka dilucuti, dan mereka diusir dari Ako. Mereka bersembunyi di hutan sebagai ronin (samurai tak bertuan). Khusus Jenderal Oishi (Hiroyuki Sanada) sang samurai utama, dicemplungkan dalam sumur kering selama setahun.

Setahun kemudian, segera setelah Oishi dibebaskan, dia menghimpun 46 ronin lainnya untuk menuntut balas kematian Lord Asano meski risiko atas tindakan ini adalah kematian mereka sendiri.

Pembalasan dendam 47 ronin adalah peristiwa nyata yang terjadi di Jepang pada era Shogun Tokugawa (awal abad ke-18) dan dipopulerkan pada era Meiji, ketika Jepang melancarkan modernisasi. Tiap 14 Desember, Kuil Sengakuji, tempat dimakamkannya 47 ronin, mengadakan upacara memperingati peristiwa tersebut yang dihadiri banyak pengunjung.

Kisah heroik 47 ronin ini telah diadaptasi dan dikisahkan kembali dalam banyak bentuk sepanjang tiga abad. Meski demikian, benang merahnya tetap tentang kesetiaan dan penghormatan, dua hal utama yang jadi identitas dan warisan nasional Jepang.

Sebelumnya sudah lima film tentang 47 ronin dibuat sineas Jepang dengan pendekatan berbeda-beda sejak Chūshingura (1932) yang disutradarai Teinosuke Kinugasa. Baru kali ini Hollywood masuk untuk membuat versinya sendiri.

Sutradara Carl Rinsch membungkus debut film feature-nya ini dengan gambar-gambar fantasi dunia sihir dan makhluk jadi-jadian a la The Lord of the Rings dan adegan perkelahian di Gladiator. Aktor-aktor Jepang seperti Hiroyuki Sanada, Asano Tadanobu, Rinko Kikuchi, Kou Shibasaki, dan Jin Akanishi dipilih untuk membuat kisahnya lebih otentik.

Film ini sebenarnya sudah lama ditunggu dan sudah jadi bahan diskusi bahkan sebelum mulai syuting, Maret 2011 di Hungaria, bakal bagaimana bentuk film yang berbudget US$175 juta. Sebagai perbandingan, budget The Hobbit (2012) yang fantasi itu US$200 juta.

Walau kostum kimono sudah warna-warni, set dibuat se-Jepang mungkin, dan banyak gambar hasil olahan komputer (computer-generated imagery/CGI) untuk menggambarkan ilmu sihir dan monster, namun Rinsch gagal membuat 47 Ronin spektakuler.

Film ini juga nyaris tidak ada rasa Jepang. Adegan tarung, konflik antarkarakter, hingga percintaan, semuanya rasa Hollywood. Aktor Jepang, Sanada Hiroyuki dan Asano Tadanobu, juga kerap nampak tidak nyaman memainkan tokoh sejarah  dalam film fantasi petualangan.

Tak heran juga jika sang aktor utama, Keanu Reeves, nampak hilang arah di antara “lautan kebingunan” ini. Dia membawa karakter Kai gentayangan tidak jelas.

Siapa pun yang tahu tentang Jepang, apalagi paham sejarahnya, atau setidaknya akrab dengan film-film samurai, sepakat 47 Ronin dibuat dengan semberono dan miskin riset. Rinsch sudah menodai salah satu epik sejarah Jepang.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 109, 30 Des 2013 – 5 Jan 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s