Wayang Tavip Merawi Sie Jin Kwie

Image

Wayang kontemporer ini berhasil memikat anak-anak hingga orang dewasa. Bahannya plastik yang diwarnai spidol. Kisah klasik Tiongkok pun jadi ringan dicerna.

Oleh Silvia Galikano

Sie Jin Kwie memperoleh banyak ilmu silat dari gurunya. Remaja itu kini jago silat, jago pedang, jago panah. Nafsu makannya juga besar. Sekali makan dia bisa habiskan tiga piring nasi mumbul dan tiga ekor ayam.

Hingga suatu hari Sie Jin Kwie tersadar uang warisan dari kakek dan orangtuanya yang kaya raya sudah habis untuk membayar guru-guru silat. Tidak pernah dia pakai untuk bersenang-senang. Sekarang dia bingung tidak punya uang lagi. Minta ke pamannya malah diusir dengan hardikan, “Makan tuh ilmu!”

Di tengah kesedihan, hanya satu yang terpikir, yakni bunuh diri. Namun sesudah tali diikatkan di pohon besar lalu dikalungkan ke lehernya, pohon besar itu yang tumbang menimpa Sie Jin Kwie hingga pingsan. Begitu siuman, dia sudah berada di rumah pasangan Mo Seng dan Mo Jie, dua orang yang membantunya terlepas dari jerat tali bunuh diri. Jin Kwie menangis dan berkata, “Malang sungguh nasib saya. Tidak punya sanak saudara, ingin mati tapi matipun tidak bisa.”

Pasangan ini memutuskan mengasuh Sie Jin Kwie. Mo Seng percaya Jin Kwie bukan lelaki biasa karena dia melihat ada cahaya yang memancar dari tubuh pemuda itu. Dia percaya suatu saat Jin Kwie bakal mengubah dunia.

Setiap hari Jin Kwie mengerjakan apa saja asal bisa dapat makan. Dari mengumpulkan kayu bakar di hutan, menggembala kerbau, hingga memanggul dagangan ke pasar. Melihat anak angkatnya itu rajin, Mo Seng merekomendasikan Jin Kwie bekerja jadi kuli bangunan di rumah juragan Lie Kong yang kaya raya.

Layar kemudian menampilkan lorong warna-warni yang berputar, penanda satu babak selesai. Dalang dan kru di belakang menyanyi saling bersahutan dengan penuh semangat. “E-a-e… e-a-e… e-a-e…”

Total waktu pertunjukan wayang tavip ini hanya 45 menit. Lakon Sie Jin Kwie yang aslinya satu episode besar (dari tiga episode) bisa tiga malam pementasan, “diperas” sana-sini hingga menghasilkan total 45 menit. Ceritanya dijaga tetap tersambung mulus dari Sie Jin Kwie kecil yang bisu hingga jadi panglima perang Kerajaan Tang.

Lakon Sie Jin Kwie yang dipentaskan di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, 1 Februari 2014 atau sehari setelah hari raya Imlek, itu menyedot perhatian penonton berbagai usia, termasuk anak-anak. Selain durasi yang singkat, waktu pementasan sore hari, dan lokasi di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, wayang tavip-lah yang mengundang keingintahuan.

Wayang tavip adalah wayang plastik dengan karakter berwarna-warni dari spidol. Cara memainkannya serupa dengan wayang kulit. Tidak ada pakem khusus harus seperti memainkan cerita pewayangan klasik, walau tetap dengan filosofi wayang. Umumnya mengangkat cerita-cerita kontemporer yang kita hadapi sehari-hari, seperti isu suap menjelang pemilihan gubernur atau ajakan untuk hidup bersih.

Wayang tavip semula bernama gambar motekar, merupakan hasil eksplorasi  Herry Dim dan M. Tavip pada 2003. Sumber karakternya wayang kulit Cina-Jawa karya Gan Thwan Sing, jenis wayang yang mati pada awal Orde Baru, ketika masyarakat Cina di Indonesia dilarang menyajikan atau mempertontonkan kebudayaan leluhurnya.

Wayang temun baru ini kemudian dijadikan disertasi pascasarjana M.Tavip di ISI Surakarta dan disahkan dalam sidang karya pada 2010. Nama “wayang tavip” diusulkan Nano Riantiarno, pendiri Teater Koma, yang jadi dosen pembimbing M. Tavip.

Menggunakan bahan transparan, tata cahaya khusus, layar khusus, dan pemutar gambar sehingga wayang tavip dapat memvisualkan bayang-bayang pada layar (kelir) secara jelas. Bentuk, warna, motif, ornamen dapat ditangkap penonton di balik layar sama seperti aslinya, bukan hanya siluet seperti di wayang kulit.

Sedangkan Sie Jin Kwie adalah kisah kepahlawanan abad ke-7 (zaman dinasti Tang) yang ditulis Tio Keng Jian dan Lo Koan Chung. Cerita ini kemudian disadur Nano Riantiarno jadi tiga bagian dan sudah dipentaskan Teater Koma, yakni Sie Jin Kwie Menolak Anugrah Raja (2010), Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011), dan Sie Jin Kwie di Negeri Sihir (2012). Budi Ros terlibat dalam pementasan tersebut sebagai dalang.

Budi Ros mendalang wayang tavip secara segar, tidak kaku. Ada sahut menyahut antara dalang dan kru di belakang layar. Misalnya ketika cerita Jin Kwie masuk militer lalu langsung melompat ke Jin Kwie jadi jenderal, terjadi dialog antara Budi dan kru.

“Kamu ngga nanya?” Budi memancing.

“Itu kenapa, Om?”

“Bukan itu pertanyaanya. Pertanyaannya kenapa Sie Jin Kwie jadi jenderal, supaya jawaban saya betul: jadi jenderal tapi lewat perjalanan yang berliku. Untuk diterima di dinas militer saja dia perlu tiga kali mendaftar karena namanya.”

Belum lagi adegan lucu sewaktu Sie Jin Kwie hendak bunuh diri. Ternyata Jin Kwie tak kunjung berhasil meneroboskan kepalanya ke tali. Alhasil Budi bangkit dari duduknya, “Ah, sudah saya pasang sendiri saja.” Dia mengulurkan tangan ke tali lantas mengalungkannya ke leher Jin Kwie. Tentu penonton tertawa geli melihat bayangan tangan dan kepala dalang muncul di layar.

Wayang tavip memang terbuka dimainkan dengan berbagai gaya. Budi memasukkan juga gaya jemblungan, yakni suara musik atau gamelan ditirukan oleh mulut, khas Banyumas, Jawa Tengah. Jemblungan inilah yang membuat suara demikian riuh di belakang layar. Apalagi bagian “E-a-e… e-a-e… e-a-e…” tadi.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 115, 10-16 Februari 2014

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s