Riuh Rendah Solférino

Image

Konflik rumah tangga ditempatkan dalam peristiwa besar sebuah negara. Justine Triet mengggarapnya dengan pendekatan tidak biasa.

Oleh Silvia Galikano

 

Judul: La Bataille de Solférino

Genre: Comedy | Drama

Sutradara: Justine Triet

Skenario: Justine Triet

Pemain: Laetitia Dosch, Vincent Macaigne, Arthur Harari

Durasi: 1 hr. 31 min.

 

Pagi yang sibuk di sebuah apartemen di Kota Paris. Ada ibu muda, Laetitia (Laetitia Dosch), yang usai berpakaian, lari ke ruang tengah memeriksa putrinya yang balita sedang bermain boneka di lantai.

Sebentar saja dia di ruang tengah, kemudian tergesa-gesa balik ke kamar untuk mengganti baju yang lebih casual. Tak lama, dia setengah berlari ke arah sofa di ruang tengah mengecek putrinya satu lagi yang menangis dan sedang ditenangkan Arthur (Arthur Harari), kekasih Laetitia.

Setelah si bungsu berhasil tenang, gantian si sulung yang mulutnya masih cemong bekas sarapan, menangis. Arthur mengangkatnya ke atas sofa. Si sulung kini tenang dipangku Arthur, sementara ibunya masih juga mondar-mandir setengah panik di rumah.

Laetitia sudah terlambat kerja. Hari itu dia harus meliput pemilihan presiden Prancis untuk channel i-Tele tempatnya bekerja. Marc (Marc-Antoine Vaugeois), yang hari itu akan jadi baby sitter anaknya, datang tepat waktu. Setelah menjelaskan sedikit tentang kebiasaan dua anaknya, Laetitia meninggalkan apartemen bersama Arthur yang juga pergi kerja.

Mengurus dua balita yang tiap sebentar bergantian rewel bukan masalah besar bagi Marc. Tapi ketika ada tamu tak diundang yang mendesak masuk, Marc kebingungan. Tamu itu adalah Vincent (Vincent Macaigne), mantan suami Laetitia, ayah dua balita yang sekarang diasuhnya.

Menurut keputusan sidang cerai, Vincent dibolehkan menjenguk putrinya sekali sepekan pada tanggal-tanggal yang ditetapkan. Vincent seharusnya datang kemarin, tapi dia tidak bisa, jadi dia datang hari ini padahal Laetitia sudah mengatakan tidak bisa hari ini.

Marc walau tadi pagi sudah dipesan Laetitia untuk tidak membukakan pintu pada siapapun, termasuk Vincent, tak urung bingung juga karena Vincent tak henti menggedor pintu. Dia akhirnya membukakan pintu karena Vincent bilang bawa surat dari hakim. Vincent masuk, menggendong anaknya satu per satu, memberikan kado, lalu bermain dengan anak-anaknya.

Namun sebelum membukakan pintu tadi, Marc sempat menelpon tetangga, seperti dipesankan Laetitia, untuk minta tolong jika terjadi apa-apa. Tetangganya yang datang saat Vincent sedang bermain dengan anak-anaknya, dapat mengajak Vincent keluar dari apartemen walau tidak mudah karena Vincent bersikeras tinggal.

Setelah semuanya tenang, Marc menelpon Laetitia yang kini bersiap siaran langsung di depan markas Partai Sosialis di Rue Solferino (Jalan Solferino. Laetitia meminta Marc untuk segera membawa dua putrinya ke lokasi liputan karena Vincent pasti bakal datang lagi dan perangai kasarnya akan keluar.

Marc segera meninggalkan apartemen dengan membawa dua balita itu ke Rue Solferino yang dipadati massa. Vincent, yang kemudian tahu hal ini, tersulut amarahnya. Dia menyusul ke Solferino. Vincent kini punya alasan kuat: Laetitia membahayakan dua balitanya dengan membawa mereka ke kerumunan massa.

La Bataille de Solferino (Age of Panic) adalah film indie Prancis yang membenturkan kehidupan pribadi dengan keadaan politik yang tengah terjadi. Hasilnya drama-komedi Mumblecore yang, uniknya, bergaya dokumenter. Serangkaian drama ditempatkan dalam peristiwa besar sebuah negara, diperciki humor di sana-sini oleh tiga karakter utamanya. Kita bisa temukan kelucuan dalam cekcok mantan suami-istri itu, dan dalam ekspresi Marc yang salah tingkah.

Justin Triet akhirnya membuat dramedi satu ini setelah sebelumnya sukses dengan dokumenter dan film pendeknya, seperti Sur Place (2007), Des Ombres dan la Maison (2010), dan Vilaine Fille Mauvais Garcon (2012) yang meraup banyak penghargaan di berbagai festival film. La Bataille de Solferino adalah film panjang pertamanya.

Triet mengambil latar belakang keriuhan puncak pemilihan presiden Prancis pada 6 Mei 2012 yang akhirnya dimenangi kandidat Partai Sosialis, Francois Hollande. Pilihan setting ini merupakan pertimbangan cerdas karena dia dapat mengekspos ketegangan suasana yang dibingkai apik melalui permainan banyak kamera dan membuat film enak ditonton.

Pendekatan dokumenter juga memunculkan rasa spontanitas dan semi-improvisasi yang sangat baik dari aktor dan aktrisnya. Dan Macaigne, aktor dari Conservatoire, tampil menonjol di sini, hingga tak heran dia memenangi Best Actor dalam Mara Del Plata Film Festival 2013.

Dari sisi narasi, Triet menunjukkan bakatnya menarik ulur cerita dengan cermat. Dia membuat sebuah situasi tidak nyaman jadi makin parah, lalu diredakan sebentar, baru kemudian ditarik habis dalam sebuah juluran panjang, khas film Eropa. Dan, yang paling menarik, kehidupan pribadi si reporter serta adu argumen tentang pengasuhan anak diambil dari sudut berbeda dibanding yang umumnya diekspos Hollywood. Triet menunjukkan punya cara sendiri yang lebih kena.

 ***

Dimuat di Majalah Detik edisi 120, 17-23 Maret 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s