Lionel Richie dan Sepotong Zaman

Image

“Sekuriti! Saya butuh sekuriti! Jakarta is out of control.”

Oleh Silvia Galikano

“Saya tidak pernah ‘diserang’ kamera ponsel, seumur hidup. Sekarang saya diserang 700 ponsel! My God! Kita bisa mencatatkan rekor untuk selfie terbanyak.”

Konser Lionel Richie All Hits All Night Long ini tanpa kelas festival. Semua dapat kursi. Tapi mulai Brick House, lagu disco dari tahun 1977, penonton sontak meninggalkan kursinya, kursi yang “disewa” dengan harga hingga Rp8 juta itu, lalu maju ke bibir panggung dan menggila di sana.

Ada yang berdisko khas 70-an dan 80-an, tapi lebih banyak lagi yang memotret Lionel Richie dengan kamera ponsel. Tak sedikit bahkan yang berfoto selfie dengan latar belakang sang penyanyi. Petugas keamanan membiarkan “kekacauan” ini. Richie malah meladeni penonton dengan ikut berpose dari atas panggung dan menyalami penonton yang menjulurkan tangan mereka sambil meneriakkan namanya, “Lionel! Lionel!”

Kamis 3 April 2014, JCC Plenary Hall Senayan Jakarta heboh besar. Kerinduan penggemar akan lagu-lagu Lionel Richie yang merajai puncak tangga 30-an tahun lampau terpuaskan sudah. Tinggal sebut deh, semua ada, lagu-lagu dari era Commodores hingga era milenium.

Misalnya Just for You, lagu riang dari tahun 2004, yang jadi pembuka konser, walau tidak “membakar” penonton, tapi lumayan menyengat. Richie tampil dalam setelan hitam-hitam, berdiri di depan standing-mic, membelakangi pianonya. Selesai Just for You, baru kemudian dia melompat ke Penny Lover dari tahun 1983. Jika lagu pertama kurang akrab di telinga penggemarnya di Indonesia, tidak demikian halnya dengan lagu ini yang sampai sekarang masih sering diputar di radio-radio Indonesia. Penonton ikut menyanyi dari kata pertama hingga habis.

“Jakarta, I’m telling you, it’s great to be here. Saya terheran-heran karena kami dari California yang panas, sampai di sini panas sekali. Panas! Mengapa kalian tidak lepas baju saja sepanjang hari? Saya tahu itu tidak diizinkan, tapi kalau saya jadi kalian, saya bakal telanjang setiap hari.”

Richie kemudian duduk di depan pianonya. Easy mengalun santai. Dia membawakan lagu yang aslinya dinyanyikan bersama Commodores pada 1977 itu medley dengan My Love (1982), tapi kemudian balik lagi Easy lagi. Dan di bagian akhir, dia mengubah Easy jadi reggae, menghadirkan sedikit nuansa Jamaica.

Atmosfer romantis era 1980-an berlanjut saat Richie menyanyikan lagu-lagu dalam tone tenang, yakni Ballerina Girl (1985), You Are (1982), dan Truly (1982). Dia menutup sesi romantis ini dengan bangkit dari duduknya, lalu membungkuk kepada penonton. “I love it, I love it, I love it.”

Setelah nomor ceria Running with the Night dari album Can’t Slow Down (1983), Richie sekali lagi menyapa penonton. Kali ini lebih khusus untuk kelompok penggemar yang mengikuti sejak awal kariernya di Commodores dan kelompok yang “diracuni” orang tua mereka hingga hafal tiap kata dari liriknya.

Demikian panjang rentang karier Lionel Richie hingga lagu-lagunya ikut pula merekam kondisi politik dunia. Sebut saja Say You Say Me yang ditulis untuk soundtrack film White Nights (1985), saat perang dingin AS dan Uni Soviet sedang di puncak. Atau We Are The World (1985) yang ditulis bersama Michael Jackson, hasil penjualan lagunya disumbangkan untuk korban kelaparan di Afrika yang dikecamuk perang saudara.

Selain itu, yang tak mungkin ditolak adalah lagu-lagunya menjadi soundtrack kisah cinta jutaan orang. Dari sana pula kemudian lahir teori “cinta dalam tiga bentuk” yang dia lontarkan malam itu. Setiap bentuk cinta ada soundtrack-nya.

Teori pertama, “Hubunganmu putus. Putus. Goodbye. I don’t want to see you again. Ever. Kau hilang akal sehat, hancur. Lalu kau pulang, mengambil album CD, kaset, 8-track (pemutar stereo dari tahun 70-an), dan kau panggil Lionel Richie.” Lalu Still (1982) mengalun.

Teori kedua, “While you think it’s bad, it gets worse! Orang yang kau cintai sejak lama berdiri di sana bersama orang lain! Ohhh (menirukan orang yang ditikam ulu hatinya)! Kau berlari pulang, ambil album CD, kaset, 8-track, dan kau panggil Lionel Richie.” Oh No (1981) dari Commodores yang jadi soundtrack-nya.

I want you to want me// I’m goin’ crazy knowin’ he will be your lover tonight// And when he comes I’ll let you go//I’ll just pretend as you walk out the door….

Richie melanjutkan dengan teori ketiga. “Yang ini beda. Rumput hijau, langit biru, burung terbang, lebah berdengung, dan kau ingin katakan pada dunia kau sedang jatuh cinta. Kau lari pulang, ambil album, ambil CD, kaset, 8-track, dan siapa yang kau panggil?”

“Lionel Richie!!!” penonton serempak menjawab.

Dan inilah, Stuck on You (1983), penutup teorinya tentang cinta dalam tiga bentuk. Jangan ditanya riuhnya Plenary Hall. “Unbelievable,” kalimat ini dia ucapkan berkali-kali sambil menggelengkan kepala.

Suasana romantis bertambah pekat saat Richie bercerita tentang sejarah lahirnya Three Times a Lady, lagu Commodores pada 1978. Ceritanya, suatu malam ayahnya mengajak bersulang untuk ibunya.

“’Ini untuk ibumu, a great lady, a great mother, and a great friend.’ Rasanya saat itu ayah saya sedang membuat lagu, maka saya dedikasikan lagu ini untuk ibu dan ayah saya.”

Setelah Three Times a Lady jadi hits dunia dan jadi legenda hingga kini, yang ditanyakan ayahnya cuma satu pertanyaan sederhana, “Where is my money?”

Menikmati lagi Hello, Endless Love, All Night Long, hingga Dancing on the Ceiling secara live adalah mengenang indahnya tulisan tangan di lembaran buku tulis sekolah atau merasakan lagi debar-debar menunggu pak pos mengantar surat. Sebuah potongan zaman ketika semuanya masih berjalan pelan.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 124, 14-20 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s