Banyak Cinta dari Erros Djarot

Image

Merangkum perjalanan karya Erros selama empat dekade tak ubahnya melihat slide perjalanan Indonesia. Ada pedih, tapi banyak cinta.

Oleh Silvia Galikano

Malam Pertama dalam format akustik membuat sebuah pergelaran megah jadi hangat dan dekat. Penonton serempak ikut menyanyi sejak bait pertama. Hanya gitar Nur Satriatama (Satrio) mengiringi Aqi Singgih membawakan lagu dari tahun 1983 itu dengan vokal jernih dan emosinya tersampaikan dengan jelas.

Duo dari Alexa menghidupkan kembali lagu klasik yang selama ini melekat pada Chrisye, menyuntikkan getaran berbeda dengan keindahan serupa.  Kadang yang sederhana lebih kena di hati.

Pagi yang cerah, senyum di bibir merah….

Jumat malam pekan lalu, 14 Februari 2014, pencinta karya-karya Erros Djarot termanjakan dalam konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya bertempat di Planery Hall Jakarta Convention Center (JCC). Dalam durasi tiga jam, melalui 25 lagu, pidato-pidato singkat, tayangan video, dan pertunjukan musikal penonton dibawa ke masa film-film Teguh Karya merajai bioskop sementara pemerintahan Soeharto demikian represif.

Tak kurang 10 musisi memeriahkan gelaran malam itu. Conductor Erwin Gutara mengemas lagu-lagu dengan konsep orkestra yang extravagant dan panggung keren arahan Jay Subiakto. Kapasitas 3.500 penonton terpenuhi.

Perjalanan Erros berkarya dibagi dalam lima segmen, yakni Erros Djarot Sang Penata Musik, Erros Djarot Sang Sutradara, Erros Djarot Sang Redaktur, Erros Djarot Sang Politisi, dan Erros Djarot Sang Musisi. Mira Lesmana yang merangkainya, berselip pidato-pidato cantik dari Slamet Rahardjo, Melly Goeslow, Christine Hakim, Riri Riza, Usman Hamid, Erwin Gutawa, dan Adib Hidayat membentuk sebuah cerita.

Alexa (minus drummer Fajar Arifan) tadi tampil dalam segmen Erros Djarot Sang Musisi, bagian yang menampilkan masa-masa kolaborasi Erros dengan Nasution Bersaudara dan Guruh Soekarnoputra.

Usai Malam Pertama, layar di panggung menampilkan video Dewi Djarot, istri Erros yang bercerita lagu favoritnya adalah Selamat Jalan Kekasih. Ceritanya, dulu Dewi mendapat beasiswa S3 dari Universitas Sorbonne, Prancis. Tawaran beasiswa itu tidak serta merta diterimanya. Dia merasa berat meninggalkan karier dan keluarga, terlebih anak sulung mereka, Banyu Biru, baru berusia 2 tahun. Namun Erros menguatkan hati Dewi untuk mengambil kesempatan itu.

“Dengan bekal cintanya, saya berangkat ke Paris dengan keyakinan, ‘Walau kini kita berpisah, suatu hari nanti kita kan bersama lagi, bersama lagi, kita berdua….’
“Dear, I’m blessed to have you as my partner in this life.”

“Ciyeee…ciyeee….” Aqi merusak suasana romantis itu dengan tawa nakal sambil menunjuk Erros yang duduk di kursi terdepan. Suasana pun berganti segar dan ringan meski cuma sebentar. Aqi dan Satrio melanjutkan cerita Dewi itu dengan lantunan Selamat Jalan Kekasih. Manis sekali.

Pembuka pergelaran ini adalah lagu-lagu yang jadi musik skor dan soundtrack film yang pernah Erros garap sebagai penata musik, sementara panggung menampilkan penggalan-penggalan adegan Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Ida Iasha, dan Tuti Indra Malaon.

Dari film Kodrat (1986) yang disutradarai Slamet Rahardjo, Penghuni Malam dengan beat mengentak dibawakan Once. Film Kawin Lari (1974) besutan Teguh Karya melahirkan Bisikku yang malam itu dibawakan Marcell dan Si Kembang Mawar yang berlanggam keroncong oleh Woro. Sedangkan dari film Badai Pasti Berlalu (1977), ada Semusim yang dinyanyikan Eva Celia dengan gaya jazzy serta Baju Pengantin oleh Bunga Citra Lestari.

Nama Erros juga pernah berkibar di dunia jurnalistik ketika dia bersama aktivis lain mendirikan Tabloid Detik. Karena cara penyampaiannya yang tanpa tedeng aling-aling, tabloid ini hanya berumur setahun, dibreidel pemerintah pada 1994.

Setelah Tabloid Detik dibreidel, Erros menggarap album Detik yang tidak beredar secara komersial. Empat lagu dari album ini dibawakan Kikan dan Dendy dari Mike’s Apartment didukung grup musikal Laskar Pelangi. Aku Wartawan Muda Indonesia, Berputar, Pemilu Ble Ble, dan Jangan Menangis Indonesiaku disajikan dalam bentuk aksi teatrikal rakyat melawan pejabat.

Iwan Fals yang jadi simbol perlawanan rakyat pada 1980-an dan 1990-an malam itu tampil berkawan gitar menyanyikan Yang Kita Inginkan Perubahan dan Tuhan Ampuni Dosa Kami, yang merupakan perenungan atas bencana belakangan ini.

40 Tahun Erros Djarot Berkarya dihelat berdekatan dengan bencana alam yang menimpa Indonesia. Yang terakhir, meletusnya gunung Sinabung dan gunung Kelud, menyebabkan ratusan warga terpaksa meninggalkan rumahnya. Itu pula sebabnya di penutup acara, Erros mengajak penonton dan seluruh pendukung acara menundukkan kepala beberapa detik untuk mendoakan seluruh korban bencana alam.

Erros Djarot kelahiran Rangkasbitung 22 Juli 1950. Sejak SMA dia sudah membentuk band. Saat kuliah bidang Teknik Industri di Jerman, dia juga membentuk band bersama teman-temannya dari Indonesia, bernama Barong’s Band.

Sepulang ke Indonesia, Erros kerap tinggal di Jalan Pegangsaan milik keluarga Nasution dan di rumah Guruh di Jalan Sriwijaya, dua komunitas musisi Indonesia tahun 1970-an. Saat itulah dia diminta Teguh Karya jadi penata musik untuk film terbarunya, Kawin Lari, dan Barong’s Band mengisi soundtrack-nya.

Erros kembali menjadi penata musik untuk film Teguh Karya, Badai Pasti Berlalu dengan menggandeng Yockie Suryoprayogo dan Chrisye. Sejarah mencatat album ini adalah salah satu mahakarya musik Indonesia yang terus didengarkan hingga kini. Di dalamnya ada, antara lain, Pelangi dan Merepih Alam yang malam itu dibawakan Glenn Fredly dengan gaya khasnya, Matahari oleh Marcell, Serasa dengan vokal riang Eva Celia, serta Merpati Putih oleh Once.

Kemudian Berlian Hutauruk melangkah ke atas panggung diiringi tepuk tangan meriah, sangat meriah. Dalam balutan kebaya brokat merah, dia menyanyikan Ketika Cinta Kehilangan Kata, lagunya dari tahun 2009 yang bukan termasuk album Badai Pasti Berlalu.

Berlian berdua Chrisye-lah yang pertama kali menyanyikan lagu-lagu dalam soundtrack Badai Pasti Berlalu. Ketika album ini diaransemen ulang, pada 1990, suara Berlian tidak ditemukan lagi.

Tepuk tangan makin membahana ketika Sang Diva Indonesia itu masuk ke lagu berikutnya, nomor yang paling ditunggu-tunggu, Badai Pasti Berlalu. Baru di lirik pembuka, “Awan hitam…” penonton sontak berdiri dan tepuk tangan berkali-kali lipat lebih keras dari yang tadi-tadi. Badai Pasti Berlalu dalam suara sopran dengan rentang lebih dari tiga oktaf itu menciptakan tornado di Plenary Hall.

Bagian chorus diulang lagi, kali ini bersama dengan kemunculan seluruh pendukung acara ke atas panggung dan ikut menyanyi. Kali ini lebih terasa seperti pesan untuk saling menguatkan:  Badai pasti berlalu, badai pasti berlalu, badai pasti ber-la-lu….

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 117, 24 Feb – 2 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s