Yassalaam, Masa Saya Jadi Kolektor?

20140803_205013
Sengaja disusun saling menutupi dan sengaja sebagian besar dibungkus dust-bag 😀
 
Kaget juga begitu dikumpulin dapat segini banyak.
 
Saya bukan kolektor tas. Setidaknya itulah yang selama ini saya yakini. Beli tas kapan perlu saja, misalnya tas yang lama sudah dedel-dowel, sudah jebol. Buluk doang mah ngga masuk hitungan musti diafkirkan, tetap pakai terus.
 
Libur Lebaran kali ini, sambil siaga 1 menunggu tamu dadakan datang, saya turunkan tas-tas saya yang berbahan kulit asli (genuine leather) untuk dibersihkan. Kain pelapis dalamnya disemprot pembersih, dilap, lalu tas dalam kondisi kain pelapis dikeluarkan itu dijemur di tempat terlindung hingga kain pelapisnya kering.
 
Prosesnya dilanjutkan dengan mengoleskan leather lotion ke bagian luar tas, digosok lembut agar kulit tas tidak kering sekaligus berfungsi membersihkan. Tas kemudian dibiarkan dalam keadaan tidak terbungkus selama semalam agar kering sempurna.
 
Tahap terakhir adalah mengganti silica gel di dalam tas, mengisi kertas/plastik sumpal agar bentuk tas tidak berubah, membungkusnya dengan dust-bag, memasukkan lagi silica gel ke dalam dust-bag, dan membungkusnya dengan plastik.
 
Butuh berhari-hari merampungkan tahap demi tahap tersebut. Itu sebabnya pekerjaan ini tidak mungkin dilakukan pada hari kerja. Untung saja tas garis-garis vertikal dan horisontal itu berbahan canvas, tinggal dicuci, beres.
 
Nah karena diturunkannya bersamaan, saya sempat kaget melihat tas-tas itu bisa memenuhi lantai kamar. Tidak mengira jadi segini banyak. Awalnya karena kenal satu merk yang ngga mahal-mahal amat, ngga murah juga. Bahannya kulit, modelnya klasik tapi ngga “tua”, bayarnya bisa pake program cicilan 0% selama 12 bulan pulak.

Namun kemudian saya menemukan pasar online untuk merk ini dengan harga di bawah harga toko, termasuk di dalamnya jual-beli preowned items. Jadilah saya ikut-ikutan beli dan jual di pasar itu. Tapi kalau melihat yang terhampar di foto ini, sepertinya banyakan belinya ya ketimbang jualnya. Ini pun masih nunggu tiga tas lagi yang sedang otw: satu hasil beli online, dua hasil nge-bid di ebay.
 
Selain satu merk yang saya suka itu, saya punya juga dua tas merk lain yang saya tunggu banget sale akhir tahunnya karena kalau harga normal wadawwww!!! Kulitnya tebal dan wangi kulitnya ngga hilang-hilang sudah dua tahun. Dua tas lain masing-masing dari merk berbeda, saya beli bekas di tokobagus (sekarang jadi olx).
 
Nahhh bagaimana dengan tas untuk aktivitas sehari-hari? Tas yang ngga mahal-mahal amat tapi ngga murah itu saya pakai cuman untuk merawanin. Sekali-dua kali pakai, terus disimpan. Selebihnya, saya tiap hari keliling kota naik turun bis pakai tas yang itu ke ituuuu aja, tas pak pos (messenger bag) buatan Jogja (deret terdepan, satu-satunya yang tidak dibungkus), yang sejak dibeli hampir tiga tahun lalu belum pernah dibersihkan dan dioles lotion.
 
Saya jadi menganaktirikan si tas pak pos ya? Hehehe maappp, Bray. Dikau nanti sekalian masuk laundry tas aja ya. Habis Lebaran ini masih akan dibawa keliling kota sampai saya memutuskan akan memakai tas lain. Setelah itu, kau akan dimandikan, di-spa, dan kau dapat menikmati masa istirahatmu.

2 Comments

  1. Wah. Tas ibu banyak juga ya.. boleh dong #edisiH2C dikirim ke saya 1 ato 2. Dengan senang hati saya menerimanya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s