Sentuhan Lembut Cinta Virtual

Image

Ketika manusia berkawan akrab dengan gadget, bahkan terikat secara emosional, apakah peran manusia sebagai mitra berinteraksi, tergantikan? Her memberi renungan yang indah.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Her
Genre: Drama | Romance | Sci-Fi
Sutradara: Spike Jonze
Skenario: Spike Jonze
Produksi: Warner Bros. Pictures
Pemain: Joaquin Phoenix, Amy Adams, Scarlett Johansson
Durasi: 2 jam 6 menit

Manusia lalu lalang di kaki gedung-gedung pencakar langit Los Angeles masa depan. Sambil berjalan, tiap orang sibuk bicara sendiri. Bukan sendiri, tepatnya, tapi dengan “seseorang” di luar sana, yang suaranya disampaikan lewat earpiece yang terpasang di salah satu kuping.

Di antara manusia sibuk itu Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) duduk di bangku taman. Dia juga sedang ngobrol seru dengan temannya lewat earpiece, kadang suaranya meninggi, kadang sampai terkikik.

Teman curhat manusia masa depan itu sebenarnya bukan manusia, melainkan operating system (OS), komputer teknologi canggih yang dapat mendengar, bicara, dan melihat. Alatnya selebar telapak tangan, ada kamera, dan bisa memunculkan tulisan tangan. Pasangannya adalah earpiece, yang kalau diletakkan di lubang telinga, maka akan ada yang menyahut di sana.

OS milik Theodore bernama Samantha (diisisuarakan Scarlett Johansson) yang bersuara serak seksi. Awalnya Samantha hanya membantu dalam bekerja, mengingatkan ada email masuk, atau mengatur jadwal harian Theodore. Namun lama kelamaan, komunikasi mereka semakin pribadi.

Theodore merasa nyaman curhat tentang apa saja pada Samantha, termasuk tentang pernikahannya yang gagal dengan Catherine (Rooney Mara) tapi dia tak juga menandatangani surat perceraian. Theodore masih tenggelam dalam depresi, sedangkan Catherine sudah bisa melanjutkan hidupnya.

Theodore adalah pria berusia 40-an, berkumis, berkaca mata geeky, bercelana panjang dengan garis pinggang tinggi (mirip celana pelawak Jojon), dan gemar berkemeja warna pastel. Dia bekerja sebagai penulis kartu ucapan, di kantor yang tidak banyak karyawan.

Saat malam, Theodore pulang ke apartemennya yang luas. Menyalakan kamera, memasang earpiece, dan melanjutkan obrolan dengan Samantha hingga mengantuk. Pernah pula Samantha meminta Theodore tidak mematikan kamera agar dia bisa melihat bagaimana Theodore tidur.

Bersamaan tumbuhnya rasa cinta di hati Theodore, tumbuh pula rasa ingin memiliki dan cemburu. Theodore ingin Samantha hanya untuknya. Padahal Samantha melayani jutaan orang yang berteman dengan OS. Di detik yang sama saat bicara dengan Theodore, Samantha pun bicara dengan ribuan orang lainnya.

Her adalah tipikal film tentang pria kesepian. Tinggal sendirian di apartemen, kerja dengan rutinitas orang kantoran, dan sensitif. Karakter Theodore yang rapuh nampak benar di balik gesturnya yang kikuk dan seringai kekanakannya.

Kisah cintanya ganjil, menyedihkan, dan semakin menguatkan anggapan teknologi yang diakrabi justru menjadikan seseorang makin kesepian. Her juga merupakan sebuah alegori bahwa pria kesepian takut pada perempuan, sehingga memilih bermain aman dengan gadget.

Lapis terdalam Her lebih condong ke metafisika ketimbang fisik. Betapa tidak, karakter yang paling menarik justru tidak ada wujudnya. Melalui film ini Spike Jonze semakin memantapkan diri sebagai sutradara spesialis film berkonsep pemikiran tingkat tinggi lalu menghelanya ke sebuah meditasi tentang hubungan manusia. Tengok saja film-film Jonze sebelumnya, seperti Being John Malkovich (1999), Adaptation (2002), dan Where the Wild Things Are (2009).

Her lebih menyerupai Synecdoche (2008)-nya Charlie Kaufman, yang jadi penulis skenario Being John Malkovich dan Adaptation. Punya banyak kesamaan juga dengan Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), tentang sulitnya moving on dari hubungan yang awalnya nampak sempurna.

Samantha disuarakan dengan sangat hidup oleh Scarlett Johansson. Tak heran kalau penonton berharap sosoknya muncul walau hanya beberapa detik, entah itu di layar komputer, atau di gadget Theodore, atau jadi salah satu di kerumunan, atau jadi hantu blau apapunlah. Sampai-sampai kritikus menyebut inilah penampilan Johansson yang paling dikenang abad ini, walau dia tampil tanpa sosok.

Penampilan Phoenix kali ini sangat berbeda dari penampilan sebelumnya di The Master (2012). Dengan kehalusan yang luar biasa dia melekatkan kesepian dan kerinduan dalam diri Theodore. Matanya berbicara lebih banyak ketimbang yang dia ucapkan. Terlebih lagi Jonze kerap membingkai Theodore dalam ruang yang luas. Bahkan apartemennya  membuat Theodore jadi kecil.

Jonze menyodorkan pertanyaan tentang bisakah dua sistem yang berbeda, yakni manusia dan teknologi, menemukan kebahagiaan? Pertanyaan ini berputar terus sepanjang film. Mungkin itu sebabnya Jonze menempatkan Amy (Amy Adams), kawan kuliah Theodore dan sekarang jadi tetangga, sebagai kayu patok.

Amy pernah berkata pada Theodore yang sedang mabuk cinta pada OS-nya, “Menurut saya, siapapun yang jatuh cinta itu aneh. Semacam kegilaan yang dapat diterima masyarakat.” Amy membuat kesimpulan yang tepat tentang Her, bahwa kadang, gila bisa terasa indah

***

Dimuat di Majalah Detik edisi  118, 3-9 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s