Perburuan Kurang Nyeni

monumen men

Pendudukan Nazi di Eropa bukan hanya berisi pembersihan etnis Yahudi. Koleksi seni di segala penjuru negeri juga dirampas tanpa ampun oleh pasukan Adolf Hitler.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Monuments Men (2014)
Genre:  Biography | Drama |
Sutradara: George Clooney
Skenario: George Clooney, Grant Heslov
Produksi: Sony Picture
Pemain: George Clooney, Matt Damon, Bill Murray
Durasi: 1 jam 52 menit.

Di dalam tambang garam di Altaussee, Austria, ditemukan 6.577 lukisan, 230 gambar dan lukisan cat air, 137 patung, 122 karpet, dan lebih dari 1.200 peti buku langka. Itu baru dari satu tambang. Berdasarkan peta yang berhasil dicuri dari pasukan Nazi diketahui masih ada beberapa tambang lain. Di tambang-tambang itulah diperkirakan ribuan, bahkan jutaan, karya seni lain disembunyikan.

Nazi baru saja dipukul telak pasukan Sekutu. Ada masalah besar yang ditinggalkan Nazi, yakni pasukan pimpinan Adolf Hitler itu menjarah karya-karya seni klasik dari seluruh negeri yang didudukinya, kemudian disembunyikan entah di mana.

Saat Hitler sedang di puncak kejayaan, dia dulu bercita-cita membuat museum bernama Gemaldegalerie Linz atau Fuhrermuseum yang menyimpan karya-karya seni. Isinya lukisan, patung, dan karpet yang dijarah dari gereja-gereja, rumah-rumah keluarga Yahudi kaya, dan para kolektor, semisal Rothschild.

Berkaitan dengan itu, Hitler mengeluarkan perintah untuk menghancurkan karya-karya seni tersebut jika dia mati. Tindakan ini dinamakan nero decree.

Sementara itu di Amerika Serikat, Frank Stokes (George Clooney), konservasionis seni di Museum Fogg Harvard, membuat presentasi di depan Presiden Roosevelt tentang pentingnya menyelamatkan karya seni yang dulu dijarah Nazi. Tidak ada yang tahu kapan seorang prajurit Nazi datang ke tempat penyimpanan, menyalakan semprotan api, dan membakar habis lukisan-lukisan dan patung-patung dari zaman renaisans yang bernilai tinggi itu.

Perminataan Stokes dipenuhi. Dia membentuk kelompok bernama Regu Monumen yang terdiri dari tujuh orang dengan pengetahuan di bidang konservasi, sejarah, arsitektur, dan seni. Mereka adalah James Granger (Matt Damon), Richard Campbell (Bill Murray), Walter Garfield (John Goodman), Jean Claude Clermont (Jean Dujardin), Preston Savitz (Bob Balaban), dan Donald Jeffries (Hugh Bonneville) di bawah pimpinan Stokes. Tujuh orang ini dikirim ke Eropa dalam naungan program Monumen, Seni, dan Arsip Angkatan Darat AS.

Di Eropa, tujuh orang yang dipakaikan baju militer itu berpencar ke Normandia, St. Lo, dan Bulge, tempat-tempat yang diduga tempat Nazi menyembunyikan masterpiece-masterpiece seni Eropa. Sedangkan Granger menemui Claire Simone (Cate Blanchett) di penjara Paris.

Claire, yang sebelumnya bekerja di museum Jeu De Paume, Paris, dipenjara karena dianggap kolaborator Nazi. Padahal, Sekutu tidak tahu, Claire pernah memasok banyak data untuk adik laki-lakinya yang seorang mata-mata Sekutu. Granger berjanji membebaskan Claire asal dia mau memberikan informasi yang diperlukan. Claire dianggap tahu persis di mana tentara Nazi menyembunyikan hasil jarahannya.

George Clooney membuat The Monuments Men dengan pendekatan jamaknya thriller Perang Dunia tapi dengan sentuhan komedi petualangan dan sentimentil standar. Regu Monumen adalah orang-orang pilihan di bidang masing-masing, punya istri dan anak-anak, serta usianya tidak lagi muda, tidak seperti umumnya prajurit Sekutu yang muda-muda.

Mereka dituntut bekerja cepat menemukan karya seni yang dulu dirampas Nazi, lalu mengembalikan atau memindahkannya ke tempat aman sebelum ada tentara Nazi yang datang memusnahkan karya seni itu. Regu Monumen juga menghadapi desakan lain, yakni serbuan Soviet dari utara.

The Monuments Men awalnya adalah buku nonfiksi berjudul sama yang ditulis Robert Edsel pada 2009. Aslinya, Regu Monumen beranggotakan lebih dari 300 orang (dari 13 negara), tapi Edsel menyaringnya jadi hanya tujuh orang (lima dari AS, satu Jerman, satu Prancis). Dia memberikan sentuhan sastra serta menciptakan dialog-dialog bebas.

George Clooney dan Grant Heslov mengambil langkah sinematik sedikit lebih jauh. Pasangan penulis ini mengganti nama-nama karakter yang tertulis dalam buku Edsel, misalnya George Stout jadi Frank Stokes. Sam Epstein (Dimitri Leonidas), seorang Yahudi muda pasukan Sekutu yang menghabiskan masa kecil di Jerman diangkat dari sosok Harry Ett-linger. Clooney dan Heslov menciptakan sosok laki-laki dengan segenap kekurangannya.

Yang jelas, The Monuments Men bukan film perang. Ada banyak khotbah tentang seni dan mengapa seni bukan hanya penting, lebih jauh lagi, layak diperjuangkan dengan nyawa. Tak heran jika dijumpai adegan-adegan mengharukan yang tak ada dalam formula film lain.

Seperti ketika James Granger menggantungkan sebuah lukisan potret di apartemen keluarga Yahudi yang kini kosong, tempat terakhir si lukisan sebelum dirampas Nazi. Seakan-akan satu lukisan itu dapat membendung gelombang besar kehancuran dan kehilangan. Di adegan lain, Stokes meletakkan bingkai lukisan Picasso yang sudah hangus terbakar di samping segentong penuh gigi emas manusia.

Sinematografer Phedon Papamichael menggarap film ini dengan cermat. Lokasi-lokasi yang sebagian besar di Jerman digambarkan layaknya permukaan logam yang catnya sudah nyaris habis dimakan karat, patina dengan warna pudar yang cantik.

George Clooney melanjutkan tradisinya jadi bintang utama, tapi kali ini sekaligus sutradara dan ikut menulis. Dari film-film yang dia sutradarai, seperti Confessions of a Dangerous Mind (2002), Good Night, and Good Luck (2005), Leatherheads (2008), hingga The Ides of March (2011), Clooney menunjukkan kesetiaannya pada film klasik yang sudah nyaris tidak dibuat lagi oleh Hollywood.

Jika dicermati, The Monuments Men seperti kewalahan dengan tokoh utama yang ada tujuh itu. Akibatnya ensemble yang awalnya rapi jadi hilang fokus. Humor-humornya kadang klise. Hanya Murray dan Balaban yang berhasil mengembangkan chemistry dengan sempurna, terlebih pada adegan Have Yourself a Merry Little Christmas. Namun di atas semua itu, The Monuments Men membawa kebenaran yang mengejutkan dan kejernihan yang menyejukkan.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 121, 24-30 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s