Rumah Daswati

Rumah Daswati
Rumah Daswati

Oleh Silvia Galikano

 

Berada di Jl. Tulang Bawang No. 11, Enggal, Bandarlampung. Bangunan ini tidak terlihat dari jalan karena ditutup pagar seng. Sabtu siang, 30 Agustus 2014, kami datang ke sana tanpa tahu ini gedung apa. Gedung tua terbengkalai sudah cukup jadi alasan untuk mendatangi.

Pak Ijas
Pak Ijas

Di sana ada pak Ijas, 57 tahun, penjaga rumah. Sejak 2006, dia diminta pemilik untuk menghuni rumah ini, sekaligus mencegah orang-orang yang hendak mencuri kayu atau bata atau apa pun, bagian dari rumah.

Pak Ijas tidak memberi tahu nama pemilik sekarang, mungkin juga memang dia tidak tahu, kecuali “Orang Cina.”

Walau kotor, bahkan ada kandang ayam di dalam rumah, tapi keasliannya masih terjaga, kecuali pintu kamar depan yang diganti karena rusak. Service area (kamar mandi, WC, gudang, dapur) di belakang, terpisah dari rumah induk dan dihubungkan lorong, nyaris tak beratap. Pohon-pohon tumbuh rimbun di halaman depan dan samping.

Pak Ijas berprofesi sebagai pengumpul barang bekas. Gerobaknya diletakkan di halaman, bersama gerobak-gerobak bakso, sate, dan lainnya milik pedagang lain. Dua buah jam dinding dari plastik yang tergantung di dinding rumah, didapatnya saat bekerja. “Sayang kalau dibuang. Nggak rusak. Saya pasang saja di sini.”

Rumah ini adalah rumah bersejarah, tempat ditandatanganinya piagam pembentukan Provinsi Lampung, lepas dari Sumatera Selatan, tahun 1963. Lampung jadi Daerah Swatantra Tingkat (Daswati) I. Karenanya rumah ini dikenal dengan nama Rumah Daswati. Luas asalnya 70×20 meter, tapi pelebaran jalan menyebabkan luas tanah berkurang, jadi 68×20 meter.

Foto: lampungheritage.com
Foto: lampungheritage.com

Sepenuturan pak Ijas, pemilik awal rumah ini adalah Residen Lampung Haji Muhammad. Oleh putri H. Muhammad, yakni Hj. Fatimah, rumah ini dijual ke Achmad Ibrahim, seorang petinggi militer. Putra dari Achmad Ibrahim yang kemudian menjualnya ke seorang Tionghoa tadi.

Dalam pembentukan Provinsi Lampung, Achmad Ibrahim mendapat tugas dari Panitia Pembentukan Provinsi Lampung sebagai penghubung antara Pemprov Sumsel dan Pemerintah Pusat di Jakarta. Itu sebabnya jalan di depan rumah ini pernah bernama Jalan Kapten Achmad Ibrahim, mengacu ke pemilik rumah, sebelum akhirnya jadi Jalan Tulang Bawang.

Kata pak Ijas, pemilik sekarang sudah lama berniat menjual Rumah Daswati seharga Rp15 juta per meter, tapi karena terbentur aturan tidak boleh mengubah bentuk bangunan, calon pembeli mundur teratur. “Kalau dibiarkan, sudah jadi mall ini.”

Rumah Daswati juga pernah dikunjungi Pemprov Lampung. Dia pun sering mendengar wacana Pemprov-lah yang seharusnya membeli rumah ini. Kenyataannya, sampai sekarang, tidak ada tindak lanjutnya.

***

Tampak dari jalan, tertutup pagar seng.
Tampak dari jalan, tertutup pagar seng.
Depan-kiri rumah. Pohon rimbun hingga ke belakang.
Depan-kiri rumah. Pohon rimbun hingga ke belakang.
Belakang-samping kiri rumah.
Belakang-samping kiri rumah.
Dari pintu belakang ke dalam rumah.
Dari pintu belakang ke dalam rumah.
Kamar
Kamar
Ruang depan
Ruang depan
Dapur + kamar mandi + WC + gudang
Dapur + kamar mandi + WC + gudang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s