Yang Terbaik dari Nicolas Cage

126 joe

Seorang remaja menemukan sosok ayah di diri Joe, laki-laki paruh baya yang berjuang dengan masa lalunya. Sementara konflik di desa tempat mereka tinggal makin menyeret Joe ke arah yang tidak dia inginkan.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Joe
Genre: Drama
Sutradara: David Gordon Green
Skenario: Gary Hawkins
Produksi: Roadside Attractions
Pemain: Nicolas Cage, Tye Sheridan, Gary Poulter
Durasi: 1 jam 56 menit

Serombongan laki-laki masuk hutan di pinggiran Texas. Masing-masing memanggul jeriken di punggungnya dan menggenggam benda mirip palu di tangannya. Ada selang yang menghubungkan jeriken ke ujung pegangan palu.

“Nah pukulkan yang keras. Harus keras supaya bisa masuk ke pohon,” seorang mandor memberi instruksi pada Gary (Tye Sheridan), remaja 16 tahun yang jadi pekerja baru.

Gary memompa jeriken menggunakan tuas di atas pundaknya. Cairan, yang tak lain racun, mengalir dari jeriken ke ujung palu yang punya “duri-duri” runcing berlubang. Dia pukulkan ujung palu ke pohon hingga duri-durinya menancap dan cairan yang keluar dari duri itu menyerap masuk ke dalam pohon.

Baru tadi Gary datang ke Joe (Nicolas Cage), pemimpin rombongan, ketika para pekerja ini beristirahat. Gary minta pekerjaan untuk dia dan ayahnya yang sudah tua dan pengangguran, pekerjaan apa saja.

Joe pemilik usaha mematikan pohon-pohon di hutan dengan cara menyuntikkan racun. Setelah pohon-pohon mati, perusahaan kayu akan masuk dan membelinya dengan harga murah karena yang dibeli pohon mati. Ya, pekerjaan Joe ini sebetulnya ilegal, hasil main mata dengan pihak yang sudah lama mengincar sebidang lahan tapi maunya beli dengan harga sangat murah.

Pekerjaan ini butuh banyak tenaga agar cepat selesai. Karena itu Joe menerima Gary tanpa banyak tanya. Joe suka dengan kerja pegawai barunya, Gary. Pekerjaan dia selesaikan cepat dan benar.

Sebaliknya dengan ayah Gary, Wade (Gary Poulter), yang kerap kedapatan sedang duduk-duduk saja di saat orang lain bekerja. Belum lagi dia sering tanpa izin dan tanpa merasa bersalah meminum persediaan air minum pekerja lain. Hanya sehari Wade bekerja. Setelahnya, Joe tidak lagi butuh tenaganya.

Joe baru paham kondisi sebenarnya keluarga Gary ketika dia mengantar remaja ini pulang. Gary ternyata satu-satunya anggota keluarga yang “sehat”. Wade pemabuk, suka memukul, dan tak jarang meminta uang hasil keringat putranya. Ibunya teler sepanjang waktu dengan selinting ganja di tangan. Kakak perempuannya tidak bisa bicara, atau lebih tepatnya, seumur hidup Gary tidak pernah mendengar kakaknya bicara.

Segera Joe jadi figur ayah bagi Gary. Tentu ini tidak menyenangkan Wade. Selain posisinya digantikan, setoran untuknya berkurang. Wade lalu bersiasat dengan Willie-Russel (Ronnie Gene Blevins), orang yang pernah terlibat perkelahian dengan Joe di sebuah pub, untuk menyingkirkan Joe.

Joe, yang merupakan adaptasi novel karya Larry Brown, adalah cerita tentang persahabatan, kekerasan, dan pembalasan dendam. Film ini mendapat pujian karena kekuatan dan kedalaman ceritanya yang mengharukan serta mendasarkan pada kekuatan karakter-karakternya. Alurnya yang lambat memberi kesempatan bagi para aktor menunjukkan kemampuan mereka.

Di atas semua itu, Joe mengembalikan Nicolas Cage pada akar indie-nya melalui karakter Joe Ransom yang dibawakannya dengan sangat baik: laki-laki paruh baya yang berupaya mengalahkan dirinya sendiri. Joe yang pemarah dan peminum sekaligus berhati lembut itu nampak berusaha lari dari masa lalunya.

Sudah terlalu lama Cage memerankan karakter-karakter dangkal, seperti di Bangkok Dangerous (2008) atau Trespass (2011). Penonton bahkan hampir lupa aktor ini berbakat. Setelah menonton aktingnya di Joe, tak heran jika muncul perkiraan Cage akan jadi McConaughey berikutnya yang berhasil masuk ke jajaran aktor A-list setelah bertahun-tahun duduk di golongan yang “tonton-DVD-nya-saja”.

Tye Sheridan memerankan remaja yang mencari sosok ayah dan dia menemukan mentor itu di Joe. Sheridan pernah memerankan peran serupa di Mud (2012), dan agar tidak terulang yang ketiga kali, sepertinya Sheridan musti mulai menjauh dari peran tipikal orang kalah begini.

Penampilan paling otentik diberikan Gary Poulter sebagai Wade. Poulter adalah gelandangan yang direkrut casting director. Dia tidak pernah berakting sebelumnya, tapi penampilannya luar biasa memerankan seorang pemabuk yang egois. Semestinya karakter Wade jadi jembatan bagi Poulter menapak karier sebagai aktor, tapi rencana Sang Maha-sutradara lain lagi. Poulter meninggal pada Februari 2013 dalam usia 53 tahun, tenggelam di danau usai pesta minum, tak lama setelah film rampung.

Untuk Poulter-lah Joe diperuntukkan. Intensitasnya cocok dengan intensitas Cage. Penokohannya yang nyaris nyata itu menyuguhkan sebuah realisme sejati cinema yang secara apik kadang membungkam kebintangan Cage.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 126, 28 April – 4 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s