Balet Anggun Berandal

Image

Perebutan kekuasaan wilayah melibatkan gangster, politisi korup, dan polisi bersih. Ke dalam kekusutan itulah Rama diterjunkan.

Oleh Silvia Galikano

 

Judul: The Raid 2 Berandal

Sutradara: Gareth Evans

Produser: Ario Sagantoro

Director of Cinematography: Matt Flannery

Produksi: Merantau Films, XYZ Films

Skenario: Gareth Evans

Pemain: Iko Uwais, Arifin Putra, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Julie Estelle

Durasi: 148 menit

 

Sempat mengira The Raid 2 adalah kelanjutan The Raid (2012)? Sempat mengira adegan-adegan The Raid 2 akan lebih sadis, bahkan gory, dari Raid? Dan Mad Dog, yang sudah mati itu, bakal dihidupkan lagi dan makin gila?

Tetooottt… Anda salah besar. Kali ini, bersiaplah untuk cerita yang rumit dalam bingkai visual menawan diiringi skor musik yang indah.

Setelah berhasil mengalahkan mafia narkoba yang menguasai apartemen 30 lantai di The Raid, Rama (Iko Uwais) mendapat tugas baru. Komandannya, Bunawar (Cok Simbara), menugaskan Rama menyusup ke penjara agar bisa dekat dengan Ucok (Arifin Putra), putra bos gangster Bangun (Tio Pakusadewo). Ujungnya membongkar bisnis hitam Bangun berikut pejabat-pejabat korup di sekitarnya.

Rama, si napi baru, menarik perhatian Ucok dengan cara menghajar habis orang kepercayaannya di penjara dan menyelamatkan nyawa Ucok saat terjadi perkelahian antargeng di dalam penjara. Ucok kini berutang budi dan nyawa pada Rama.

Selepas dari penjara, Rama jadi tangan kanan Ucok dan mengenal Eka (Oka Antara), pengawal Bangun. Dengan kembalinya Ucok, kekuatan bisnis hitam keluarga ini makin solid, juga kerjasama dengan gangster Jepang dalam berbagi daerah kekuasaan.

Ucok kian mendesak ayahnya agar memberi tanggung jawab lebih besar padanya, tidak lagi hanya bertugas minta setoran pada pengusaha film porno atau tugas-tugas kecil lainnya. Dia ingin mendapat wilayah kekuasaan juga, tapi Bangun bersikukuh belum saatnya Ucok mendapat tanggung jawab tersebut.

Sementara itu, di luar sana, Bejo (Alex Abbad), gangster yang tengah melebarkan sayap, mengincar posisi gangster Jepang. Dia melihat jalan masuk yang tepat lewat konflik Ucok dan ayahnya. Bejo membujuk Ucok bergabung dengannya untuk mengalahkan gangster Jepang dengan janji diberi wilayah kekuasaan yang menguntungkan. Di saat yang sama, Rama akhirnya tahu, Bejo-lah yang dulu membunuh abangnya, Andi (Donny Alamsyah).

Masih dibintangi Iko Uwais dan Yayan Ruhian, The Raid 2 menyodorkan action yang lebih rumit, lebih dramatis, dan lebih besar dari yang pertama. Adegan-adegan tarung yang dikoreografikan Iko dan Yayan kali ini lebih kental gerakan silatnya. Plotnya ketat didukung narasi yang sempurna dan karakter yang lebih hidup.

Evans membuktikan dapat keluar dari genre action sebelumnya untuk melompat ke level lebih tinggi. Dia berhasil membuat film action dengan rasa Indonesia yang kental, lengkap dengan umpatan keseharian orang Jakarta yang berhamburan tiap 5 menit. Beda dengan The Raid yang terasa hanya memindahkan action Hollywood ke Indonesia, bahasanya pun janggal karena sekadar meng-Indonesia-kan istilah-istilah dalam bahasa Inggris-Amerika.

Film ini memenuhi semua syarat bagaimana seharusnya sebuah sekuel. Jangkauannya makin luas, taruhannya makin tinggi, dan risikonya makin berat. Memang menampilkan gambar-gambar kepala hancur, menggorok leher, dan luka-luka terbuka lainnya, tapi kali ini tidak sebrutal pertama, dan yang penting, semua dengan sentuhan seni. Tak berlebihan jika ada yang menyebut action The Raid 2 tak ubahnya komposisi balet Swan Lake dengan ornamen muncratan darah, tulang patah, dan tengkorak pecah.

Ambil contoh adegan perkelahian di lumpur, misalnya. Hari hujan deras, lapangan berubah jadi kubangan lumpur. Para napi yang berteduh di tepi lapangan terbagi dua gerombol berseberangan. Suasana tegang, tak ada yang bersuara.

Perkelahian pecah di pinggir lapangan ketika satu geng menyerbu geng lawan. Satu orang terdorong ke tengah lapangan. Adegan berjalan dalam gerak lambat dan suara di-mute, hingga cesss… orang yang terdorong itu terjengkang menyentuh lumpur, mencipratkan lumpur ke mana-mana. Lalu adegan kembali normal dan seru-seruan memenuhi udara.

Adegan ini melibatkan 120 petarung dan 100 kru, dan butuh delapan hari syuting. Namun semuanya terbayar, tunai.

Kejutan bagi penonton adalah karakter bagi Yayan Ruhian. Setelah Mad Dog mati di akhir film The Raid, kali ini Yayan memerankan Prakoso, pembunuh bayaran yang jadi kepercayaan Bangun sejak lama. Gareth menyosokkan Prakoso bukan lagi sebagai orang jahat yang menyebalkan, yang membuat penonton ingin dia mati cepat-cepat.

Prakoso tak ubahnya jagoan tua yang lengkap pengalaman hidupnya dan sudah mendapat semua yang diinginkan, kecuali membahagiakan istri dan anaknya. Setiap kata yang dia ucapkan bermakna. Kita dibuat bersimpati pada tokoh antagonis ini. Dia bertarung atau tidak jadi tidak penting.

Film ini menghadirkan pesilat Cecep Arif Rahman yang berlatar belakang silat Panglipur, serta pesilat muda Very Tri Yulisman sebagai Baseball Bat Man yang beradu peran dengan Hammer Girl (Julie Estelle).

Cukup syarat Gareth Evans dijuluki sang maestro action. Dia telah memberi definisi baru cara mengapresiasi genre ini. Kita tunggu, apa lagi yang dia siapkan untuk filmnya mendatang, seperti tertulis dalam teaser Raid 2: “It’s not over yet!”

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 122, 31 Maret – 6 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s