Adaptasi Ben Stiller untuk Si Pelamun

Image

Seorang karyawan majalah Life yang 16 tahun berkutat dengan negatif film, dihadapkan pada pilihan tunggal menjalani petualangan ekstrem di alam. Di sini dia menemukan jatidiri.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Secret Life of Walter Mitty

Genre:  Adventure | Comedy | Drama

Sutradara: Ben Stiller

Skenario: Steve Conrad, James Thurber

Pemain: Ben Stiller, Kristen Wiig, Jon Daly

Produksi: 20th Century Fox

Durasi: 2 jam 5 menit

Majalah Life akan berpindah format dari cetak ke digital. Yang akan terbit berikut adalah edisi terakhir versi cetak. Tema besar sudah disiapkan. Sean O’Connell (Sean Penn) si fotografer legendaris yang bertahan dengan kamera analog juga sudah mengirimkan satu rol klise (negatif film)-nya, termasuk klise nomor 25 untuk cover.

Paket kiriman O’Connell diterima Walter Mitty (Ben Stiller), kepala arsip klise di Life –atau yang menurut istilah dia “manajer aset klise.” Walter ini bujangan di usia 40-an yang tinggal sendirian di apartemennya di Manhattan. Dia punya adik perempuan, Odessa (Kathryn Hahn), yang bekerja sebagai seniman panggung. Keduanya bertanggung jawab memastikan ibu mereka, Edna (Shirley MacLaine), nyaman di panti jompo.

Walter naksir koleganya di kantor, Cheryl Melhoff (Kristen Wiig), karyawan baru Life di bagian akunting. Tapi masalahnya Walter yang pelamun berat ini terlalu malu untuk mendekati Cheryl. Dia hanya bisa berhayal jadi superhero yang menyelamatkan Cheryl saat apartemennya terbakar. Tapi ya cuma hayalan. Kenyataannya, yang Walter lakukan malah mendaftar biro jodoh online eHarmony agar terhubung ke Cheryl yang sudah lebih dulu bergabung.

Sementara itu perpindahan format dari cetak ke digital menimbulkan keresahan karyawan karena bakal ada PHK besar-besaran. Walter tidak luput dari keresahan ini walau dia sudah bekerja di Life selama 16 tahun. Siapa yang butuh klise di era digital?

Di tengah keresahan itu Walter dikejutkan bahwa dia tidak menemukan klise nomor 25 di dalam paket yang dikirim O’Connell. Nomor 25 kosong, tergunting, tapi guntingannya tidak ada dalam paket. Bagaimana cara menghubungi O’Connell untuk menanyakan klisenya yang hilang? Pasalnya selama ini fotografer nyentrik itu berhubungan dengan Life hanya lewat telegram, tidak punya alamat tetap, dan selalu pergi ke tempat-tempat terpencil untuk mencari obyek foto.

Deadline makin dekat. Ted Hendricks (Adam Scott), bos baru yang angkuh, sudah berkali-kali menagih klise nomor 25 yang akan jadi cover terakhir Life.

Walter memutuskan melacak keberadaan O’Connell, sebuah pencarian yang membawanya ke Greenland, Islandia, hingga akhirnya Afganistan. Hidup Walter yang selama ini datar-datar saja, tiba-tiba dihadapkan pada pengalaman bertarung dengan hiu, “dikejar” kepulan asap gunung api yang meletus, dan menumpang helikopter yang pilotnya mabuk berat.

The Secret Life of Walter Mitty asalnya adalah cerita pendek karya James Thurber yang dimuat di The New Yorker pada 18 Maret 1939. Ceritanya tentang seorang pelamun yang takut istri di Connecticut. Pada 1947, kisah ini difilmkan dalam format musikal romantis ringan digarap Norman Z. McLeod dengan aktor utama Danny Kaye.

Versi Ben Stiller pada abad ke-21 diisi banyak petualangan menegangkan tokoh utamanya lewat adegan-adegan yang membuat penonton tertawa geli. Perjalanan Walter dalam mencari O’Connell hingga ke Himalaya sebenarnya adalah pencarian ke dalam dirinya sendiri dan penaklukan atas ketakutannya selama ini. Di tengah alam Walter menemukan kesejatian, sesuatu yang selama 16 tahun di Life tidak pernah dia dapatkan.

Lewat detail dan twist, Stiller berhasil mempertahankan penasaran di hati penonton, apakah film ini bakal happy ending. Sebelumnya, penonton berkali-kali dibuat kecele oleh adegan hayalan yang nampak seakan-akan fakta karena bersambungan dengan dunia nyata Walter. Sebuah konsep cerdas yang digagas Stiller.

Sebelumnya, Stiller sudah menancapkan kukunya sebagai sutradara sekaligus bintang utama di Zoolander (2001) dan Tropic Thunder (2008), keduanya film humor satire. Di The Secret Life of Walter Mitty, Steve Conrad juga membuat skenario dengan level humor yang sama, dibumbui sikap angkuh Scott si bos yang malah mengundang kelucuan.

Memang tidak sedikit kritikus film yang menganggap frame film ini aneh. Nekad naik helikopter yang pilotnya mabuk, membuang sepeda dan memilih lari naik turun bukit, skateboarding menurun dengan kecepatan tinggi di jalan raya Islandia yang sepi, hingga naik gunung Himalaya tidak cukup menunjukkan keberanian spiritual.

Tapi bukankah setiap orang menjalani perjuangannya masing-masing? Dan tidakkah semua itu pengalaman akbar bagi orang yang 16 tahun terkurung di dalam ruangan temaram hanya berteman satu bawahan? Buku jurnal perjalanan yang dulu sekali diberikan mendiang ayahnya juga masih kosong menunggu untuk diisi.

Meski demikian film ini terasa seperti dua film yang dijadikan satu, tapi saling benci. Seakan bagian kedua ini membatalkan bagian pertama. Bagian pertama tentang karyawan setia yang pelamun dan pemalu, bagian kedua tentang laki-laki yang menempuh ribuan kilometer untuk mencari fotografer.

Di bagian kedua, kita dibuat lupa siapa Walter sebelumnya, Gestur tubuhnya lain, sorot matanya lain, caranya menghadapi orang lain juga berbeda. Adaptasi kreatifnya beda tipis dengan vandalisme.

Usaha Stiller menggabungkan pencarian jatidiri, humor, dan sedikit action boleh diacungi jempol. Penonton tetap duduk di tempatnya, tidak bosan, dan ingin tahu akhir petualangan Walter. Film ini wajib tonton bagi penggemar humor dan cerita yang happy-ending. Oops, lho kok jadi spoiler?

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 111, 13-19 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s