Gangster New York dengan Cita Prancis

20140421_MajalahDetik_125_108 copy

Setelah dibebaskan dari penjara, Chris bergabung lagi dalam gangster. Adiknya yang polisi dihadapkan pada pilihan sulit ketika Chris-lah yang ada di ujung moncong senjatanya.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Blood Ties

Genre: Crime | Drama | Thriller

Sutradara: Guillaume Canet

Skenario: Guillaume Canet, James Gray

Produksi: Roadside Attractions

Pemain: Clive Owen, Marion Cotillard, Billy Crudup, James Caan, Lily Taylor

Durasi: 2 jam 7 menit

“Hei, kau digaji bukan untuk ngobrol! Berhenti kerja saja kalau mau ngobrol!”

Pemilik bengkel meneriaki Chris (Clive Owen), 50 tahun, karyawan barunya. Ada kawan lama, Mike (Domenick Lombardozzi), yang datang ke bengkel dan tak menyangka bertemu Chris di sini. Memenuhi “permintaan” si bos, dia pun meninggalkan bengkel, pergi bersama Mike.

Baru beberapa hari Chris bekerja di bengkel mobil ini. Sebelumnya dia menghabiskan sembilan tahun di penjara karena kasus pembunuhan. Adiknya, Frank (Billy Crudup) yang mencarikan pekerjaan ini, menyediakan rumahnya untuk ditumpangi Chris, dan mengantarnya menemui dua anaknya di apartemen Monica (Marion Cotillard), mantan istrinya.

Hubungan abang-adik ini tidak pernah akur sejak mereka kecil. Chris kecil pernah jadi maling di sebuah rumah yang penghuninya sedang pergi, dan Frank yang melaporkan abangnya itu ke polisi. Bertahun-tahun kemudian, Chris jadi penjahat, Frank jadi polisi NYPD yang berprestasi. Selama Chris di penjara, tak sekalipun Frank menjenguk. Sekarang setelah Chris bebas pun, Frank masih belum yakin abangnya bakal hidup lurus.

Yang bahagia atas kembalinya Chris adalah ayahnya yang sakit-sakitan, Leon (James Caan), dan adik perempuannya, Marie (Lili Taylor). Mereka bisa berkumpul lagi merayakan Thanksgiving di bawah satu atap. Selama bertahun-tahun Leon seorang diri membesarkan tiga anaknya setelah menceraikan istrinya, pecandu narkoba yang gemar memukul anak-anak.

Chris kembali lagi ke dunia lamanya, jadi anggota gangster, dengan tugas utama mencuri dan dan membunuh. Sejauh ini aksinya aman dari endusan polisi. Penghasilannya berkali-kali lipat dibanding sebagai karyawan bengkel. Dia dapat membayar “utang-utangnya” pada Monica yang, selama Chris di penjara, membesarkan dua anak mereka sendirian sebagai PSK jalanan.

Chris mengubah sebuah rumah sewaan jadi rumah bordil yang dikelola Monica agar ibu dari anak-anaknya itu tidak gentayangan di jalan lagi. Chris juga menyiapkan pernikahan dengann Natalie, perempuan yang dia kenal dulu di bengkel.

Sementara itu Frank punya masalah pribadi dengan Vanessa (Zoe Saldana), mantan pacar yang sekarang sudah menikah dengan Valenti (John Ventimiglia) dan punya seorang putri. Frank baru saja menangkap Valenti karena kasus pencurian mobil. Ternyata Frank masih mencintai Vanessa dan ingin kembali.

Perampokan dan pembunuhan susul menyusul dilakukan Chris dan kawanannya. NYPD mulai curiga keterlibatan Chris, namun jawaban penentu ada di Frank yang pernah berhadapan dengan salah satu pelakunya setelah aksi perampokan sebuah bank. Akankah Frank menyebut bahwa pelaku yang berhadapan dengannya itu Chris?

Blood Ties yang berlatar belakang Brooklyn 1974 adalah remake dari Rivals, film Prancis 2008. Tak ada hal original yang disodorkan versi Hollywood ini. Namun salah satu bintang Rivals, Guillaume Canet, jadi sutradara dan ikut menulis skenario Blood Ties, dan dia memberi perspektif unik pada cerita tentang persaudaraan dua laki-laki.

Memang ada yang menyebut film Amerika lebih menekankan pada struktur cerita, sementara film Eropa pada karakter. Canet yang orang Eropa, membuat film ini dengan pendekatan teori yang terakhir. Dia membiarkan ceritanya bergerak alami di seputar para protagonis, dibanding membiarkan protagonisnya memaksakan plot. Siapa mereka lebih penting dibanding apa yang mereka lakukan.

Itu sebabnya ketika ketika seorang Prancis membuat thriller tentang polisi Amerika, hasilnya jadi lain dibanding ketika cerita ini digarap sutradara Amerika karena dia mengambil napas sinema Prancis. Kita bisa jumpai passion dan konflik di tiap karakter, ketatnya pada formula, serta upaya mempertahankan karakternya yang berapi-api, sehingga membentuk bobot kontemplasi ketika mereka satu demi satu “hancur”.

Blood Ties memberi ruang bernapas yang cukup, yang memungkinan tiap-tiap karakter mendapat latar belakang yang memadai, punya drama sendiri, dan mendapat momen-momen cemerlang. Ceritanya berjalan natural, dan baru pada akhir film kita menyadari apa yang sedang dibangun sepanjang film ini.

Canet cermat terhadap detail, hingga ke detail apartemen mungil atau ruang kantor yang penuh asap, serta menggunakan banyak musik rock keren tahun 70-an untuk membangkitkan mood.

Di antara semua karakter, Monica-lah yang paling menonjol, dimainkan secara mengesankan oleh Marion Cotillard. Adegan Cotillard mengelola rumah bordilnya mengingatkan kita pada Casino (1995). Mirip Mystic River (2003) hanya saja tanpa narasi sentimental Clint Eastwood. Film ini lebih dingin, lebih lambat, lebih gelap, dan lebih natural, dan tak heran butuh proses lama hingga klimaks.

Canet jelas berkembang sebagai sutradara ketimbang sebagai pemain, dan dia beruntung bekerja dengan orang-orang berbakat seperti Clive Owen, Billy Crudup, dan tentu saja Marion Cotillard.

***

 Dimuat di Majalah Detik edisi 125, 21-27 April 2014

1 Comment

  1. film-film marion cotillard yang bagus menurut saya:
    Les Petits Mouchoirs (2010)
    La Vie en Rose (2007)
    Jeux d’Enfants (2003)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s