Di Pokok Beringin

Image

Pahitnya hidup mengajarkan Ma’e hidup jujur. Anak-anaknya akhirnya memahami prinsip ini setelah mengalami pergulatan mereka sendiri.

Oleh Silvia Galikano

Dalam tanktop merah menyala, Retno (Rini Samsi) terduduk lesu di pokok pohon beringin tua. Belum ada juga pelanggan. Sebelumnya dia sudah berdiri di bawah lampu taman agar lebih jelas terlihat. Hasilnya cuma satu pemuda yang minat, mahasiswa yang gede nafsunya tapi hanya serupiah duitnya. Retno ogah.

Di bawah beringin dia mengadu pada Ma’e (Megarita), merasa jadi orang yang tersia-sia. Perempuan tua itu membesarkan hati Retno yang sudah dianggap anaknya sendiri. Dan sekali lagi Ma’e mengulang nasihatnya, “Ngamen saja, Nduk, kau kan bisa nyanyi. Jangan jadi lonte.”

Ma’e menganggap dirinyalah perempuan yang tersia-sia itu. Suaminya dulu pergi begitu tahu Ma’e mandul. Sekarang dia tinggal di bawah beringin besar di alun-alun Yogyakarta, hidup dari pemberian anak-anak angkatnya yang juga hidup di alun-alun.

Selain Retno, anak Ma’e adalah Panut (Aryo Nagoro) yang profesi resminya pengemis. Dia kerap berbohong pada Ma’e ketika memberikan sebagian penghasilannya dan setiap kali itu pula Ma’e tahu Panut berbohong. “Kowe nyopet lagi ya, Le? Emoh aku, nih ambil lagi saja uangnya.”

Panut sudah pernah berjanji tidak akan mencopet lagi. Ma’e ingin Panut jadi kuli. Lagipula dia pencopet yang buruk, tangannya tidak cekatan, sering kepergok. Tadi pagi dia gagal mencopet ponsel di Pasar Beringharjo setelah tangannya gemetar, akhirnya ponsel itu dikembalikan ke pemiliknya.

Anak angkat Ma’e satu lagi adalah Koyal (Banon Gautama), pengemis yang doyan beli lotre tapi tidak pernah menang, dan sekarang nyaris hilang ingatan. Koyal yakin suatu hari pasti akan dapat duit setinggi gunung Merapi. Duit itu akan dibelikannya rumah mewah, mobil mewah, punya langanan becak untuk keliling kota, dan duit itu akan ditaburkan di rumah Ma’e serta rumah orang-orang kampung.

“Gila! Mimpi gila! Asu!” Tukijan (Arief Wiyatna) memaki Koyal. Tukijan adalah pemuda pengangguran yang ingin membuka lahan di pulau seberang. Dia menaruh hati pada Retno dan tidak peduli profesi atau masa lalu perempuan itu.

Tukijan ingin menikahi Retno dan membawanya ke pulau seberang, membuka dan menggarap lahan baru di sana. Namun Retno berat meninggalkan ibu angkatnya yang sudah sepuh itu. Mengapa harus berlelah-lelah menggarap lahan di tempat baru yang belum jelas hasilnya, padahal di sini pun dia bisa hidup?

Disutradarai Bejo Sulaktono, Mega-mega dibawakan aktor serta aktris DKJ dan Prodi Teater IKJ pada 21 & 22 Februari 2014 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ceritanya merupakan karya klasik Arifin C. Noer, ditulis pada 1967, dan sudah berkali-kali dipentaskan dalam berbagai versi oleh macam-macam kelompok teater.

Jumat pekan lalu itu juga bukan penampilan pertama Prodi Teater IKJ membawakan Mega-mega. Pada 22 Oktober 2013, kelompok ini membawakan cerita yang sama di Art Summit, dan sepekan sebelumnya, 14 & 15 Februari 2014, di Banjarmasin. Mega-mega akan dibawakan juga di Singapura dan Australia melalui link Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di dua negara itu.

Bejo Sulaktono mempertahankan unsur tradisi dan budaya Yogyakarta yang kental melalui karakter, cara ungkap, musik, dan pohon beringin tua di alun-alun yang jadi setting cerita. Walau isunya isu lama, yakni lotre dan transmigrasi, tapi suasana kekiniannya tetap terjaga. Cerita yang pedih ini pun diimbangi dengan situasi komedi yang menonjol, banyolan khas Jogja.

“Ceritanya universal, tidak terbatas waktu dan tempat. Kisah kemanusiaan kan selalu menyentuh dari dulu sampai sekarang,” kata Bejo Sulaktono usai pementasan.

Dia memberi contoh, jika dulu lotere/judi pernah kontroversial karena dilegalkan, sekarang ketika judi diharamkan negara, masyarakat ternyata tetap menggantungkan harapan seperti dulu berharap menang lotere. Bentuknya saja yang berubah, yakni jadi menang undian, dapat promo, atau belanja gila-gilaan saat sale. Intinya, punya harapan besar tapi tidak ingin mewujudkannya dengan cara bekerja keras.

Mega-mega adalah bahan renungan bagi siapa pun yang punya mimpi. Tokoh-tokohnya adalah pejuang mimpi-mimpi mereka. Dan seperti juga lotre, hidup setelah detik sekarang adalah sesuatu yang tak tertebak. Maka tanpa diperjuangkan, mengutip tagline pementasan ini, “Kita selalu merasa kehilangan, tetapi kita belum pernah mendapatkan.”

 ***

Dimuat di Majalah Detik, edisi 118, 3-9 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s