Kartu Pos Kuno di Galeri Seni Kontemporer

galeria fatahillah, museum fatahillah, museum sejarah jakarta, kota tua jakarta, kotatua jakarta
Meremajakan kembali Kotatua Jakarta adalah juga memberi ruh bagi isinya serta menjadikannya ruang berinteraksi. Maka kini lantai 2 Kantor Pos beralih fungsi jadi galeri seni kontemporer.

Oleh Silvia Galikano

Empat baju digantung di kapstok kuno. Kapstok kayu yang ada cerminnya. Empat baju itu beda-beda ukuran tapi bermotif serupa, yakni motif kartu pos kuno, surat kuno, dan amplop kuno berbahasa Belanda yang memuat foto-foto Batavia masa lalu.

Ada Stadhuis yang sekarang jadi Museum Sejarah Jakarta, Tjiliwoeng yang dipagari pohon-pohon pisang, serta surat-surat berperangko Belanda yang dialamatkan ke Batavia.

Empat baju itu adalah karya instalasi bertajuk Surat Terakhir (2014), dibuat Mella Jaarsma, seniman asal Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Romantisme masa lalu kuat terasa, ketika Batavia adalah kota benteng yang dikelilingi kampung luas.

Baca juga Panggung Glamor untuk Harlequin

Bukan sekadar romantisme masa lalu yang sebenarnya ingin diangkat, melainkan fungsi kantor pos di masa lalu yang sangat penting. Untuk rentang waktu yang lama kantor pos pernah menjadi pusat komunikasi, dan Mella mengerucutkannya ke zaman ketika surat memegang peran penting dalam komunikasi antara Indonesia dan Belanda.

Kini, generasi terakhir yang memiliki kontak langsung dengan era kolonial Belanda sudah hampir punah. Hanya cerita dan kenangan yang tersisa pada anak cucu mereka yang akhirnya akan menghilang dari ingatan generasi berikutnya.

Mella membuat Surat Terakhir terinspirasi dari lokasi karyanya dipamerkan, Kantor Pos Taman Fatahillah, Jakarta yang sedang memasuki tahap baru dalam sejarah, bukan hanya tempat mengirim pesan melalui pos, tapi juga tempat mengirim pesan melalui seni.

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Kantor Pos Taman Fatahillah yang berlokasi di seberang Museum Sejarah Jakarta (dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah) didirikan pada 1928 oleh kontraktor Nedam. Perancangnya Ir. R. Baumgartner, arsitek di Bouwkundig Bureau yang ada di Departemen van Burgerlijke Openbare Werken (BOW, Departemen Pekerjaan Umum). Sejak didirikan sudah berfungsi sebagai kantor pos.

Sekarang bertambah fungsinya. Lantai 1 masih melayani jasa pos sedangkan lantai 2 jadi ruang seni kontemporer (contemporary art space) bernama Galeria Fatahillah. Penambahan fungsi ini adalah bagian dari revitalisasi Kotatua Jakarta seluas 284 hektare melalui tindakan rekonstruksi, restorasi, infrastruktur, dan penghijauan.

Revitalisasi dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan Jakarta Endoment for Art & Heritage (Jeforah).

Baca juga Narasi Baru untuk Kotatua

Peresmiannya dilakukan pada 13 Maret 2014 dalam helatan bertajuk Fiesta Fatahillah. Disusul dua hari berturut-turut festival kuliner dan diskusi dengan kalangan seni dan arsitektur, BUMN, donatur, pengguna media sosial, korporat, serta kelompok perempuan.

Selain itu, 47 karya seni kontemporer dari 40 seniman dipamerkan di Galeria Fatahillah selama enam bulan ke depan. Para seniman itu di antaranya Agus Suwage, Arin Dwihartanto, Davy Linggar, Dolorosa Sinaga, Entang Wiharso, FX Harsono, Made Wianta, Nasirun, Nyoman Nuarta, dan Tisna Sanjaya.

Begitu pengunjung menginjakkan kaki di lantai 2, Answering My Own Wave karya Teguh Ostenrik yang langsung menyergap pandangan. Ada wajan (penggorengan) yang dibelah-belah, dikelompok-kelompokkan, lalu dideretkan menyamping demikian panjang dengan latar belakang dinding warna tosca. Karya itu menghadap lurus ke Museum Sejarah Jakarta.

Baca juga Kotatua Tak Ditinggalkan

Wajan-wajan ini dideformasi untuk mengundang imaji visual baru yang menembus batas pemikiran konvensional sehingga lepas dari fungsi awalnya, dan tergantung pada daya khayal pengamatnya.

Inilah bentuk peluhuran terhadap wajan yang seringkali diremehkan, disembunyikan di sudut dapur, dan dijadikan perumpamaan untuk sesuatu yang jelek. Ini pula cara Teguh mengingatkan kita untuk lebih menghargai hal-hal kecil yang sebenarnya berharga, seperti air bersih, udara segar, dan makanan yang kita santap.

Lalu tengok karya Dipo Andy, Mencari Indonesia (2014), yang berisi peta besar Indonesia yang nyaris hilang ditimpa fragmen-fragmen macam-macam bentuk yang tidak menghasilkan bentuk apa pun. Indonesia masih saja mencari bentuk dan belum menemukan sosok yang sebenarnya dalam kehidupan berdemokrasi.

Baca juga Budaya dan Identitas Baru Tubaba

Celakanya, segala sesuatu yang merupakan produk luar Indonesia dianggap sebagai contoh yang harus ditiru tanpa harus dikaji. Lalu di mana Indonesia, siapa orang Indonesia, bagaimana dengan Indonesia, atau bahkan apa arti Indonesia? Makin sulit dijawab karena bisa jadi Indonesia sekarang telah keamerika-amerikaan, kearab-araban, kecina-cinaan, dan seterusnya.

Andra Matin, arsitek yang terlibat dalam program revitalisasi mengungkapkan dalam sesi diskusi, baru enam bulan yang lalu kesepakatan dengan gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dicapai untuk mengubah lantai 2 Kantor Pos Taman Fatahillah jadi galeri seni. Banyak kompromi harus dibuat dengan seniman yang punya banyak ide padahal bangunan cagar budaya punya banyak batasan.

“Akhirnya diputuskan bagaimana mengembalikan fungsi-fungsi yang sudah ada. Banner iklan yang sebelumnya dipasang di kiri dan kanan pintu utama dibuang agar kembali ke bangunan masa lalu.”

Fasad lantai 1 juga dicat dengan warna oranye, warna khas PT Pos Indonesia, setelah sebelumnya warna oranye hanya diaplikasikan di tempat-tempat tertentu saja. Sedangkan bagian lain dicat hanya dengan warna putih agar karya seninya menonjol.

Baca juga Refleksi Indonesia di 100 Tahun Otto Djaya

Galeria Fatahillah dicita-citakan sebagai museum seni kontemporer karena museum jenis ini belum ada di Indonesia. Bandingkan dengan Cina yang punya tak kurang 1000 museum pribadi. Namun karena koleksi belum banyak, maka sebagai langkah pertama adalah membuat galeri.

Sekarang tinggal bagaimana masyarakat mengapresiasinya. Semoga tidak ada lagi kejadian pengunjung datang ke galeri bertelanjang kaki, membengkokkan karya instalasi, atau bahkan mencuri karya seniman seperti yang terjadi pada hari pertama dan kedua Fiesta Fatahillah.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 121, 24-30 Maret 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.