Gareth Evans: Seratus Persen Puas

Image

Saya tidak mau membuat sekuel film yang rasanya hanya jiplakan dari film pertama. Karena tidak ada yang lebih buruk dari sebuah sekuel selain “yah gedung itu lagi” atau “ah di ruangan lama lagi.”

Oleh Silvia Galikano

Raid 2 Berandal akhirnya dirilis di Indonesia pada 28 Maret 2014 setelah tayang perdana di Festival film Sundance, Januari lalu. Pengulas-pengulas film di AS rata-rata membuat ulasan positif atas film ini. IMDB, situs online yang menyediakan informasi tentang film, televisi, dan video game memberi 4,5 bintang dari 5 bintang. Rottentomatoes, situs yang bergerak di bidang serupa, memberikan 4 dari 5 bintang.

Jika di The Raid (2011) penonton dibuat terkaget-kaget dengan “10 cara membunuh paling cepat dan efektif” maka sekuelnya kali ini menyuguhkan banyak adegan indah dan drama menarik selain action yang jadi genre-nya.

“Kami memutuskan menganyam drama dengan adegan-adegan tarung, jadi penonton bukan hanya melihat orang bertarung, tapi juga ada ceritanya,” ujar Gareth Evans.

Apa lagi yang disuguhkan The Raid 2 hingga mendapat banyak ulasan positif di luar negeri? Dan apa saja tantangan membuat film action di Indonesia? Berikut obrolan dengan sutradara Raid dan Raid 2 Gareth Evans dalam pemutaran Raid 2 untuk wartawan, 21 Maret 2014 di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan.

 

Apa yang terbersit di benak Anda ketika memutuskan membuat Raid 2 Berandal?

Yang pertama, saya harus membuatnya di Indonesia, tapi saya ingin membuat yang lebih. Jadi pekerjaan lain saya kesampingkan, yang ini harus didahulukan.

Apakah Anda punya kekhawatiran dalam membuat jalan ceritanya, mengingat Raid 2 adalah sebuah sekuel?

Saya menggarap script The Raid sekitar satu setengah tahun, setelah menyelesaikan Merantau (2009). Kemudian perlu enam bulan lagi untuk menulis ulang agar jalan ceritanya pas sebagai sebuah sekuel. Sekitar 30-40 persen script-nya diganti, dan setiap kali ada yang diganti, saya harus memeriksa lagi halaman per halamannya untuk memastikan tidak ada yang berlawanan dan memastikan alurnya jalan. Karena itu butuh waktu lama.

Selain itu ada tekanan, harapan dari masyarakat. Yang terjadi pada film pertama mengejutkan kami karena tidak mengira sebagus itu sambutannya. Ketika saya dan Toro (Ario Sagantoro, produser The Raid dan The Raid 2) pertama menonton The Raid setelah rampung, kami menganggap, “Oke, hasilnya bagus,” tapi tidak tahu bagaimana tanggapan penonton. Dan ternyata tanggapan penonton bagus. Semoga tanggapan penonton akan bagus juga untuk ini (Raid 2 Berandal). Kita lihat saja.

Saat menggarap The Raid 2, mana yang jadi penekanan, jalan ceritanya atau action-nya?

Keduanya. Kita harus mementingkan jalan cerita berikut actionnya, walau ini sekuel. Saya perhatikan setiap aspek, seperti cerita, action, lokasi, semuanya. Saya tidak mau membuat sekuel film yang rasanya hanya jiplakan dari film pertama. Karena tidak ada yang lebih buruk dari sebuah sekuel selain “yah gedung itu lagi” atau “ah di ruangan lama lagi.” Saya tidak ingin membuat sekuel seperti itu, saya mau mengembangkan lagi.

Proses pembuatan film ini makan waktu tujuh bulan, dari Januari hingga Juli 2013. Mengapa bisa selama itu?

Tujuh bulan itu melebihi waktu yang seharusnya bisa 5-6 bulan. Ada sesuatu terjadi yang membuatnya mundur, seperti mencari lokasi yang cocok untuk adegan kejar-kejaran mobil, lagipula ini pertama kalinya kami membuat adegan kejar-kejaran mobil di Indonesia.

Sangat-sangat sulit. Kami tidak bisa terus menerus menutup jalan, melainkan harus buka-tutup. Kami baru ngeh ketika mengerjakan adegan itu setiap hari, ternyata menutup dan membuka jalan saja sudah memakan 50 persen waktu kami. Membukanya butuh waktu 2-3 menit, sedangkan menutupnya butuh 15-20 menit untuk menahan pengguna jalan agar tidak menerobos pembatas jalan yang kami pasang. Kami juga mendapati momen-momen yang sinting saat mengambil adegan itu. Pernah kami siap untuk take, mobil (yang akan disyut) mulai jalan, tiba-tiba sepeda motor nyelonong masuk hampir menabrak mobil.

Kami sangat terbantu adanya tim sutradara, tanpa tim lokasi, tanpa tim stunt. Karena begitu siap untuk shoot, biasanya fokus saya hanya pada monitor. Misalnya kalau sedang mengerjakan adegan kejar-kejaran mobil, sulit jika saya bolak-balik menengok ke belakang, memastikan tidak ada sepeda motor yang nyelonong atau ada anak kecil yang menyeberang jalan. Kami periksa lagi, periksa lagi, periksa lagi, begitu terus dari siang sampai malam. Very stressful.

Adegan mana yang lebih menantang?

Adegan kejar-kejaran mobil.

Bukan adegan kerusuhan di penjara?

Adegan kerusuhan di penjara lebih tinggi tuntutannya secara fisik. Dalam adegan itu pemain harus berada dalam lumpur selama delapan hari berturut-turut. Kami harus menambah air, menambah lumpur hingga setinggi pergelangan kaki. Dalam sekali. Saya kehilangan sepasang sepatu di dalam lumpur. Semua orang masuk lumpur, semua orang kotor, semua capek. Tidak ada yang nyaman. Itu shoot paling parah yang kami lakukan. Tapi yang paling stressful adegan kejar-kejaran mobil.

Apakah anda puas dengan drama dan action film ini?

Seratus persen puas. Jauh lebih puas dibanding yang pertama. Jujur saja, yang kami lakukan di sini lebih mendalam. Untuk film ini, kami memutuskan menganyam drama dengan adegan-adegan tarung, jadi penonton bukan hanya melihat orang bertarung (fighting), tapi juga ada ceritanya. Ketika menonton adegan tarung, maka itu adalah pengembangan plot, pengembangan karakter. Jadi lebih berarti dan mendapat efek lebih besar.

Ada yang menganggap film-film Anda terlalu kejam, brutal. Apa tanggapan Anda?

Tidak setuju. Sejak 10-15 tahun sebelum membuat film, saya sudah menonton ratusan film yang lebih kejam dibanding film-film yang saya buat. Ambil contoh film-film Jepang itu lebih kasar dibanding film-film saya. Lihat saja Killers (2014), itu lebih kejam.

Menurut saya perbedaannya begini, ada yang membuat orang ingin muntah, atau hanya ingin mendapat reaksi instan. Yang ingin saya lakukan adalah membuat film yang keras dan ekstrem tapi cepat, hanya sepersekian detik, lalu berhenti, lanjut ke yang lain.

Kami bukan ingin memberi sesuatu yang menjijikkan, tapi yang membuat penonton terkejut. Jika kita dengar 10 dari penonton memberikan reaksi yang sama, artinya kita merasakan atmosfer yang sama, lalu mereka sama-sama tertawa karena konyol. O shit, it’s funny now. Dan oke-oke saja menertawakan adegan itu karena bukan kejadian nyata, adegan itu cartoonish.

Saya tidak terganggu dengan apapun yang di film, karena tidak nyata. Saya terganggu kalau kekerasan itu kejadian nyata, saya terganggu melihat berita dan di situ orang dihajar, ada mayat di jalan. Saya tidak suka kekerasan di dunia nyata. Kalau itu fiktif, seperti silat, tari, seperti balet, memang didesain untuk tampil gaya. Kami membuat film untuk menghibur.

Di Amerika, Raid 2 mendapat pujian. Anda siap menerima kemungkinan terburuk di Indonesia?

Di Indonesia tanggapannya beragam, tidak hanya negatif. Opini adalah opini. Yang penting pendapat itu mengenai film. Orang suka, orang benci, atau sedang-sedang saja, tidak masalah. Ketika membuat film, kita jadi bagiannya, kita memberikan sepenuhnya, lalu melepaskannya. Karena jika sebaliknya, mengurusi apapun yang dikatakan orang, bisa gila.

Dalam satu jam film, kita bisa dapat 10 ulasan yang memuji “oke, bagus, brilian,” tapi 5-6 lainnya mengatakan “ah payah.” Bagi saya, ulasan yang jadi acuan, yang disebut dari mulut ke mulut, itulah fokus saya. Kalau hanya pendapat umum, saya tidak peduli.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 122, 31 Maret – 6 April 2014

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s