Sentuhan Kontemporer untuk Siti Nurbaya

Image

Cerita klasik Siti Nurbaya menyuguhkan nuansa beda ketika dipanggungkan dalam format drama musikal. Ada sepotong keriangan dalam roman sendu ini.

Oleh Silvia Galikano

 

Gedung Sekolah Ambacang memuntahkan isinya selepas zuhur. Murid pulang bergerombol-gerombol. Di antara mereka ada Siti Nurbaya (Leona) dan Samsul Bahri (Arro) yang pulang searah, berjalan kaki sambil bercanda-canda.

Keduanya saling menaruh hati. Segalanya nampak sempurna. Si dara cantik dan si bujang tampan. Masa depan nampak cerah. Bahkan ketika terpisah jarak karena Samsul harus ke Batavia melanjutkan sekolah dokter, keduanya menganggap ini sekadar ujian cinta mereka. Toh surat-surat mengalir terus.

Di kampung mereka, Datuk Meringgih (Andy /rif) terkenal sebagai lintah darat dan pedagang yang licik. Hartanya berlimpah, istrinya banyak. Samsul Bahri bisa pergi sekolah ke Batavia juga dari uang pinjaman ayahnya, Sutan Mahmud (Iman J-Rocks), ke Meringgih dengan menggadaikan sawah.

Sutan Hamzah (Candil) adalah pendukung setia Meringgih, yang rajin menggosok setiap kali Meringgih punya rencana jahat menjatuhkan perniagaan orang lain. Kali ini yang jadi sasaran adalah toko Baginda Sulaiman (Ariyo Wahab), ayah Siti Nurbaya, di pasar. Meringgih menugaskan dua pendekarnya membakar toko itu. Karena sumber penghasilan ludes, Baginda Sulaiman pun terpaksa berutang pada Meringgih.

Sampai hari yang disepakati, Baginda Sulaiman tak bisa melunasi utangnya yang banyak, malah makin banyak karena bunganya berbunga terus. Meringgih menawarkan solusi agar Baginda Sulaiman menyerahkan Nurbaya padanya untuk diperistri. Tentu Baginda Sulaiman menolak mentah-mentah usulan itu.

Namun Meringgih tak kurang cerdik. Dia sudah menyiapkan opsir polisi yang akan menangkap Baginda Sulaiman kalau mangkir bayar. Baginda Sulaiman bersedia ditangkap polisi daripada menyerahkan anak tunggalnya pada Meringgih. Namun putrinya punya keputusan lain. Nurbaya menjatuhkan diri, terduduk di depan Meringgih, menyerahkan diri sebagai ganti agar ayahnya tidak ditangkap.

Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai adalah kisah yang familiar di masyarakat Indonesia, lahir dari roman karya Marah Rusli pada 1922. Kisah ini kemudian pernah jadi tontonan favorit ketika dibuat serial televisi pada 1990, Siti Nurbaya, dimainkan Novia Kolopaking, H.I.M. Damsyik, dan Gusti Randa.

Jika Inggris punya kisah Romeo and Juliet (abad ke-16) dari tangan Shakespeare, Tiongkok punya Sampek Engtay, dan Hollywood kontemporer punya Jack dan Rose dari film Titanic (1997) maka inilah Romeo & Juliet dari Indonesia, Sampek Engtay dari Ranah Minang. Ya, Sitti Nurbaya bukan cerita tentang perjodohan paksa, tapi tentang percintaan dua remaja yang berakhir tragis.

Pekan lalu, 29-30 Maret 2014, di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, kisah klasik ini dipentaskan dalam format drama musikal bertajuk Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Denny Malik yang jadi penggagas ide adalah juga art director dan penulis naskah pementasan ini.

Nuansa Minangnya dihadirkan lewat kostum dan rumah bagonjong yang cantik sebagai set panggung. Tiga puluh komposisi lagu orisinal berikut aransemennya dibuat Otti Jamalus dalam format kekinian dengan talempong sebagai sentuhan pemanis. Tak ada lagu-lagu Minang populer, apalagi lagu-lagu tua.

Melibatkan 150 pemain dalam durasi 120 menit, Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) berhasil mengingatkan lagi ada cerita milik Indonesia yang sarat filosofi. Di dalamnya juga terselip tatanan masyarakat Minang yang matriarkat tapi justru perempuan seakan tak punya suara.

Dalam sebuah penampilan kontemporer, pertunjukan ilusi merupakan pilihan menarik. Ilusi sudah dipertunjukkan sejak bagian awal, ketika pencerita berdiri di tengah panggung menggenggam lembaran cerita. Ketika gulungannya dibuka dan diarahkan ke penonton, nampak foto Nurbaya sedang tersenyum girang dalam baju sekolah. Namun ketika gulungan ini ditempelkan di layar belakang panggung, Nurbaya yang tadinya cuma foto berubah jadi hidup, melangkah keluar dari foto ke panggung.

Setidaknya ada dua adegan lagi yang menggunakan pertunjukan ilusi, yakni adegan Nurbaya mati sesudah makan kue beracun dan adegan pernikahan surgawi. Tak ayal, Siti Nurbaya yang menempatkan Demian sebagai ilusion consultant, jadi drama musikal pertama di Indonesia yang menggunakan pertunjukan ilusi.

Selain itu, tokoh-tokoh “punakawan” membuat pertunjukan ini segar. Mereka adalah Uni Solek (Ranti) dan Uni Gata (Vicky Burki) dua ibu penggosip, Bahtiar (Jeremy) pemilik tubuh subur yang heboh saat menari, serta Uda Rumpi (Ade) si lelaki gemulai yang kerap kena bully pendekar Meringgih.

Kisah ini ditutup adegan pernikahan surgawi Samsul Bahri dan Siti Nurbaya setelah Samsul wafat di tangan Datuk Meringgih dan Meringgih tewas oleh Letnan van Sta, kolega Samsul. Cinta Siti Nurbaya dan Samsul Bahri tetap hidup setelah melawan kekuasaan, muslihat, kekejian, dan nasib. Dan di bawah restu semesta kini keduanya berjalan.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 123, 7-13 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s