Sebuah Epik dari Bugis Kuno

Image

Sawerigading dipercaya sebagai nenek moyang masyarakat Bugis. Naskahnya dianggap karya sastra suci. Jadi tontonan segar ketika dipanggungkan dengan interpretasi anak-anak.

Oleh Silvia Galikano

Dari langit yang indah dan serbatenang, Tuang Raja Langit La Pattiganna (Ihsan Wibisana Nasution) memandang bumi yang kosong, sepi tak berpenghuni. Raja La Patiganna beride mengutus putranya, La Toge’ Langi’ (Atma Jaya) bersama istrinya We Nyali’ Timo’ (Nur Afrah Maryam Insani), turun ke bumi agar planet satu itu tidak kosong melompong.

Dengan dukungan kerajaan-kerajaan langit lainnya, La Toge’ Langi’ dan istrinya pergi ke bumi dan jadi penghuni pertama bumi. La Pattiganna berpesan pada putera dan menantunya itu, “Kalian boleh memiliki bumi tapi tidak menguasai. Bumi harus kalian jaga sebaik-baiknya.”

Keduanya menetap di Ussu’ Salabassi’, sekarang wilayah Bone, Sulawesi Selatan. La Toge’ Langi’ jadi Raja Alekawa (Raja Bumi) bergelar Baragurru. Barragurru dan istrinya kemudian beroleh seorang anak laki-laki yang diberi nama La Tiuleng.

Setelah dewasa, La Tiuleng menggantikan ayahnya sebagai raja di bumi. La Tiuleng punya sepasang anak kembar. Yang laki-laki bernama La Ma’dukelleng atau Sawerigading  (Muhammad Farhan Irsya) dan perempuan bernama We Tenri Yabeng (Cecillia Rut A).

Dua anak kembar ini langsung dipisahkan begitu mereka lahir. Baru ketika akil balig, Sawerigading dan We Tenri Yabeng bertemu lagi. Sawerigading jatuh cinta pada We Tenri Yabeng. Namun segera setelah tahu bahwa mereka saudara kembar, keduanya tidak meneruskan percintaan mereka.

Atas dorongan We Tenri Yabeng, Sawerigading pergi berlayar ke Tiongkok menemui jodohnya. Di sana Sawerigading menerima tantangan adu ketangkasan pedang dengan seorang putri yang sedang mencari jodoh, We Chu Dai.

“Saya Sawerigading. Saya pelaut dari Selatan,” Sawerigading memperkenalkan diri pada We Chu Dai yang duduk di balik tandu.

Pertarungan mereka berlangsung ketat. Sawerigading yang terbiasa memegang badik dan baru sekarang memainkan pedang akhirnya memenangi adu ketangkasan itu. Dia menikahi si cantik We Chu Dai lalu dikaruniai seorang putra bernama I La Galigo.

Kisah Sawerigading berakhir di sini, sampai I La Galigo lahir. Putranya itu kelak punya penggalan legendanya sendiri, kisah I La Galigo.

Adegan beralih ke Nenek Tungcer (tukang cerita, Niken Flora Rinjani) yang sedang mendongeng di hadapan anak-anak berseragam putih-merah. Latar belakang panggung adalah 10 foto dramawan dunia, di antaranya Shakespeare, Molière, Sartre, dan Goethe. Ada satu bingkai dibiarkan kosong dengan harapan suatu hari foto dramawan Indonesia yang dipasang di sana.

Babak Nenek Tungcer ini juga yang jadi pembuka pentas. Dia didatangi anak-anak yang bertanya tentang Sawerigading.

Demikian sutradara Jose Rizal Manua membuat pergantian babak demi babak Legenda Sawerigading oleh Teater Tanah Air. Dari masa kini, berganti ke masa lalu, ke masa kini lagi, ke masa lalu, dan ditutup masa kini. Pementasan digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 30 dan 31 Desember 2013. Dialog ringan khas anak-anak berseling lagu-lagu ceria dan humor segar.

Raja La Patiganna yang berbadan mungil, misalnya, punya permaisuri bertubuh subur (Asih Liasari Prabowo). Sang Raja disosokkan sebagai suami takut istri. Berbeda sedikit pendapatnya dari sang permaisuri, dia akan mendapat pelototan dari istri. Walau demikian, permaisuri berhati baik dan tidak akan segan-segan menggendong suaminya yang mungil itu.

Teater Tanah Air adalah kelompok teater yang lahir pada 14 September 1988, beranggotakan lebih dari 100 anak-anak dan remaja. Kelompok yang diasuh sutradara Jose Rizal Manua dan dipimpin Nunum Raraswati itu sudah sering membawa pulang penghargaan dari festival teater anak-anak tingkat nasional dan internasional.

Drama musikal Legenda Sawerigading yang naskahnya ditulis Remy Sylado ini merupakan bagian dari rangkaian pementasan legenda Indonesia oleh Teater Tanah Air. Sebelumnya, kelompok ini mementaskan Malin Kundang, Roro Jonggrang, dan Timun Mas yang seluruh naskahnya ditulis Remy Sylado. Dimulai Legenda Sawerigading, kelak, cerita-cerita dari Indonesia bagian timur yang akan mendapat prioritas.

“Legenda dari Indonesia bagian timur belum dikenal luas, apalagi oleh anak-anak, misalnya Sawerigading ini.  Padahal tiap daerah punya kearifan sendiri. Nanti, bisa jadi kami akan membawakan legenda dari Maluku atau Nusatenggara,” ujar Jose Rizal Manua seusai pentas.

Kalimat “masyarakat Indonesia adalah masyarakat bahari” nyaris terdengar janggal di zaman komputer tablet sekarang. Namun budaya lisan kita menyimpan rapi kisah tentang pelaut-pelaut hebat itu dalam laci-laci memori. Di saat yang tepat akan diceritakan lagi ke anak-cucu, dan dipanggungkan.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 110, 6-12 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s