Semeriah Benang Tenun

Image

Tenun ikat NTT di tangan Oscar Lawalata bisa ringan melambai dan ceria. Tak lagi hanya tebal dan berwarna monoton.

Oleh Silvia Galikano

“Ini lama. Tuh kan, sudah capek begini-begini (gerakan merapatkan benang saat menenun) tetap tidak kelihatan hasilnya. Kalau tebal, sepuluh kali begini sudah kelihatan hasilnya.”

Kalimat tersebut diucapkan perancang busana Oscar Lawalata, menirukan keluhan para mama penenun di Timor pada awal dia mengajarkan membuat tenun yang tipis, dua tahun lampau. Bukan berarti kain tenun tebal itu jelek, tapi jika bicara industri, kain tenun tipis lebih banyak dicari dan dipakai, bukan hanya jadi koleksi yang terlipat anggun di dalam lemari.

Tiga puluh kain tenun NTT yang tipis, yang ditenun sendiri oleh penenun setempat akhirnya bisa dinikmati publik dalam acara Menenun Masa Depan Nusatenggara Timur, 28 Februari 2014 di Puri Mutiara, Kupang.  Selain fashion show, helatan yang merupakan kerjasama Oscar Lawalata Gallery dengan Novanto Center ini juga menampilkan pameran dan talk show.

Kain-kain itu kini lebih ringan dan luwes serta warna-warnanya lebih kaya. Di belakangnya ada tangan-tangan artisan -delapan mama dari pulau Timor, berikut proses mengubah mindset, menggenapkan pelatihan, serta membiasakan diri dengan cara kerja barunya.

Ide membuat tenun yang tipis lahir ketika Oscar menyadari penenun sulit menjual kain tenun yang tebal dan berwarna monoton ke masyarakat luas, kecuali sebagai souvenir dan koleksi. Tenun ikat NTT terlalu panas jika dijadikan pakaian sehari-hari di iklim tropis dan sulit dikreasikan. Padahal motifnya artistik dan tekniknya beragam-ragam dengan ciri khas masing-masing daerah. Belum lagi teknik buna, yang hasil tenun depan dan belakang serupa, tidak ditemukan di tempat lain.

Pada 2004 Oscar mulai melakukan perjalanan ke Sumba, Flores, Timor, dan pulau-pulau lain di NTT untuk meriset kain, menemui para ahli, dan mengunjungi museum-museum. Dari sana, dia mengelompokkan tenun NTT berdasarkan enam pulau besarnya, yakni Flores, Timor, Sabu, Sumba, Rote, dan Alor, yang masing-masing punya motif, tekstil, dan warna khas.

Baru empat tahun lalu Oscar bertemu Deisti Setya Novanto dari Novanto Center yang memiliki kecintaan sama pada tenun ikat NTT. Novanto Center adalah lembaga pendidikan dan pelatihan tenun ikat NTT, berlokasi di Desa Manusak Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Kerja sama pun dibuat. Oscar untuk proses kreatifnya, sedangkan Novanto Center untuk pengadaan segala keperluan penenun serta promosi.

Dua tahun kemudian lomba digelar untuk mencari penenun berbakat. Delapan pemenangnya menjalani pelatihan menenun dan mewarnai, mengenal macam-macam benang dan gradasi warna. Pasalnya selama ini para mama hanya akrab dengan satu jenis benang yang mereka sebut benang toko, yang tak lain katun kasar. Yang mereka sebut benang sutra pun ternyata adalah polyester.

Tantangan paling besar adalah ketika mama-mama mengeluhkan lamanya menenun kain tipis setelah selama ini terbiasa menenun kain tebal dengan mendobel benang. Makin tebal makin cepat selesainya. Sebagai perbandingan, menenun kain tipis dalam sebulan hanya dapat satu lembar, sedangkan yang tebal bisa dapat tiga lembar.

“Kami katakan, kain tipis memang lebih lama proses pembuatannya, tapi harganya lebih mahal. Lagipula kain-kain lama NTT ada juga kok yang tipis,” ujar Oscar, sehari sebelum pergelaran.

Para mama ini juga diperkenalkan cara kerja kelompok agar proses kerjanya lebih cepat. Ada yang mengikat, ada yang menggulung benang, ada yang mewarnai, dan ada yang menenun, walau semua mahir menenun. Jadi satu orang tidak mengerjakan dari proses mengikat sampai menenun yang makan waktu lebih lama.

Proses menggulung benang juga dipercepat dengan menggunakan penggulung yang bentuknya mirip kincir, yang harganya Rp150 ribu per buah. Hanya 3-4 jam, benang sudah rapi tergulung. Bandingkan sebelumnya, ada mama yang menggulungkan benangnya di batu. Tiga hari baru selesai…menggulung benang saja.

Sejauh ini alat yang digunakan tetap alat tenun tradisional yang sudah sangat diakrabi para mama. Untuk mendatang, Oscar ingin penenun mulai membiasakan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) guna menghasilkan kain yang lebih banyak. Sebagai perbandingan, ATBM menghasilkan 10 meter kain dalam satu hari, sedangkan alat tenun tradisional menghasilkan 2,5 meter dalam satu bulan.

Perubahan ini tentu bukan sekadar memindahkan tempat penenun duduk, melainkan mengubah mindset serta cara pembuatan motif. “Pernah kami coba pakai ATBM, hasilnya motifnya jadi tidak jelas,” kata Maria Ima Maneak, 42 tahun, salah satu penenun.

Melalui pelatihan ini, diharapkan penenun nantinya dapat mandiri dan menggunakan keterampilan mereka sebagai salah satu sumber nafkah keluarga. Ambil contoh mama Maria yang sebelumnya menjual hasil tenunnya ke sebuah artshop di Kupang. Selembar kain yang dirampungkannya dalam waktu 2 bulan dijual ke artshop seharga Rp250 ribu. Dia keluar modal Rp200 ribu untuk membeli benang dan pewarna. Jadi selisih Rp50 ribu itu tanpa menghitung tenaga, hanya keuntungan.

Cerita serupa dialami Marcellina Hati, 49 tahun, yang sekarang bertugas di bidang pewarnaan. Dulu, usai mengurus jagung dan ubi di ladang, mama Marcellina menenun. Hasilnya dibeli seorang pengepul seharga Rp250 ribu. Penenun tidak punya posisi tawar di hadapan pengepul yang menentukan harga beli. Padahal begitu sampai di tangan pembeli terakhir (end user), harganya bisa 4-5 kali lipat.

Sekarang memang para mama ini menerima gaji bulanan, rata-rata Rp2 juta-3 juta per orang per bulan, tapi tujuan utamanya membuat penenun mandiri. Mama-mama yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Timor, diharapkan bisa mengembangkan keterampilan barunya di desa-desa asal mereka dan jadi pemimpin untuk kelompok-kelompok yang mereka bentuk, tidak lagi bergantung pada Oscar dan Novanto Center. Apalagi mengingat semakin sulit sekarang mencari penenun di Timor. Para perempuan lebih suka jadi pencari batu mangan atau jadi penjual pulsa.

“Kira-kira satu tahun lagi sudah bisa dilepas. Nanti saya beli putus tenunannya. Mereka punya sepuluh lembar, saya beli sepuluh. Ada 15, saya beli 15. Ada orang lain yang mau beli, saya lebih senang lagi,” kata Oscar.

Dengan tetap mempertahankan motif-motif lama, Oscar ingin lebih banyak orang tahu tentang motif cantik dari NTT, kenal falsafahnya, dan mencintai keindahannya sebesar orang-orang NTT mencintai dan bangga akan kain mereka. Seperti ungkapan berikut, “Ami nulung lobe. Naha utang wawa buku ubeng. Naha utang merah blanu, blekot,” yang berarti, “Kami tidak memakai sarung murahan, harus sarung dari dasar tempat simpan, harus sarung yang merah, mantap, dan bermutu.”

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 119, 10-16 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s