Spider-Man: Sekuel yang Menyengat

spidey

Manusia-manusia mutan jadi musuh terbaru Spider-Man. Hubungan asmaranya dengan Gwen pun makin rumit.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Amazing Spider-Man 2

Genre:  Action | Adventure | Fantasy

Sutradara: Marc Webb

Skenario: Alex Kurtzman, Roberto Orci

Distributor: Columbia

Pemain: Andrew Garfield, Emma Stone, Jamie Foxx

Durasi: 2 jam 22 menit

Ada gangguan listrik di perusahaan raksasa bioengineering, OsCorp, tepat jam bubar kantor. Max Dillon (Jamie Foxx), satu-satunya teknisi yang tidak setergesa-gesa koleganya menyerbu lift, jadi orang yang ditugaskan mengecek sumber kerusakan.

Sebenarnya ini bukan lagi tugasnya karena jam kerjanya sudah selesai. Tapi demikianlah Max, teknisi jujur dan lugu, rajin, tapi tidak pernah dianggap oleh penyelianya yang angkuh.

Max kini memanjat tiang-tiang di ruang kendali yang minim pengaman. Satu kesalahan dia temukan, yakni adanya kabel yang terputus. Namun ketika sedikit lagi pekerjaannya selesai, pria ini terpeleset, jatuh dari ketinggian, tercebur ke dalam akuarium berisi belut listrik.

Segera Max jadi sasaran serbuan belut listrik dan berkali-kali terkena sengatan listrik ribuat watt. Hidupnya berakhir di kamar mayat.

Max adalah pengagum berat Spider-Man. Dia pernah diselamatkan superhero itu saat nyaris ditabrak truk. “Kenapa kau selamatkan aku?” Max, yang masih tak percaya pada kejadian barusan, bertanya pada Spider-Man. “Karena kau orang penting. Aku akan membutuhkanmu.”

Tengah malam, ketika semua lampu di kamar mayat dimatikan, jenazah Max di atas brankar bergetar hebat, membuat lumpur kering yang membungkus tubuhnya rontok. Max yang sudah dinyatakan tewas itu ternyata masih hidup dan malah kini bermutasi jadi manusia listrik, Electro.

Electro mendapat kekuatan dengan menyedot listrik seantero kota, sehingga kehadirannya bisa menggelapkan New York City. Kekuatan maha dahsyatnya didorong kemarahan yang dia sendiri tak tahu dari mana asalnya. Max yang dulu mengagumi Spider-Man, kini berbalik jadi musuhnya.

Sementara itu, Peter Parker/ Spider-Man (Andrew Garfield) yang sedang beradaptasi dengan kehidupan kampus, makin galau dengan kehidupan asmaranya. Dia tidak ingin menempatkan kekasihnya, Gwen Stacy (Emma Stone), dalam bahaya, sesuai pesan mendiang ayah Emma sebelum meninggal. Padahal tanggung jawab Peter sebagai Spider-Man selalu menyerempet bahaya.

Misi Spider-Man kali ini tak kurang berbahayanya. Dia menghadapi perusahaan raksasa OsCorp. Bos barunya, Harry Osborn (Dane DeHaan), tak lain teman sekolah Peter dulu. Harry baru saja mewarisi perusahaan ini dari ayahnya yang meninggal akibat penyakit genetis.

Penyakit itu sekarang juga mulai dirasakan Harry. Dia terobsesi mencari satu-satunya penawar penyakitnya, yakni darah Spider-Man. Harry lalu bekerja sama dengan Max.

Sejak Spider-Man masih dalam bentuk komik, penggemarnya sudah sangat tahu pertempuran paling besar Spider-Man adalah dengan dirinya sendiri. Pertempurannya abadi antara kewajiban sebagai Peter Parker yang warga negara biasa dan tanggung jawab yang tidak biasa sebagai Spider-Man.

Namun dalam The Amazing Spider-Man 2, Peter Parker menemukan konflik yang lebih besar. Dia terpaksa berhadapan dengan musuh yang lebih kuat darinya, Electro, yang sebelumnya adalah pengagum berat Spider-Man. Di lapis berikutnya, musuh Spider-Man tak lain kawan lamanya saat sekolah, Harry Osborn. Keduanya berpangkal dari satu hal, yakni OsCorp, perusahaan yang di basement-nya menyimpan banyak mutan hasil olah genetika.

The Amazing Spider-Man 2 adalah reboot kedua sutradara Marc Webb setelah The Amazing Spider-Man (2012). Dia menerapkan siasat jitu, dan terbilang berhasil, menghadirkan chemistry antara Andrew Garfield dan Emma Stone tanpa perlu berpayah-payah. Keduanya adalah pasangan kekasih di luar layar sejak tiga tahun terakhir. Tak beda dengan Tobey Maguire dan Kirsten Dunst yang sempat berpacaran saat membintangi Spider-Man 2 (2004) yang disutradarai Sam Raimi.

Selebihnya, film superhero berbujet besar (lebih dari US$ 200 juta) ini terasa berpanjang-panjang dengan drama percintaan Peter dan Gwen dan kurang bobot actionnya. Alhasil banyak adegan action yang lewat saja dengan hambar. Yang long-shot kurang menggigit, yang close-up tidak jelas apa maksudnya.

Namun demikian penampilan juara Sally Field sebagai Bibi May dapat mengimbangi segala kekecewaan tadi. Kita bisa temui adegan-adegan emosional bibi, yang sekarang menjanda, dengan keponakan tersayangnya. Ambil contoh dialog berikut saat keduanya berebut mesin cuci:

“Aku saja yang mencuci pakaian. Sejak kau kecil juga aku yang mencuci pakaianmu.”

“Tolong, Bibi, aku sudah besar. Biarkan aku yang mencuci pakaian dalamku.”

“Aku saja. Terakhir kau mencuci, semua pakaian luntur jadi biru dan merah.”

Juga Foxx kali ini lebih meyakinkan sebagai penjahat ketimbang jadi ilmuwan. Emma Stone memancarkan pesona yang manis meski lumayan sulit menerima karakternya sebagai pelajar SMA (usianya 25 tahun, sedangkan Garfield 30). Andrew Garfield berhasil menghadirkan paduan unik kecerdasan dan kecerobohan pada sosok Peter Parker.

Sosok sensitif Peter Parker memang perekat yang pas dengan karakter lain. Dalam adegan-adegan romantisnya dengan Gwen, sejenak kita dibuat lupa bahwa ini film action semua umur, bukan film komedi-romantis. Semoga tak lama lagi ada yang membuatkan genre komedi-romantis untuk keduanya.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 127, 5-11 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s