Nyanyi Indah dari Jalanan

Image

Kehidupan jalanan bukan hanya berisi kehidupan keras. Dan kejamnya petugas yang kerap merazia tak sekejam orang-orang kaya dan wangi yang menganggap mereka hanya bayangan.

Oleh Silvia Galikano

 

Judul: Jalanan

Sutradara: Daniel Ziv

Produser: Daniel Ziv

Distributor: Miles Films

Pemain: Boni Putera, Titi Juwariyah, Bambang “Ho” Mulyono

Durasi: 107 menit

 

Boni melenggang masuk Plaza Indonesia, melewati petugas keamanan di pintu selatan. Badannya yang kecil langsing dibungkus celana jeans, sandal jepit, dan kaos lengan pendek menampakkan tato di sekujur lengan.

Tujuannya masuk tempat belanja kelas premium di Jakarta ini tak lain untuk menumpang buang air besar. Bukan karena tempatnya tinggal tidak ada WC, melainkan sekadar cari suasana lain. Buang hajat di ruang ber-AC dan wangi. Boni pun tidak langsung ke toilet, melainkan berputar-putar dulu menelusuri etalase demi etalase, window shopping. “Di sini paling murah gopek (Rp500 ribu, red.). Saya ya mending buat makan.”

Keluar dari bilik, dia ke wastafel untuk mencuci tangan, lalu menarik tisu, dan mengeringkan tangannya dengan tisu. “Enak di sini, adem, tapi ceboknya pakai tisu. Di WC sini e’ek macam-macam orang ‘nyatu, orang Arab, orang Cina, orang bule, orang susah. E’ek-nya aja yang ‘nyatu, orangnya ngga mau ‘nyatu.”

Boni adalah pengamen bis kota Jakarta. Berkawan gitar butut naik turun bis dari pagi hingga petang menyanyikan lagu ciptaan sendiri. Tinggalnya di kolong jembatan, di tepi sungai kota Jalan Sudirman, bersama istrinya. Ada beberapa orang lain yang juga tinggal di sana.

Boni berkawan dengan Ho, pengamen berdandan a la Bob Marley. Rambutnya gimbal panjang, lagu-lagunya reggae ciptaan sendiri. Lajang ini suka minum jamu kuat dan nyaris tak pernah berhenti merokok yang dia sebut sebagai penyambung nyawa.

Hidupnya tidak ngoyo. Istri tidak punya, pacar pun dalam proses melulu. Uang yang didapat kerap dipakai mentraktir rokok atau kopi kawan-kawan jalanan yang tidak seberuntung dirinya. Kalau terkumpul lumayan banyak, dia pakai untuk menyewa PSK di taman kota seharga Rp55 ribu.

Di sudut lain Jakarta ada perempuan pengamen bernama Titi, dengan gitar menyanyikan lagu-lagu ciptaan sendiri. Namun kadang dia bawakan juga lagu Opick, Alhamdulillah, jika sekiranya di bus banyak penumpang perempuan berjilbab.

“Kalau nyanyiin lagu tadi, ibu-ibu berjilbab suka kasih. Kalau lagu lain ngga mau ngasih. Pernah saya dikasih seratus ribu sama ibu-ibu. Terus ketemu lagi di hari lain, dia minta saya mainkan lagi, eh dikasih seratus ribu lagi hehehe….”

Titi adalah ibu beranak tiga. Dia tinggal di rumah mertua bersama suami dan anak bungsu mereka. Satu anaknya tinggal dengan orangtua Titi di Jawa Timur, satu lagi di Kalimantan. Suaminya pengangguran.

Dalam sebulan, Titi mendapat Rp400 ribu dari mengamen. Dari jumlah itu, Rp100 ribu diserahkan ke suaminya untuk uang rokok, Rp200 ribu dikirim untuk anaknya di kampung, Rp100 ribu lagi untuk kebutuhan sehari-hari.

Irama keseharian tiga pejuang Jakarta ini berubah ketika Boni diminta Pemkot DKI meninggalkan kolong karena sungai akan dikeruk untuk mencegah banjir. Ho yang biasanya hidup santai tanpa rencana masa depan, kini bertemu pujaan hati, seorang janda beranak tiga, dan akan segera menikah. Titi diceraikan suaminya dan dijauhkan dari anak bungsunya.

Jalanan bukan dokumenter mengiba-iba seperti umumnya cerita tentang orang jalanan. Tiga pejuang itu memang menyebut diri mereka orang yang terpinggirkan, kaum marjinal, orang-orang yang dianggap kalah secara ekonomi. Namun dengan pengalaman dan kecerdasannya, Boni, Ho, dan Titi membuktikan sebagai pemenang dalam menyiasati ibukota.

Dokumenter ini digarap jurnalis asal Kanada, Daniel Ziv, dengan proses pengambilan gambar selama lima tahun. Itu sebabnya kita jumpai rentang kehidupan yang panjang dari masing-masing tokohnya, membuat ceritanya kaya, padat, dan tidak berlama-lama dalam satu situasi. Kita bahkan bisa lupa bahwa ini dokumenter. Ada twist yang menggigit dan klimaks yang apik di sana.

Kesedihannya tidak menjadi drama, kebahagiaannya selalu diiringi ekspresi syukur tanpa kata. Dari Boni yang bisa membaca tapi tidak bisa menulis karena hanya sekolah sampai kelas 3 SD kita dapatkan banyak humor cerdas. Ho yang sering berfilsafat ringan itu punya banyak simpanan humor cabul. Sedangkan dari Titi yang tidak tamat SMA, kita jumpai semangat juang yang luar biasa.

Berawal dari audisi rahasia, tujuh tahun lalu, Daniel naik turun metromini mencari pengamen yang menarik dan punya karakter, mencari tiga saja dari 7000 pengamen di Jakarta. Akhirnya dia bertemu Titi di Terminal Blok M, Boni di dekat Ratu Plaza, dan Ho di Tosari. Setelah tujuh tahun berlalu, kini Boni dan Ho masih menekuni profesi sebagai pengamen, sedangkan Titi menjadi pengojek untuk karyawati yang bisa dipesan lewat online.

Jalanan tayang perdana pada Oktober 2013 di Busan International Film Festival, festival film terbesar di Asia, dan memenangi Best Documentary. Ini merupakan kemenangan pertama Indonesia selama 18 tahun pelaksanaan festival.

Beberapa hari setelah di Busan, film ini diputar di Ubud Writers and Readers Festival 2013, salah satu writers festival terbaik di dunia, dan mendapat standing ovation yang lama dari penonton. Sekarang, dokumenter ini sedang dikompetisikan di festival-festival film kelas wahid Asia, Eropa, Amerika, dan Timur Tengah, misalnya Asia Pacific Screen Awards 2014 di Brisbane, Australia. Semoga kemenangan lagi dan lagi untuk Jalanan!

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 124, 14-20 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s