Stupa dalam Tarikan Garis Mudji Sutrisno

Image

Layaknya hidup, sketsa Romo Mudji berseling dari riuh ke hening ke riuh lagi, dan berputar terus. Dia menangkap siraman warna bukan hanya bentuk kemeriahan, lebih dari itu, ungkapan syukur.

Oleh Silvia Galikano

Di sebuah sketsa tanpa judul, stupa (Borobudur) adalah tarikan-tarikan garis sederhana dengan sedikit bagian diwarnai kuning. Sedangkan dalam Olah Rasa Merasakan dan Dirasakan dalam Sunyi, stupa-stupa ada bersama penghayatnya. Lingkaran-lingkaran kuning menjadi latar tiap stupa.

Di sketsa lain, Mata, stupa adalah garis-garis bertumpuk yang dibagi jadi dua bagian kiri dan kanan. Garis-garis tipisnya dikuatkan dengan garis yang lebih tebal di beberapa bagian. Di tengah masing-masing “kumpulan stupa” ada lingkaran besar, berwarna merah di kiri dan lingkaran kuning di kanan. Bola mata yang berwarna merah berdampingan dengan lingkaran kuning, warna yang bagi umat Buddha merupakan lambang kejayaan.

Dari perjalanannya ke negara-negara Asia dan puncaknya ke Kathmandu, Nepal, pada libur Lebaran tahun lalu, budayawan Mudji Sutrisno SJ menemukan kuatnya hubungan antara Borobudur yang bermazhab Buddhisme-Tantrayana dan Nepal yang Buddhisme-Mahayana.

Jika di Nepal, penganutnya berdoa sambil memercikkan tepung warna-warni kuning, merah, hijau yang merupakan warna-warna suci kehidupan, ke atas stupa, Borobudur “bersih” dari semua itu. Yang berdoa ya berdoa saja. Andaipun ada yang ditinggalkan umumnya kembang setaman. “Saya membatin, mungkin yang di Borobudur, mereka memercikkan warna-warna suci itu didalam hati saja.”

Romo Mudji mengatakan itu dalam pembukaan pameran tunggalnya yang ke-5, Dari Stupa ke Stupa, pada 8-17 Januari 2014 di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sketsa-sketsanya kali ini berwarna-warni, bukan hanya hitam-putih seperti sebelumnya. Dia banyak menggunakan jari untuk membuat tutul-tutul warna, hingga mengubah kontur sketsa yang awalnya hitam putih.

Kecintaan pada Borobudur telah membawa Romo Mudji mengenal dan membandingkan candi-candi Buddhis lainnya, misal candi-candi di Ayuthaya Thailand dan Angkor Wat di Kamboja. Bahkan ketika di Kamakura, Jepang (di sana ada patung Buddha raksasa), Romo Mudji mendalami perkembangan Buddhisme-Zen, yakni Buddhisme dari India bergerak ke China lalu ke Jepang, dalam perbandingan dengan yang di Asia Tenggara. Bukan itu saja, dosen di Pascasarjana UI dan UNJ ini juga mengajar dan menulis tentang Budhisme dan estetika religiositas Borobudur.

Menurutnya, candi Borobudur yang dilihat menggunakan mata hati berbingkai religiositas, akan nampak sebagai kitab suci yang terbuka untuk mengucapkan selamat datang dan selamat mengenal. Candi Borobudur menjadi narasi ziarah religius.

Religiositas adalah kesadaran manusia meyakini bahwa nilai serta arah hidupnya dihubungkan dan ditentukan oleh relasinya yang damai dengan Yang Ilahi. Tidak ada hubungannya dengan lembaga agama. Religiositas merupakan perasaan misterius dan mistikus saat orang dengan mudah dan peka mengalami bahwa Yang Ilahi itu indah, mudah ditangkap melalui intuisi seni.

Karena itu, sewaktu menapaki jalan religius, stupa demi stupa, dia merasakan aura yang sama dengan perjalanan spiritualnya pada 2009 saat mengambil sabbatical year di Roma. Sketsanya dipamerkan di Galeri Cemara pada Maret 2011 bertajuk Garis-garis Sketsa Mudji Sutrisno.

Romo Mudji juga menemukan tradisi yang sama antara stupa dan kathedral. Di stupa, diletakkan relikui (barang peninggalan atau sisa tubuh orang kudus) Sang Hyang Suci Siddharta. Di Kathedral Basilika St Peter di Vatikan, ada juga relikui di atas makam St Petrus dan di katakombe-katakombe. Di tempat-tempat itulah orang bersamadi, merenungi dan mensyukuri hidup.

Dari Nepal dan melihat masyarakatnya berdoa sambil memercikkan warna meriah ke atas stupa, Romo Mudji pun memercikkan warna sama meriahnya pada sketsa masjid Istiqlal dan gereja Kathedral. Dua bangunan ini kerap dia pandangi dari atas bus.

“Dambaan saya antara dua itu bukan hanya dialog tapi juga hidup yang bagus.

Oang lupa, Sukarno yang kesepian di Ende, menemukan Pancasila dan merumuskan Ketuhanan yang berkebudayaan dan berbudi pekerti.

“Artinya, agama bukan langsung dari sana ke mari, tapi sudah dihayati dengan kontekstualisasi kebudayaan dan berbudi pekerti.”

Lewat sketsa-sketsanya, Romo Mudji memberi pemetaan yang indah mengapa ada keterbelahan antara hari suci (contoh, Minggu dan Jumat) dengan hari-hari kerja lain, Selasa sampai Sabtu. Akibatnya, terjadi penghayatan hidup yang terpecah: suci sekali di ruang doa, tapi beda dalam tindakan di pasar ramai kehidupan. Mengapa bangsa yang formal beribadah sekaligus korupsi di hidup sehari-hari?

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 112, 20-26 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s